Cabuli Anak Dibawah Umur, Kuli Bangunan Terancam 15 Tahun Penjara

oleh -20 views

DENPASAR, SR (26/2/2020)

Pria berinisial MA (25) menjadi pesakitan karena mencabuli anak di bawah umur berinisial YED (13). Kuli bangunan ini terancam pidana penjara selama 15 tahun. Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ni Luh Wayan Adhi Antari menjerat terdakwa dengan Pasal 82 ayat (1) UU No.17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No.1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU No.23 Tahun 2002 ttg Perlindungan Anak jo Pasal 76E UU RI No.35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. “Terdakwa melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk korban untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul,” kata jaksa dalam dakwaan, Selasa (25/2/2020) di Pengadilan Negeri Denpasar.

DPRD

Dalam dakwaan diuraikan, aksi pencabulan berawal saat terdakwa mengirim WhatsApp kepada korban, Kamis (7/11/2019) sekitar pukul 02.00 WITA. Karena korban tidak membalas chattnya, terdakwa yang saat itu di bawah pengaruh alkohol lalu mendatangi kos korban di Jalan Kartika Plaza Gang Pudak Sari No.C7 Kuta, Badung. Terdakwa lalu masuk ke kamar korban yang saat itu pintunya terbuka. Di dalam kamar terdakwa melihat korban sedang tidur bersama ibunya yakni saksi TM.

Pria asal Grobogan, Puwodadi, Jawa Tengah ini lalu diam-diam mendekati korban dan mencium bibirnya. Tak cukup di sana, terdakwa menaikkan baju kaos yang dipakai korban serta meraba payudara korban. “Padahal saat itu korban masih berusia 12 tahun 3 bulan sesuai dengan kutipan akta kelahiran,” beber jaksa.

Baca Juga  Anggota Polisi dan Wartawan di Dompu Meninggal Dunia, Kapolres Ucapkan Dukacita

Aksi bejat terdakwa diketahui oleh saksi TM yang langsung berteriak. Teriakan ibu korban membuat terdakwa langsung kabur meninggalkan kamar. Berdasarkan pemeriksaan terhadap korban sesuai Visum Et Repertum No. YR.02.03/XIV.4.4.7/673/2019 tanggal 11 Nopember 2019 yang dibuat dan ditandatangani oleh dr. Dudut Rustyadi, Sp.FM (K), SH, dokter Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, dalam kesimpulannya menyatakan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan dan tidak ditemukan tanda-tanda persetubuhan pada korban. “Akibat perbuatan terdakwa, korban YED merasa ketakutan,” terang jaksa Kejari Denpasar ini. (SR)

DPRD DPRD