Dampak Wabah Corona, Nilai Bantuan Program Sembako Dinaikkan

oleh -2 views

KERJASAMA SAMAWAREA DENGAN DINAS SOSIAL KABUPATEN SUMBAWA

SUMBAWA BESAR, SR (30/3/2020)

DPRD

Wabah Corona yang menyerang sejumlah daerah, tidak hanya mengganggu kesehatan, tapi sendi-sendi kehidupan ekonomi masyarakat. Kondisi ini sangat dirasakan oleh masyarakat rentan dan tidak mampu. Karena itu pemerintah harus hadir untuk membantu masyarakat. Salah satu program pemerintah yang sudah berjalan melalui Kementerian Sosial adalah Program Sembako. Program yang mulai berjalan sejak Januari 2020 ini sebenarnya perubahan dari BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai) atau sebelumnya bernama Raskin/ Rastra. “Kalau dulu masyarakat menerima beras secara langsung yang didistribusikan Bulog, maka sejak September 2019, melalui rekening masing-masing masyarakat bekerjasama dengan BRI,” kata Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sumbawa melalui Kepala Bidang Linjamsos, Mirajuddin ST, belum lama ini.

Untuk mendapatkan manfaat dari program ini, ungkap Raju—akrab pejabat ini disapa, masyarakat penerima yang tercatat berjumlah 33 ribu lebih, mendapatkan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS). Selanjutnya mereka bisa membawa kartu itu ke e-Warung (Warung Gotong Royong Elektronik) yang ditunjuk dari agen BRILink yang menjual sembako.

Disebutkan Raju, saat program itu bernama BPNT, penerima mendapat bantuan Rp 110 ribu yang ditukar dengan beras dan telur. Ini berlangsung sejak September hingga Desember 2019. Kemudian pada Januari 2020, BPNT dirubah menjadi Program Sembako dan terjadi kenaikan penerimaan dari 110 ribu menjadi Rp 150 ribu per bulan. Jenisnya juga berbeda dari sebelumnya beras dan telur, kini ada 4 jenis, yaitu karbohidrat (beras, jagung, ubi), protein hewani (telur, daging, ikan), protein nabati (kacang-kacangan, tahu, tempe) serta vitamin dan mineral (sayur dan buah-buahan). Penambahan bahan pangan ini sangat pas terutama bagi Kabupaten Sumbawa yang angka stuntingnya tinggi. Sebab program ini lebih diprioritaskan dalam rangka menurunkan angka stunting. “Makanya kami harapkan para pendamping untuk mendeteksi mana keluarga yang ada ibu hamil dan anak usia sampai 2 tahun, karena itu yang butuh asupan gizi. Kalau yang lain masih tetap diberikan beras dan telur, kalau ada ibu hamil dan anak usia 2 tahun, harus dikombinasi tidak hanya beras dan telur tapi ada sayur, buah dan lainnya,” bebernya.

Baca Juga  Buku Dakwah TGB Dilaunching, Wagub: Cocok dengan Keberagaman di Indonesia

Mengingat wabah Corona yang menyerang sejumlah daerah dan berdampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat, lanjut Raju, pemerintah menaikkan nilai bantuan dari Program Sembako ini dari Rp 150 ribu menjadi Rp 200 ribu per bulan. Kenaikan ini akan berlaku sejak Maret 2020 hingga 6 bulan ke depan atau Agustus 2020. Dari bantuan ini, jenis bahan pangannya tetap. “Kenaikan nilai bantuan ini untuk mengantisipasi kenaikan harga akibat Virus Corona. Dan masyarakat menerima bantuan itu paling lama tanggal 10 setiap bulannya,” jelas Raju.

Program ini akan diterus dievaluasi. Ketika pada Bulan Agustus nanti masih ada kenaikan bahan pangan, kemungkinan waktunya akan diperpanjang. Selain itu evaluasi juga untuk mengidentifikasi adanya masyarakat sudah mampu yang masih menerima bantuan tersebut. sebaliknya ada masyarakat tidak mampu justru tidak terakomodir. “Inilah yang kita verifikasi ulang. Yang namanya pemuktahiran data tidak akan berhenti terus berproses. Evaluasinya setiap 3 bulan. Dan untuk perubahan data ada mekanisme yang ditempuh yaitu melalui musyawarah desa (Musdes) atau musyawarah kelurahan (Muskel), tidak bisa dilakukan secara sepihak dengan menonaktifkan penerima yang sudah mampu oleh Ketua RT, RW, Kades dan lainnya. Di forum itulah diputuskan,” ujarnya, seaya menambahkan bahwa mereka yang mendapat bantuan social ini adalah yang nama atau datanya tercantum dalam Basis Data Terpadu atau Data Terpadu Kesejahteraan Social, karena menjadi syarat wajib dan utama serta tidak bisa ditawar-tawar. (JEN/SR)

 

DPRD DPRD