POLITIK NILAI, SEBUAH KENISCAYAAN

oleh -12 views

Oleh: Ubaidullah (Staf Pengajar UNSA dan Ketua Umum PW PDRI NTB)

OPINI, SR (8 Pebruari 2020)

“Jadikan politik sebagai instrument pemersatu dalam sebuah kontestasi untuk merebut singgasana kekuasaan. Jadikan politik sebagai show yang bermuatan rasa teduh dan syahdu, sehingga aroma rasa riang gembira berseleweran dalam setiap gelanggang kehidupan bersama. Ketika nuansa ini mampu dijadikan reflika dalam sebuah kontestasi, maka nilai sebagai sebuah kehormatan diri dapat terpatri dalam segala aspek kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara” (penulis)

Hiruk pikuk pemilihan kepala daerah (pemilihan bupati/wakil bupati) khususnya di Sumbawa semakin terlihat dan terasa asik, menarik, juga genit. Teka teki siapa dan dengan siapa akan berpasangan nampaknya masih abu-abu. Tarik ulur dan lobi-lobi politik terus dilakukan oleh para elit partai. Dengan berbagai cara agar hasrat dan cita-cita politiknya dapat tercapai. Semakin hari semakin membuat masyarakat penasaran akan siapa yang maju masuk gelanggang pertempuran. Dinamika ini menjadikan nuansa Sumbawa terasa berbeda dari sebelumnya. Bisa terlihat dari polarisasi yang terjadi di tingkat grassroots sampai dengan tingkat elit. Hal ini menandakan dinamika politik mulai terasa. Yang menarik dari kondisi ini adalah munyeruaknya stigma yang tadinya kawan sekarang menjadi lawan, tadinya saling sayang, sekarang saling benci. Ini tidak bisa dipungkiri dalam sebuah arena perpolitikan, karena menyangkut kepentingan. Demi kepentingan sesaat terkadang nilai dalam diri seseorang, kelompok, dan masyarakat tergadaikan. Situasi ini memungkinkan keutuhan dan keharmonisan masyarakat runtuh dan berpecah belah, sehingga muatan rasa kekeluargaan dalam masyarakat hilang.

Pilkada tentu tidak bisa lepas dari adanya gesekan, karena sudah menjadi biasa dalam sebuah kompetisi politik. Tapi, gesekan yang lahir penuh nilai. Nilai yang menjunjung tinggi harkat dan martabat orang lain. Bukan sebaliknya, gesekan penuh intrik meruntuhkan harkat dan martabat orang lain yang pada prinsipnya itu adalah nilai sebagai pangkal dalam diri setiap insan. Pilkada sebuah proses siyasah tersebut bagaimana kita menumbuhkan semangat masyarakat untuk belajar mengelolah diri, kelompok, keluarga, daerah, dan bangsa ini dengan baik. Pilkada ini adalah suatu proses politik yang bertujuan mendapatkan kekuasaan di suatu daerah. Pilkada ajang bagi masyarakat memilih pemimpin untuk menjadi pelayan bagi mereka. Tentunya, proses politik ini penuh intrik untuk menjatuhkan lawan, demi merebut kekuasaan. Mungkin, kita perlu memahami arti dari frase politik.

Baca Juga  Pesona Kramat Hilangkan Keresahan di Laut   

Pertanyaanya kemudian adalah apa sih politik nilai itu? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tentu kita harus memahami kembali defenisi operasional terkait dengan frase politik dan nilai. Ada banyak perspektif terkait dengan apa itu politik dan apa itu nilai. Seperti disebutkan oleh Almond menyatakan bahwa politik adalah kegiatan yang berhubungan dengan kendali pembuatan keputusan publik dalam masyarakat tertentu di wilayah tertentu, di mana kendali ini disokong lewat instrumen yang sifatnya otoritatif (berwenang secara sah) dan koersif (bersifat memaksa). Politik mengacu pada penggunaan instrumen otoritatif dan koersif ini siapa yang berhak menggunakannya dan dengan tujuan apa. Seorang ilmuan muslim Ibnu Aqil menjelaskan bahwa politik adalah hal-hal praktis yang mendekati kemaslahatan bagi manusia dan lebih jauh dari kerusakan.

Senada dengan hal tersebut, bisa dikatakan bahwa politik itu adalah strategi, cara dan seni dalam mencapai tujuan. Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah untuk berkuasa. Orang yang berkuasa memiliki otoritas atau hak penuh untuk membuat suatu keputusan yang diinginkan. Orang yang memiliki kekuasaan akan dapat memberikan kesejahteraan dan kedamaian bagi masyarakat di setiap wilayah yang dikuasainya.

Segala sesuatu yang telah diciptakan Tuhan, pasti mengandung “nilai” baik itu nilai yang bersifat baik atau buruk. Nilai sesuatu yang tak bisa dilihat dan diraba melainkan dirasakan dan dimanfaatkan. Nilai selalu ada pada diri setiap individu maupun kelompok masyarakat. Nilai ini pula yang menjadi pembeda antara yang satu dengan yang lain. Dalam konteks ini, Rosyadi menyebutkan bahwa nilai adalah ukuran untuk menghukum atau memilih tindakan dan tujuan tertentu. Nilai sesungguhnya tidak terletak pada barang atau peristiwa, tetapi manusia memasukkan nilai ke dalamnya, jadi barang mengandung nilai, karena subjek yang tahu dan menghargai nilai itu.

Baca Juga  KSB Kekurangan Khotib, IKADI Gelar Pelatihan Khotib

Politik nilai adalah suatu model atau cara berpolitik yang dilandasi dengan nilai-nilai positif dan kontruktif agar dapat menjadi fundamen bagi masyarakat untuk melihat siapa pemimpin yang layak dan memilki integritas, moralitas, dan kapablitas yang mempuni untuk membawa perubahan transpormatif di tengah-tengah masyarakat. khususnya tau dan tanah Samawa di masa yang akan datang. Politik nilai harus mampu menjadi etalase yang baik dalam mengedukasi masyarakat bahwa betapa penting nilai itu dijaga, dipelihara, dan implementasikan dalam kehidupan bersama. Politik yang dilandasi dengan nilai-nilai kemanusian dan kerberadaban itu, memungkinkan sebuah bangsa, daerah, dan masyarakat keluar dari domain krisis multidimensi.

Istinbatnya dari tulisan sederhana ini adalah dalam berpolitik satu hal yang menjadi keywordsnya adalah bagaimana seorang politikus itu mampu melahirkan kemaslahatan bagi semua. Kemaslahatan dan kebermanfatan itu bisa tercipta untuk semua komponen, ketika determinasi diri seorang politisi mampu menjuktaposisi semua kekuatannya untuk kepentingan masyarakat dan bangsa. Politik nilai harus sin qua non karena dengan begitu akan tercipta sebuah iklim demokrasi yang sehat dan edukatif. Buah dari politik nilai ini adalah bergumulnya sebuah tatanan kehidupan masyarakat yang harmonis dalam bingkai kedamaian, ketentraman, kesejahteraan yang aporisma untuk masyarakat dan daerah. (*)

iklan bapenda