Model Kepemimpinan Berbasis Profetik Value

oleh -4 views

Oleh : Ubaidullah (Staf Pengajar UNSA dan Ketua Umum PDRI NTB)

OPINI, 28 Januari 2020

“Seorang pemimpin harus mampu menghadirkan dan mengaplikasikan dalam dirinya agar terpatri nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi sebagai modal mensejahterakan rakyat dan bangsa” (Penulis).

Tidak lama lagi pergantian kepimpinan di daerah ini akan segera dilakukan. Tentu, formula kepemimpinan yang ideal syarat makna itu sangat penting kita aplikasikan dengan baik. Pemimpin Sumbawa ke depan tentu harus memiliki semangat dan cita rasa tinggi dalam membangun dan menata Sumbawa dengan konsep dan cara memimpin yang baik, terukur dan berkualitas yang berlandaskan pada nilai-nilai religiusitas dan budaya Tau dan Tana Samawa. Hal ini selaras dengan filosofi yang menjadi pegangan hidup Tau dan Tana Samawa yaitu “Adat barenti ko syara, syara barenti ko kitabullah”.

Sebelum penulis mengelaborasi lebih detail terkait dengan konsep kepemimponan berbasis pada profetik value ini, penulis ingin menjelaskan sedikit mengenai pemimpin itu sendiri. Pemimpin adalah orang yang memilki otoritas, kebijakan, didengar ucapannya, ditiru perbuatannya oleh masyarakatnya. Pemimpin tidak hanya menjadi kepala negara, menteri, gubernur, bupati/walikota, dan kepala desa. Tapi lebih dari itu, seorang pemimpin harus mampu memimpin dirinya dan keluarganya dengan baik. Pemimpin yang baik dan berkualitas itu adalah pemimpin yang dalam dirinya itu harus terpatri nilai-nilai profetik sebagai power dalam bekerja, berusaha, dan beramal untuk mensejahterakan masyarakatnya. Kuntowijoyo seorang sosiolog yang juga cendikawan muslim mengemukakan, ada tiga variabel dalam kajian ilmu sosial profetik, yaitu humanisasi (amar ma’ruf), liberasi (nahi mungkar), dan transendensi (tu’minu billah).

Sebelum masuk pada substansi tulisan ini, perlu kiranya sedikit mengulas mengenai profetik value. Profetik berasal dari kata prophet yang berarti nabi. Kata propetik juga menjadi icon dalam perjuangan pembebasan yang dilakukan oleh masyarakat di kawasan Amerika Latin (Sani). Makna profetik adalah mempunyai sifat atau ciri seperti nabi atau bersifat prediktif atau memperkirakan. Sifat yang mempunyai ciri sebagai manusia yang ideal secara individual-spiritual, menjadi pelopor perubahan, membimbing masyarakat ke arah perbaikan dan melakukan perjuangan tanpa henti melawan penindasan.

Profetik juga berarti kenabian atau sifat yang dimiliki oleh nabi. Sebuah sifat yang melekat pada diri seorang manusia paripurna secara individual-spritual, sosial-spritual, dan menjadi agen of change (agen perubahan), dengan terus-menerus membimbing, mengarahkan masyarakat untuk gemar berbuat baik (humanisasi), melawan penindasan (liberasi), dan kembali beriman kepada Tuhan-Nya (transedensi). Profetik pada prinsipnya adalah memaknai bagaimana sikap, dan tingkah laku nabi dalam bertindak, bertutur kata, belajar/mengajar, memimpin, mengambil keputusan dalam setiap kehidupan kesehariannya. Sikap dan tingkah laku nabi yang kemudian dijadikan contoh, dan teladan oleh seluruh umat manusia. Berikut ini akan dielaborasi mengenai urgensi profetik value bagi seorang pemimpin.

Baca Juga  Gubernur Minta Masjid Dipasang Jaringan Internet

Pertama, pemimpin Sumbawa yang akan datang harus mampu mentransformasikan nilai humanisasi. Humanisasi sebagai derivasi dari amar ma’ruf mengandung pengertian kemanusiaan atau memanusiakan manusia. Artinya, pemimpin Sumbawa kedepan harus memiliki sikap, mental, dan perilaku yang selalu gemar berbuat kebaikan dan mampu memanusiakan manusia. Amar ma’ruf bertujuan untuk meningkatkan dimensi positif manusia yang membawa kembali kepada petunjuk Ilahi untuk mencapai keadaan fitrah. Fitrah dalam artian mengembalikan diri manusia pada posisi yang sebenarnya yaitu memanusiakan diri menjadi manusia yang gemar berbuat kebaikan dalam setiap dimensi kehidupannya. Memanusiakan manusia dengan cara menghilangkan kebendaan, ketergantungan, dan kekerasan, serta kebencian dalam dirinya. Adapun ciri humanisasi dalam kepemimpinan sebagai bagian dari makna yang bertujuan menganjurkan atau menegakkan kebaikan dalam hidup manusia: Pertama, kerjasama dan gotong royong. Kedua, pendidikan atau menuntut ilmu. Ketiga, menjaga kesehatan. Keempat, sikap kedarmawanan. Kelima, sikap tenggangrasa, dan kepedulian dengan sesama.

Dalam konteks ini, pemimpin Sumbawa ke depan harus mampu memimpin dengan rasa. Rasa dimana dalam dirinya ada hasrat dan keinginan untuk berbuat dan bertindak tegas dalam memberikan kesejahteraan, ketentraman, keseteraan, kebebasan, dan keadaban bagi Tau dan Tana Samawa. Dengan memanusiakan manusia lainnya, maka sangat mungkin membuka peluang kemenangan bagi dirinya dalam kontestasi. Nilai kepemimpinan yang dilandasi dengan amar ma’ruf ini, mampu diejawantahkan dalam dirinya, maka akan berimplikasi pada policy yang ditelorkan untuk membentuk satu komunitas sosial/masyarakat yang ideal atau khairu ummah. Nilai humanisasi dalam konteks ini, tentunya harus dihadirkan dalam hati sanubari seorang pemimpin. Mengajak masyarakatnya gemar berbuat baik adalah sebuah keniscayaan yang harus melekat pada diri seorang pemimpin. Mental model, sikap dan perilaku humanisme harus mau menjadi reflika dalam perjalanan kepemimpinannya ke depan.

Kedua, internalisasi nilai liberasi (nahi munkar) dalam diri seorang pemimpin. Pemimpin Sumbawa kedepan tentunya harus memiliki sifat selalu membela kaum tertindas atau mustadafin. Secara terminologi liberasi berarti membebaskan manusia dari belenggu kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan. Tentunya ini menjadi visi dan misi calon bupati dan wakil bupati yang harus dijalankan dengan baik. Pemimpin tidak hanya mampu menjadi konspetor tapi juga eksekutor yang baik. Fenomena kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan yang dialami oleh masyarakat Sumbawa sekarang ini, menjadi home work yang harus segera dituntaskan nantinya. Nabi Muhammad SAW selama proses kepemimpinanya selalu berpihak kepada masyarakat lemah, membantu yang fakir miskin, mengajarkan umatnya untuk belajar agar tidak bodoh, selalu mengedukasi umatnya dengan berbagai aktfitas-aktifitas produktif agar maju dan bersaing dengan umat lainnya. Seyogyanya ini pola nilai yang ada dalam pola kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, yang harus diteladani, ditiru, dan ditransformasikan oleh para pemimpin bangsa dan daerah ini.

Baca Juga  Peringati Hari Donor Sedunia, UTD PMI Sumbawa Kekurangan Darah

Ketiga, revitalisasi nilai transendensi (tu’minubillah) yang kontinyu dalam dirinya dan masyarakatnya. Seorang pemimpin tidak hanya mampu mengurus masalah pemerintahannya, tapi lebih dari itu, Dia harus mampu mengajak masyarakat dan rakyatnya untuk selalu beribadah kepada Tuhannya. Makna substantif dari transendensi adalah kembali mengukuhkan diri kepada Tuhan yaitu Allah SWT. Selain dia seorang pemimpin (umaroh) lebih baik lagi ketika dia mampu menjadi ulama. Pentingnya bagi seorang pemimpin untuk menjadikan dirinya contoh dalam segala proses ibadah kepada Allah SWT sebagai Tuhannya. Nilai transendensi ini harus terpolarisasi dengan baik, karena menyangkut hablumminallah. Penguatan nilai transendensi akan memeberikan warna tersendiri dalam setiap perajalanan kepemipinan seseorang. Jabatan yang melekat pada diri seorang pemimpin adalah amanah yang diberikan Allah harus dijaga, dipelihara dengan baik, karena pada prinsipnya apapun yang dimiliki oleh manusia adalah bagian dari sesuatu yang harus kita pertanggungjawab di hadapan Allah SWT. Sebuah konsekuensi logis dari apa yang diamanahkan oleh Tuhan kepada kita, pasti akan kembali kepada-Nya.

Implikasi positif dari makna tu’minu billah dalam kepemimpinan seseorang, ada rasa takut akan berbuat tidak baik seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Semua perilaku amoral dan tidak berprikemanusiaan dapat diminimalisir dalam dirinya. Sebuah kongklusi objektif dari pemaparan di atas adalah setiap manusia harus mampu menjadikan nilai profetik di atas dalam bertindak, belajar, mengajar, memimpin, mengambil keputusan agar bermuatan maslahat bagi masyarakatnya. Mengajak orang lain berbuat baik (humanisasi), membebaskan manusia dari keterbelakangan dan kemunduran, dan mengembalikan semuanya apa yang kita kerjakan kepada Allah SWT dengan beribadah (transendensi). (*)

iklan bapenda