UDD PMI Sumbawa Tidak Jual Darah !

oleh -1 views

SUMBAWA BESAR, SR (20/1/2020)

Banyak yang beranggapan Unit Donor Darah (UDD) PMI Kabupaten Sumbawa menjual darah. Selain itu UDD disinyalir tidak memiliki stok darah, yang diindikasikan dengan dibebankannya keluarga pasien untuk mencari pendonor.

DPRD

Anggapan jual darah ini dibantah secara tegas pihak UDD PMI Sumbawa. Pada jumpa persnya, Senin (20/1/2020), Ketua PMI Sumbawa melalui Wakil Ketua II, Andi Rusni SE., MM, menegaskan bahwa darah dilarang untuk diperjual-belikan. Darah diberikan secara gratis karena hasil donor masyarakat. Sebagaimana pasal 90 ayat 3 UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang menyebutkan bahwa darah dilarang diperjualbelikan dengan dalih apapun. Menurut Andis—akrab mantan Anggota DPRD Sumbawa ini disapa, biaya yang dibayarkan pada Unit Donor Darah PMI Sumbawa selama ini bukan harga darah tetapi biaya pengganti pengolahan darah (BPPD) atau yang diistilahkan service cost. BPPD merupakan biaya yang dibayarkan oleh pengguna darah (pasien) untuk mengganti biaya pemeriksaan golongan darah, kantong darah, pengolahan komponen darah, uji saring darah, uji cocok serasi (cross maching), biaya pegawai dan lainnya. “Tidak ada yang jual darah, yang ada pasien atau pengguna darah membayar biaya pengganti pengolahan darah,” pungkas Andis yang didampingi Sekretaris PMI, Drs. Kaharuddin HM M.Si, Kepala UDD dr. Hj. Musyayyadah, S.PPK.M.Kes, Kepala Markas PMI Iskandar Dinata, Anggota Pengurus M Hasanuddin S.Hut dan Hendri Sumarto.

Baca Juga  RSUD Sumbawa Kembali Diverifikasi Tim KARS

Sementara Kepala UDD PMI Sumbawa, dr. Hj. Musyayyadah, S.PPK.M.Kes, menanggapi sinyalemen tidak adanya stok darah di UDD PMI. Dikatakannya, UDD bukan tidak ada stok tapi kekurangan stok. Harusnya stok darah untuk satu wilayah kabupaten 2 persen dari jumlah penduduk. Artinya dengan jumlah penduduk Sumbawa yang mencapai 500 ribu lebih, harus tersedia sekitar 1.100 kantong per bulan. Sejauh ini pihaknya baru mampu memenuhi 500—600 kantong darah dalam sebulan. Artinya masih mengalami kekurangan sekitar 50%. Di samping itu, UDD PMI Sumbawa mengaku kesulitan untuk ketersediaan trombosit. Apalagi sekarang hampir setiap satu orang membutuhkan trombosit 10 kantong. Sedangkan setiap harinya ada 2—3 orang yang membutuhkannya. Untuk trombosit memang tidak pernah ada stok. Sebab trombosit hanya bisa disimpan tidak lebih dari satu hari. Ada tersedia langsung dipakai. Ini karena tidak ada rumah tempat penyimpanan trombosit. UDD hanya memiliki alat proses trombosit dan raknya, karena tempat penyimpanan harganya cukup mahal.

Terkait kondisi yang ada, pihaknya kerap mencari pendonor sukarela aktif sebanyak-banyaknya. PMI juga melakukan system jemput bola bekerjasama dengan kecamatan-kecamatan, serta dinas instansi termasuk perusahaan yang beroperasi di wilayah Kabupaten Sumbawa. (JEN/SR)

DPRD DPRD