Home / Kesehatan / SELAMAT MENJALANI PHYSICAL DISTANCING, SELAMAT BERMUHASABAH

SELAMAT MENJALANI PHYSICAL DISTANCING, SELAMAT BERMUHASABAH

Oleh : Donny Wijaya (Staff Pengajar FISIPOL UNSA)

Dunia kini geger diteror wabah bernama Covid 19 (Virus Corona). Virus yang lahir kembali dari dataran Wuhan China ini sudah menjangkiti 662.073 orang (29-03-2020), dengan angka kematian sebanyak 30.780 di seluruh dunia. Di Indonesia terdapat 1.155 kasus dengan 102 orang meninggal dunia (data 28-03-2020), jumlah ini diperkirakan bertambah setiap harinya mengingat penularan virus ini sangat dahsyat. Pandemi Covid 19 melumpuhkan tatanan sosial, politik, dan ekonomi dunia. Amerika serikat yang dikenal sebagai  negara adikuasa pun terpaksa mengucurkan dana stimulus sebesar US$2

triliun demi menyelamatkan perekonomian yang terpukul karena Corona (http/:cnnindonesia.com). Di Indonesia Corona ikut ambil andil dalam defisit APBN yang melebar 2,2 hingga 2,5% dari target yang ditetapkan sebesar 1,76% (http/:wartaekonomi.co.id) senada dengan kurs dolar terhadap rupiah yang berada di angka 16.000-an. Karenanya, pemerintah terus berupaya untuk menekan laju penularan Virus dengan berbagai kebijakan. Lewat Physical Distancing pemerintah menghimbau masyarakat harus menjaga jarak satu sama lain, dengan bekerja, belajar dan beribadah dari rumah. Namun upaya ini dalam prakteknya masih belum sepenuhnya di indahkan utamanya di Kabupaten Sumbawa, sebab dalam beberapa kesempatan masyarakat masih menggelar upacara-upacara adat seperti resepsi pernikahan dan Tauziah. Tak heran jika angka suspect Corona dari hari ke hari kian meningkat. Di NTB sendiri, pasien Covid 19 yang berstatus ODP sebanyak 759 orang, dengan PDP sebanyak 42 orang, dan positif sebanyak 2 orang (http/:corona.ntbprov.go.id)

Corona Tanggung Jawab siapa?

Banyak spekulasi yang beredar terkait Virus Covid 19 ini, misalnya pernyataan departemen luar negeri Amerika yang memvonis bahwa virus Corona adalah senjata biologis China yang bocor dari laboratorium Wuhan, bak gayung bersambut Kemenlu China  mencurigai militer Amerika lah yang membawa virus mematikan itu ke Wuhan. Namun, sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk memperdebatkan itu semua. Lebih baik menyalakan lilin ketimbang mengutuk kegelapan, ungkapan tersebut sangat tepat ditengah wabah Covid 19 yang mendera dunia hari ini. Sementara itu, Tenaga medis kita yang berada di Garda terdepan penanganan Corona kian meradang karena menjalani misi bunuh diri. Jumlah pasien Corona yang terus bertambah mengharuskan mereka untuk bekerja lebih keras lagi, sedang fasilitas pendukung seperti APD masih belum cukup. Minggu lalu 6 orang dokter meninggal dalam sepekan karena urus Corona sementara di Jakarta 61 tenaga medis positif. Bayangkan jika negara besar seperti Italia yang notabene memiliki fasilitas kesehatan yang jauh lebih baik dari Indonesia saja sangat kewalahan,lantas masihkah kita bermain-main dengan Covid 19 ini?

Maka dalam upaya pencegahan dan penanggulangan Corona seyogianya semua elemen dalam bangsa ini haruslah berperan aktif. Misalnya, Pemerintah mengeluarkan kebijakan, Tenaga medis merawat pasien, MUI mengeluarkan Fatwa dan masyarakat patuh pada himbauan pemerintah, tenaga medis dan MUI untuk diam dirumah saja. Sebab jika tanggung jawab atas Corona hanya dilimpahkan kepada tenaga medis atau pemerintah, mustahil lonjakan angka Covid 19 bisa ditekan. Ingat, bangsa ini di dirikan dengan semangat gotong royong. para pendiri bangsa turun tangan memperjuangkan kemerdekaan, semua  bergotong royong sesuai kemampuan. Ada yang urun nyawa, ada yang urun harta, dan adapula yang urun pengetahuan. Covid 19 adalah persoalan bangsa, Covid 19 adalah persoalan kemanusiaan. Kini, tugas menyelematkan bangsa, tugas menyelematkan manusia Indonesia kembali memanggil. Lekas lakukan semampunya saja, dengan cukup berdiam dirumah.

Physical distancing, waktunya muhasabah diri Kontemplasi dalam filsafat diartikan sebagai kegiatan perenungan, memandang dengan hati serta ketenangan pikiran. Dalam Islam istilah kontemplasi memiliki kedekatan makna dengan “Muhasabah”. Maka pasca muhasabah diri kualitas indivu sepatutnya mengalami peningkatan. Physical distancing haruslah menjadi ajang muhasabah diri. Secara teologis, segala sesuatu yang terjadi di dunia ini karena kehendak Tuhan, karena nya pastilah ada sebabnya Tuhan menghendaki segala sesuatu tersebut terjadi(akibat). Demikian pula wabah Covid 19, bisa jadi ia adalah buah dari kehidupan manusia modern yang mengeksploitasi alam dengan serakah dan merusak lingkungan. Bisa jadi yang dikatakan Budayawan Toto Rahardjo benar adanya “umat manusia adalah hama sesungguhnya di planet ini, Covid 19 lantas menjadi anti virus atas keserakahan kita”. Hal tersebut diperkuat pernyataan NASA bahwa kualitas udara di  langit Italia dan China mengalami perbaikan karena berkurangnya polusi sejak diberlakukannya Lockdown. David Quammen (2012), penulis buku Spillover: Animal Infections and the Next Pandemic, meringkas siklus dan penyebab munculnya banyak penyakit: virus, bakteri, dan kuman, karena kehilangan tempat tinggal akibat hutan dan alam di invasi manusia untuk keperluan hidup maupun keserakahan. “Kita memotong pohon, memburu binatang, merenggut mereka dari habitatnya, bahkan menjualnya ke pasar untuk dimakan membuat virus kehilangan rumah alamiahnya,” ujarnya dalam New York Times. “Mereka mencari inang baru dan itu adalah tubuh manusia.”

Covid 19 adalah teror kematian, bisa jadi lebih dahsyat dari perang, bisa jadi lebih manusiawi. Bagaimana negara kita bayangkan akan mencegah teror bagi kematian publik? Satu persatu orang mulai ingkar, bahwa Izroil-lah yang paling legitimate hidup berdekatan dengan kematian. Satu persatu juga mulai ingkar, bahwa corona adalah malaikat itu sendiri yang bertugas mengambil jiwa dari selongsong rumahnya. Tak perlu menunggu virus baru untuk membuat kita sadar, bahwa manusia telah melukai alam dengan segala keserakahannya. Saatnya bermuhasabah dan mulai menghentikan produksi emisi atau mencari cara baru mengurangi lajunya, dengan keputusan politik yang mendukung inovasi yang lebih ramah terhadap alam. Tak hanya itu, setiap individu juga mesti mengubah gaya hidup, yang tak banyak menghasilkan emisi karbon. Saatnya kita lockdown keinginan dan hanya membuat aktivitas yang mencukupi kebutuhan, seminimal mungkin. Seperti kata Mahatma Gandhi: "Bumi cukup menyediakan kebutuhan kita, tapi tak akan sanggup memenuhi keserakahan manusia." Akhir kata semoga wabah ini cepat berlalu, selamat bermuhasabah. (*)

Lihat Juga

Jawab Polemik Biaya Rapid Test, Dirut RSUD: Jika Ada Bantuan Pemerintah Kami Gratiskan !

Penarikan Berdasarkan Peraturan Bupati Sumbawa Tahun 2014 SUMBAWA BESAR, samawarea.com (30/5/2020) Biaya pemeriksaan cepat (rapid ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *