Cegah Penyebaran Covid-19, Bank NTB Syariah dan Mitra Bantu STP 200 Juta

oleh -14 views

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (13/4/2020)

Pencegahan penyebaran Covid-19 bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan semua pihak ikut berkonstribusi termasuk BUMN/BUMD. Hal inilah yang mendorong Bank NTB Syariah bersama mitra strategisnya yakni Askrida Syariah, Askrindo Syariah dan Jamkrindo Syariah, menggelontorkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) sebesar Rp 200 juta untuk membantu Sumbawa Technopark (STP). Bantuan CSR yang digunakan untuk penelitian Covid-19 ini diserahkan secara simbolis oleh perwakilan Bank NTB Syariah Cabang Sumbawa, Tiyah Suci Asfarina didampingi Fitra Ayati, langsung kepada Direktur STP, Dr. Arief Budi Witarto M.Eng, di Gedung Sumbawa Technopark, Senin (13/4).

Branch Manager Bank NTB Syariah Cabang Sumbawa, Dra. Hj. Nining Kurniati yang ditemui usai penyerahan CSR, mengatakan, bahwa bantuan tersebut sebagai bentuk kepedulian manajemen Bank NTB dan mitra strategis, untuk mendukung penelitian covid-19 khususnya di Kabupaten Sumbawa dan Pulau Sumbawa secara umum. Dengan dukungan dana penelitian ini, diharapkan akan memberikan dampak langsung kepada masyarakat terutama dalam hal pencegahan dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Direktur Sumbawa Technopark, Dr. Arief Budi Witarto M.Eng menyambut positif bantuan CSR dari Bank NTB Syariah dan mitra strategisnya. Dana CSR ini sangat membantu terutama dalam pengadaan bahan-bahan habis pakai dalam mendukung penelitian Covid-19. “Meski lab-nya lengkap dan orangnya ada, tanpa bahan habis pakai, maka penelitian tidak akan berjalan,” kata Doktor jebolan Tokyo, Jepang ini.

Baca Juga  Menarik Minat Baca Masyarakat, Arpusda Gelar Berbagai Lomba

Karena itu Ia menilai sangat bagus adanya kerjasama dan keterlibatan pihak perbankan terutama Bank NTB Syariah dalam membantu kelancaran dan kemudahan penelitian Covid di STP. Ini merupakan upaya bersama dalam membantu masyarakat tidak hanya di Kabupaten Sumbawa tapi juga kabupaten/kota lainnya di Pulau Sumbawa agar terhindar dari penularan Covid-19.

Lebih jauh Mantan Rektor Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) ini menyatakan, bahwa STP sangat siap melakukan penelitian Covid-19 ini. Selain memiliki laboratorium yang memenuhi syarat juga sumberdaya manusia yang ahli dan berpengalaman. Kebetulan saat ini tengah mewabah Corona Virus Desease 2019 (Covid-19). Pihaknya ingin terlibat dan ikut andil dalam percepatan penanganan dan pencegahan penyebaran virus yang sangat meresahkan penduduk dunia, termasuk masyarakat di Kabupaten Sumbawa. Apalagi STP satu-satunya di Pulau Sumbawa yang memiliki Lab sangat lengkap. Sejauh ini Pemda Sumbawa telah memberikan dukungan dengan dibuatkannya SK dan memasukkan STP menjadi bagian dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Sumbawa. Tak hanya itu STP juga menjalin kerjasama dengan Rumah Sakit HL Manambai Abdulkadir (RSMA)—salah satu rumah sakit yang menjadi rujukan perawatan pasien Covid, untuk penelitian dan pemeriksaan. “Kami punya dua orang tenaga ahli untuk pemeriksaannya, ditambah dengan satu orang dokter spesialis dari RSMA untuk mengambil sampel swabnya,” kata Doktor Arif.

Selama ini pemeriksaan swab hanya difokuskan untuk pasien yang sakit. Karena itu STP memiliki inovasi dengan membuat box swab yang diarahkan untuk pemeriksaan atau pengambilan sampel swab bagi ODP (Orang Dalam Pemeriksaan) dan OTG (Orang Tanpa Gejala). Box Swab ini seukuran ruang telepon umum. Box ini juga portabel bisa dibawa kemana-mana termasuk ke wilayah kecamatan. Secara tekhnis, petugas nanti masuk ke dalam box, lalu mengambil swab dari orang yang perlu dites. Petugas kesehatan yang berada di dalam box tidak perlu memakai APD lengkap meski hanya cukup mengenakan masker. Dari pemeriksaan ini, bisa diperoleh gambaran yang kongkrit seberapa jauh penyebaran Covid-19 di Sumbawa. Hasilnya juga sangat cepat, paling lama dibutuhkan waktu sehari. “Sehari bisa keluar hasilnya. Kalau periksa di Jakarta bisa sampai 7 hari bahkan lebih. Ini cukup lama, orangnya sudah menularkan atau yang sakit sudah meninggal dunia, hasilnya baru keluar, sehingga upaya pencegahan menjadi lambat,” pungkasnya. (JEN/SR)

iklan bapenda