Aksi Unjuk Rasa di Mataram, 24 Terluka, Beberapa Orang Diamankan

oleh -3 views

MATARAM, SR (26/9/2019)

Aksi unjuk rasa di Gedung DPRD Provinsi NTB sempat ricuh. Massa yang berjumlah sekitar 2000 orang yang menggelar aksi Kamis (26/9) dari pukul 08.00 Wita ini merangsek masuk ke gedung yang diblokade aparat termasuk menggunakan kawat barrier. Dalam mengamankan aksi itu Polda NTB menerjunkan sekitar 500 personil. Pada pukul 11.05 Wita massa aksi mulai melempari petugas dengan botol minuman, kratingdaeng dan batu serta berusaha masuk ke halaman DPRD dengan merusak kawat barrier dan pagar kantor DPRD sehingga dibubarkan paksa oleh anggota Dalmas dengan menembakkan gas air mata. Kemudian massa kembali berorasi dan dilakukan terus negosiasi. Namun massa gabungan 19 elemen mahasiswa di Mataram yang mengatasnamakan diri Aliansi Rakyat Menggugat ini, tetap ingin menduduki kantor DPRD.

DPRD

Ketua DPRD NTB yang menemui massa, dilempar menggunakan batu dan botol minuman. Akhirnya 6 orang perwakilan mahasiswa diterima Ketua DPRD, Wakil Ketua DPRD, Kapolda NTB, Dirreskrimum, Dirpamobvit, Wadir Reskrimsus, Kabid Humas Polda NTB dan Kapolres Mataram di dalam ruangan. Pada pertemuan tersebut perwakilan mahasiswa meminta kepada Ketua DPRD agar massa aksi diijinkan masuk ke gedung DPRD dengan jaminan mereka dapat mengendalikan massa aksi. Kapolda NTB berupaya menenangkan perwakilan mahasiswa tersebut dan mempersilahkan perwakilan mahasiswa saja dengan pertimbangan keamanan. Perwakilan mahasiswa tetap ngotot dan meninggalkan ruangan yang kemudian kembali melakukan orasi di depan kantor DPRD NTB. Bahkan mulai anarkis dengan melempari petugas. Aparat pun bersikap dengan menembakkan gas air mata. Dalam aksi itu sebanyak 24 mahasiswa terluka.

Baca Juga  Moeldoko Kagum Sistem Pendidikan di Ponpes Nurul Haramain
Diduga memprovokasi, beberapa mahasiswa diamankan

Kabid Humas Polda NTB, Kombes Pol H Purnama SIK, mengatakan, 24 mahasiswa yang terluka itu karena terjepit rekannya sendiri dan satunya terkena kawat berduri. Terhadap mahasiswa ini sudah mendapat penanganan medis. Dalam orasinya mahasiswa meminta jaminan DPRD NTB agar tidak mensahkan UU secara diam-diam tanpa mengakomodir aspirasi mahasiswa. Mendesak DPRD NTB berangkat ke DPR RI membawa aspirasi mereka. Tak hanya itu massa juga meminta penjelasan Kapolda NTB terkait adanya mahasiswa yang terkena peluru karet. Kapolda NTB pun menegaskan anggota tidak ada yang menggunakan peluru karet atau peluru tajam. Hal tersebut sudah diperintahkan sejak awal. Pihaknya hanya gas air mata ketika mulai banyak lemparan dan massa berusaha merobohkan pagar.

Ada beberapa tuntutan yang disampaikan massa aksi. Yaitu menolak hasil revisi UU KPK yang melemahkan KPK. Evaluasi RKUHP Kontroversial. Meminta mencabut izin korporasi yang melakukan pembakaran hutan. Mengecam segala bentuk rasisme dan militerisme terhadap Papua. Menolak revisi RUU Pertanahan yang tidak prorakyat. Menolak revisi RUU pemasyarakatan yang tidak prorakyat. Menolak dan revisi RUU tentang ketenagakerjaan yang tidak pro terhadap buruh. Drop kebijakan kesehatan yang berbau Asuransi (BPJS). Selain itu, mengecam dan tindak tegas oknum kriminalisasi aktivis dan rakyat. Jika dalam 4 hari kerja Presiden dan DPR RI masih menolak aspirasi rakyat maka Gubernur dan DPRD NTB memfasilitasi mahasiswa NTB pergi ke Jakarta untuk menyuarakan aspirasi rakyat.

Baca Juga  Proyek Besar di Sumbawa Dikawal Ketat

Setelah menyampaikan aspirasi dan negosiasi yang dilakukan Kapolda NTB, akhirnya para mahasiswa mengerti dan membubarkan diri. Namun ada beberapa orang yang berhasil diamankan Tim Tindak karena diduga memprovokasi. “Sampai saat ini masih diperiksa,” ujar Kombes Purnama.

Polda NTB dan jajaran ungkapnya, tetap menjamin kemerdekaan memyampaikan pendapat di muka umum dalam bentuk unjuk rasa atau demonstrasi. Namun harus dilakukan dengan cara-cara yang tidak anarkis. “Terimakasih kepada para elemen mahasiswa yang melaksanakan aksi unjuk rasa dengan santun dan mengepankan dialog,” ucapnya. (SR)

DPRD DPRD