Home / Kesehatan / RS Surya Medika Sumbawa Berpeluang Raih Akreditasi Paripurna dan Utama

RS Surya Medika Sumbawa Berpeluang Raih Akreditasi Paripurna dan Utama

SUMBAWA BESAR, SR (3/2/2020)

Selama tiga hari, Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) melakukan survey akreditasi di Rumah Sakit Surya Medika (RSSM) PKU Muhammadiyah Sumbawa. Tiba di RSSM pada Senin (3/2/2020) pagi, tim yang terdiri dari dr. Dedy Krisnarto, Sp.An, dr. Elfiyanti, MARS dan Putu Karleni S.Pd., S.Kep., MM ini langsung mendengarkan paparan dari Direktur RSSM Sumbawa dr. Yogi Triatmakusuma, serta menelaah regulasi setebal 15 Bab dari pagi hingga malam hari. Kendati ini survey akreditasi yang pertama, RSSM berpeluang untuk mendapatkan predikat akreditasi utama ataupun paripurna. Mengingat persiapannya sudah dilakukan sejak 6 bulan yang lalu.

dr. Dedy Krisnarto, Sp.An yang diwawancarai SAMAWAREA di sela-sela kegiatannya, mengakui peluang semua rumah sakit yang disurvey termasuk RSSM mendapatkan akreditasi paripurna, utama, madya, maupun dasar. Ini tergantung dari nilai kelulusannya. Ketika passing levelnya 80, maka dipastikan mendapat predikat paripurna. Jika satu point saja yang kurang atau di bawah 80, tidak bisa paripurna, kecuali diminta untuk remedial (perbaikan) asalkan nilainya tidak di bawah 60. Ketika tidak paripurna, kemungkinan rumah sakit tersebut mendapat predikat utama atau madya. “Semua yang disurvey ini lulus, Cuma tingkat kelulusannya apakah paripurna, utama, madya atau dasar. Tergantung amal sholeh,” kata dr. Dedy berseloroh.

Diakui dr Dedy, memang RSSM baru pertamakali disurvey akreditasi. Bukan berarti yang pertama itu tidak berpeluang mendapat paripurna. Bahkan ada yang sudah paripurna, ketika dilakukan re-akreditasi bisa turun menjadi utama atau madya, karena terlena dan merasa puas dengan capaian yang dilakukan tanpa ada peningkatan menjadi lebih baik lagi. “Dulu saya pernah di Sumatera, ada rumah sakit baru beroperasi akhir 2017, lalu akhir 2018 disurvey akreditasi, ternyata lulus paripurna,” ungkap dr Dedy yang didampingi dr. Elfiyanti dan Putu Karleni.

Sebenarnya masalah nilai untuk mencapai tingkat akreditasi itu nomor dua dan hanya bonus. Menurut dr Dedy, yang paling penting adalah itikad dari jajaran rumah sakit tersebut untuk proses membudayakan mutu dan keselamatan pasien.

Lebih jauh dijelaskannya, bahwa akreditasi untuk rumah sakit itu hukumnya wajib. Dalam kegiatan survey ini, ada 15 kelompok kerja (Pokja) yang dinilai. Pokja itu kemudian dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu manajemen, medis dan keperawatan. Untuk Manajemen, meliputi TKRS (Tata Kelola Rumah Sakit), MFK (Manajemen Fasilitas Kesehatan), PKPO (Pelayanan Kefarmasian dan Pelayanan Obat), KKS (Kualifikasi dan Kompetensi Staf), serta PMKP (Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien). Kemudian Medis, yang dinilai mulai dari ARK (Asessment Rumah Sakit dan Kontinuitas Pelayanan), AP (Asessment Pasien) yaitu setiap pasien yang datang tidak langsung diberikan pelayanan tapi dilakukan penilaian terlebih dahulu. Berikutnya PAB (Pelayanan Anestesi dan Bedah), Pelayanan Asuhan Pasien (PAP), dan Program Nasional yang isinya bisa HIV, Ponex, TB, Griatry, serta program pengendalian anti mikroba.

Selanjutnya untuk bidang Keperawatan, dilakukan penilaian terhadap MKE (Manajemen Komunikasi dan Edukasi), SKP (Sasaran Keselamatan Pasien), Hak Pasien dan Keluarga (HPK), MIREM (Manajemen Informasi dan Rekam Medis), serta Pencegahan Pengendalian Infeksi (PPI). Jika di rumah sakit itu ada mahasiswa yang melakukan praktek lapangan, maka ada tambahan penilaian terhadap Implementasi Pendidikan dalam Pelayanan Kesehatan (IPPK). Penilaian ini dilakukan untuk memastikan bagaimana rumah sakit tersebut memenej mahasiswa magang itu agar keberadaannya tidak mengganggu kualitas pelayanan.

Bagaimana dengan RS Surya Medika Sumbawa apakah sudah terpenuhi indicator atau criteria penilaian ? dr Dedy mengaku belum bisa memberikan kesimpulan karena survey baru dilakukan dan masih ada dua hari lagi untuk melakukan penelusuran atau melihat bagaimana implementasi dari pokja-pokja yang menjadi sasaran penilaian. Ia juga tidak bisa memberikan harapan dan meminta jajaran rumah sakit untuk menunggu hasilnya. Namun yang patut diapresiasi, RS Surya Medika yang belum setahun beroperasi, sudah berani maju untuk diakreditasi. Artinya rumah sakit milik Muhammadiyah tersebut sudah menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien. “Kami berusaha secara obyektif melakukan penilaian, karena kami sudah membuat pernyataan dengan dua poin,  pertama, kami tidak ada konflik of interest, dan kedua, kami akan memegang rahasia apa yang ada di rumah sakit ini untuk tidak kita sampaikan kepada siapapun juga. Kami berusaha seperti filosofi kaca. Untuk berkaca kita bisa melihat apa kekurangan kita, begitu kita beranjak pergi meninggalkan kaca, kaca tidak memberitahukan kepada siapapun apa kekurangan kita itu. Intinya kami berharap ketika mengetahui kekurangan, lakukan perbaikan dan tetap punya komitmen untuk meningkatkan mutu dan keselamatan pasien,” pungkasnya. (JEN/SR)

Lihat Juga

Presiden dan Ibu Negara Diuji Swab, Ini Hasilnya

JAKARTA, samawarea.com (25/7/2020) Presiden Joko Widodo berolahraga pagi dengan mengayuh sepeda di area Istana Kepresidenan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *