Kunci Kemajuan Pariwisata KSB Adalah Gotong Royong

oleh -7 views

SUMBAWA BARAT, SR (28/12/2019)

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sumbawa Barat, IGB Ir. Sumbawanto mengatakan dalam membangun pariwisata di KSB tidak bisa mengandalkan Disbubpar saja, harus melibatkan semua pihak dengan semangat bergotong royong. Mulai dari OPD terkait, pegiat kebudayaan, LSM, dan wartawan. Paling penting, penerimaan masyarakat terhadap keberadaan pariwisata itu sendiri. “Semua lini harus bekerjasama sesuai tupoksinya masing-masing, misalnya Dinas PU tangani infrastruktur jalan dan lainnya, Dinas LH tangani lingkungan dan kebersihan, Diskominfo tangan jaringan telekomunikasi, serta dinas lainnya termasuk LATS untuk memperkuat kebudayaan, LSM dan wartawan untuk mengadvokasi informasi positif,” kata Sumbawanto saat jumpa pers, kemarin.

Welcome terhadap wisatawan menjadi sebuah keharusan. Keramahan harus ditunjukkan agar wisatawan merasa aman dan nyaman. “Kalau hanya mengandalkan Disbudpar, pariwisata KSB akan sulit maju. Apalagi dukungan anggaran untuk pembangunan pariwisata di KSB sangat minim sekali, banyak inovasi yang coba kami lakukan selalu terbentur dengan anggaran,” tukasnya.

Menurut Sumbawanto, ini bukan sebuah pesimisme dalam pembangunan pariwisata di KSB tapi merupakan semangat bagi pihaknya karena setiap kekurangan yang dimiliki akan bisa teratasi apabila semua  bersinergi. Banyak daerah maju karena senergitas yang sangat kuat. Contohnya Bali, semua pihak bersinergi sehingga menghasikan pariwisata Bali dikenal di seluruh dunia, membuat sumbangan PAD terbesar Bali adalah dari sektor pariwisatanya. “Posisi kita saat ini lebih terkenal Sumba Barat daripada Sumbawa Barat dari sektor pariwisatanya. Event besar yang kita lakukan beberapa waktu lalu yaitu Festival Taliwang menjadi buah bibir pegiat wisata. Banyak yang bertanya kepada saya, Sumbawa Barat itu sebelah mananya Sumba Barat. Ini membuat saya terenyuh, karena kita harus akui promosi wisata terlebih dahulu dilakukan oleh Sumba Barat sehingga dikenal oleh masyarakat luas baik itu lokal bahkan internasional,” bebernya.

Baca Juga  Masyarakat Pulau Moyo Siap Dukung Gubernur Bawa Investor Kilang Minyak

Hal tersebut menjadi tantangan bagi Dinas Pariwisata KSB. Minimal dengan menggelar Festival Taliwang telah memalingkan perhatian pegiat wisata ke KSB. “Sekarang bagaimana kita sambut langkah yang sudah kita ayunkan agar lebih dikenal oleh masyarakat luas sehingga kami sangat berharap adanya peran aktif dari semua pihak terutama wartawan untuk terus mengekspos pariwisata kita di KSB, sembari terus kita benahi setiap kekurangan kita,” ujarnya.

Untuk Festival Taliwang, lanjutnya, sudah dievaluasi oleh dua profesor pariwisata. Mereka mangatakan bahwa Festival Taliwang itu unik dan spektakuler sehingga disarankan agar tema lumpur tidak dirubah itu karena unik dan menarik. Untuk itu pada event selanjutnya tetap menggunakan tema lumpur tapi dengan isi yang berbeda. “Untuk mendesain Festival Taliwang tahun depan kita sudah meminta teman-teman  ISI, dan juga kita akan buat menjadi tempat wisata permanen dengan kelengkapan wahana permainan dan itu juga sudah kita minta didesain oleh ISI,” imbuhnya.

Saat ini pihaknya juga tengah menggodok Rencana Induk Pariwisata Daerah (RIPDA). Berharap Januari 2020 sudah disahkan menjadi Perda sebagai payung hukum dalam membangun pariwisata sekaligus acuan dalam pembagunan pariwisata. Selama ini pihaknya kesulitan mencari anggaran lain yang sah karena belum memiliki RIPDA. (HEN/SR)

 

iklan bapenda