LPPM UTS Dampingi BUMDes untuk Gerakan Kelorisasi

oleh -7 views

SUMBAWA BESAR, SR (9/2/2020)

Pendampingan BUMDes dalam meningkatkan pemanfaatan sumber daya lokal masing-masing desa adalah salah satu Program Akselerasi Pembangunan Desa yang diterapkan LPPM Universitas Teknologi Sumbawa (UTS). Karena kunci kemajuan desa bukanlah berasal dari program yang diadakan unsur luar, tetapi harus dinisiasi unsur di dalam desanya sendiri. Sehingga keberlanjutan, dan daya tahannya akan lebih menunjukkan geliat progress yang baik. Demikian diungkapkan Ketua LPPM UTS, Khotibul Umam, Sabtu (8/2).

Sebagai fasilitator, kata Umam—sapaan akrabnya, LPPM UTS akan memberikan arahan, pendampingan dan dukungan dari sisi keilmuannya. Dalam pekan ini, LPPM telah mengirimkan para dosen UTS yang expert di bidangnya masing-masing untuk pendampingan desa. Salah satu fokus pendampingan yakni gerakan kelor, dari mulai proses tanam, panen hingga pengolahan. Pendampingan yang sudah berjalan saat ini misalnya pendampingan untuk kelompok PWRI (komunitas pensiunan) yang sangat aktif dan memiliki minat yang tinggi pada tanaman kelor. Menurut ketua PWRI, kelor ini tanaman yang erat dengan masyarakat tapi baru mengetahui manfaat dan nilai ekonominya dari pendampingan oleh tim UTS. Selain itu, BUMDes Kerekeh Kecamatan Unter Iwis yang memang sudah memulai program pemanfaatan kelor dengan menjadikannya produk seperti teh dan jajanan kelor pun berkomunikasi dengan LPPM UTS untuk pendampingannya. Kegiatan pendampingan BUMDes ini juga berkat kerjasama dengan BMT Insan Samawa, yang dimotori Rai Dkk. “Harapan kita  bersama BUMDes atau UMKM yang fokus di kelor bisa masuk ke pasar internasional agar ada dampak nyata dari potensi kelor kita di Sumbawa yang kembali ke kita untuk kesejahteraan masyarakat Samawa. Sehingga proses kelorisasi ini perlu kita support dari BMT untuk akses dana-dana investor dan tim UTS untuk mutu dan standarisasinya,” jelas Umam. Sebagai SDM yang terlibat langsung dalam pendampingan ini, lanjut Umam, Tim UTS akan menyiapkan proses dan pendampingan ke arah hilirasasi tanaman kelor yang melimpah di Sumbawa. “Kita punya tanah yang bagus, kelor yang subur dan lahan yang luas, tinggal bagaimana caranya masyarakat bisa menjadikan kelor sebagai tanaman utama di lahan bukan hanya sebagai pembatas atau pagar lahan saja. Pasar dunia sangat suka dengan kualitas kelor kita, kami mengajak sinergi semua elemen baik swasta maupun pemerintah untuk menjadikan kelor sebagai aset daerah,” bebernya, seraya menyatakan bahwa proses tersebut memerlukan waktu, energi dan investasi yang tidak sedikit, namun dengan kerjasama semua sektor, maka perlahan kelor bisa menjadi produk unggulan di wilayah Sumbawa. (SR)

iklan bapenda
Baca Juga  RSUD Sumbawa Terima Korban Gempa, 2 Meninggal 2 Patah Tulang