Utamakan Upaya Pre-emtif untuk Selamatkan Hutan Sumbawa

oleh -28 views

SAMAWAREA PARLEMENTARIA, KERJASAMA DENGAN DPRD KABUPATEN SUMBAWA

SUMBAWA BESAR, SR (29/1/2020)

DPRD

Sikap represif aparat gabungan terdiri dari polisi, TNI dan KPH terhadap pelaku ilegal logging dan perladangan liar di dalam kawasan hutan penting dilakukan. Selain memberikan efek jera bagi pelaku juga pelajar bagi masyarakat lain agar tidak berbuat hal yang sama. Namun jauh lebih dari semua itu adalah langkah preemtif dan preventif, bagaimana masyarakat sadar bahwa menjaga dan melestarikan hutan adalah kewajiban untuk kelangsungan hidup generasi masa depan. Demikian diungkapkan Wakil, Ketua DPRD Sumbawa, Drs. Mohammad Ansori saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (29/1/2020).

Menurut Ansori—akrab politisi Gerindra ini disapa, penindakan itu dilakukan pasca kejadian. Artinya, sudah ada kerusakan sehingga diambil tindakan. Sedangkan upaya pre-emtif dan preventif dilakukan sebelum ada kejadian, atau mengantisipasi masyarakat melakukan tindakan-tindakan yang merusak hutan. “Kita kedepankan langkah pre-emtif dan preventif, dengan menggiatkan sosialisasi untuk membangun kesadaran masyarakat,” ujar Ansori.

Dengan intensifnya sosialisasi, masyarakat akan mengerti tentang dampak atau resiko yang ditimbulkan akibat pengrusakan hutan. Aksi ilegal logging hanya memberikan keuntungan sesaat dan memperkaya segelintir orang. Tapi ketika hutan rusak maka kerugian akan dirasakan dalam jangka panjang, dan dampaknya akan dirasakan oleh banyak orang. “Kita berikan pemahaman, jika hutan semakin gundul maka akan mudah terjadinya longsor, banjir, dan kekeringan. Sebab tidak ada pohon yang menyerap air, punahnya sumber mata air, berkurangnya habitat dan ekosistem. Ujung-ujungnya masyarakatlah yang mendapat kesulitan,” tukasnya.

Baca Juga  PDIP Bakal Tak Mengusung Paket di Pilkada Sumbawa

Tidak hanya sosialisasi, Ansori juga berharap pemerintah dapat melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat khususnya yang berada di sekitar hutan dan memanfaatkan keberadaan hutan sebagai sumber mata pencaharian dan kehidupannya, tanpa merusak hutan. Ketika hutan itu menjadi sumber kehidupan, masyarakat pasti menjaga hutan. Sebab ketika hutan itu rusak maka sumber kehidupannya akan hilang.

Ketika sosialisasi sudah dilakukan berkali-kali dan pemberdayaan sudah diprogramkan, namun masih saja ada yang membandel, Ansori sangat setuju jika aparat melakukan tindakan tegas. “Tidak ada jalan lain kecuali penegakan hukum,” tegasnya, seraya menyatakan bahwa saat ini kondisi hutan di Sumbawa mengalami kerusakan yang sangat parah, diperlukan sinergitas semua pihak untuk melakukan langkah langkah penyelamatan sekaligus mengembalikan kondisi hutan yang hijau dan lestari. (JEN/SR)

DPRD DPRD