Bupati Dorong Maksimalkan Sumberdaya Lokal Garap Potensi SAMOTA

oleh -13 views

SUMBAWA BESAR, SR (7/9/2019)

Bupati Sumbawa membuka secara resmi pertemuan investor lokal yang tergabung dalam Forum Investor Lokal (FILo) dengan pelaku usaha di kawasan SAMOTA di Bale Prajak Dusun Prajak, Desa Batu Bangka, Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa, Sabtu (7/9/2019). Kegiatan yang bertujuan untuk membentuk suatu model investasi berbasis investor lokal dalam pengembangan ekonomi di kawasan SAMOTA dan mempertemukan potensi sumber daya ekonomi dengan sumber daya finansial sehingga model investasi dapat berjalan ini terlaksanakan hasil kerjasama Bappeda Kabupaten Sumbawa dan didukung DPMPTSP Kabupaten Sumbawa. Hadir sejumlah narasumber berkompeten meliputi Ir. H. Badrul Munir, M.Sc—mantan Wagub NTB yang menjadi ketua tim koordinasi propinsi untuk kawasan Samota, Neni Triyana dari Tim Prajak Danatama Manajemen, dan Abdul Hafith Branc Manager PT Bank NTB Syariah Cabang Sumbawa.

Dalam sambutannya, Bupati yang diwakili Sekda Kabupaten Sumbawa, Drs. H. Hasan Basri MM menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para narasumber yang telah berkenan sharing ilmu, gagasan dan pengalaman pada forum ini. Ia berharap, kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik dan sukses serta mampu memberi kontribusi positif dalam upaya bersama mendorong perkembangan investasi oleh sumber daya lokal di daerah ini.

Untuk diketahui, ungkap Sekda, Pulau Sumbawa memiliki potensi sumber daya alam yang besar untuk pengembangan pembangunan kawasan pariwisata strategis, salah satunya adalah kawasan SAMOTA (Teluk Saleh, Pulau Moyo dan Gunung Tambora) yang mempunyai karakteristik dan potensi nilai jual yang tinggi melalui kegiatan wisata darat dan laut. Pembangunan kawasan SAMOTA bertumpu pada ekonomi maritim dan pariwisata. Menurut Tim Percepatan Pengembangan Investasi Kawasan Strategis SAMOTA Provinsi NTB, nilai produksi kawasan ini di tahun 2015 mencapai Rp 4,55 trilyun. Sehingga dalam rangka terus mengembangkan nilai ekonomis kawasan ini, diperlukan investasi yang perlu digali dari sumber daya lokal. Iklim investasi dari sumber daya lokal memang memiliki nilai strategis dalam menggerakkan roda perekonomian daerah di sektor pariwisata. Hal ini tidak lepas dari dampak-dampak lanjutan yang ditimbulkan dengan adanya investasi yang masuk ke daerah. Pengembangan model bisnis yang bertumpu pada ekonomi lokal dan pariwisata berbasis masyarakat (Community Base Tourism) menjadi kunci agar kawasan ini benar-benar dapat bermanfaat bagi masyarakat secara berkelanjutan. Selain itu, pembangunan sektor pariwisata khususnya di Kabupaten Sumbawa pada dasarnya tidak terlepas dari rangkaian pembangunan daerah dengan visi pembangunan: “Terwujudnya Masyarakat Sumbawa yang Berdaya Saing, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Semangat Gotong Royong”. Salah satu misinya adalah “Memelihara dan Mengembangkan Potensi Budaya dan Kearifan Lokal”.

Baca Juga  Terapkan Teknologi Tercanggih XL Maksimalkan Kualitas Layanan 4G LTE

Memang diakui potensi laut Sumbawa sangat besar, namun hanya sebatas potensi yang belum mampu meningkatkan derajat ekonomi. Sebab banyak masyarakat yang tinggal di pesisir atau pinggir laut kehidupan ekonominya terpuruk. Ia membandingkan Raja Ampat yang hanya memiliki 4 ikan hius paus namun mampu menarik perhatian ribuan wisatawan untuk datang. Sedangkan Sumbawa yang justru memiliki ratusan hiu paus, yang justru jumlah wisatawan jauh di bawah Raja Ampat. Hal inilah yang perlu ditangani bersama dengan mengembangkan potensi yang ada secara maksimal. “Visi-misi pembangunan kita jika diaplikasikan ke dalam program-program kepariwisataan maka tentu akan berdampak positif bagi kemajuan sektor ini ke depan. Sasaran akhirnya tentu adalah mewujudkan masyarakat Sumbawa yang hebat dan bermartabat,” harapnya.

Mengingat betapa strategisnya membangun iklim investasi oleh sumber daya lokal, lanjut Sekda, semua tentu sepakat bahwa semua harus bekerjasama mengelola dengan sebaik mungkin potensi investasi yang ada di daerah ini agar dapat berkembang secara kompetitif dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Tentunya diharapkan forum ini dapat menghasilkan pemikiran-pemikiran konstruktif atau rekomendasi yang dapat menjadi bahan bagi kami pemerintah daerah dalam menyusun Road Map terkait pengelolaan potensi investasi yang ramah dan bersahabat, sehingga dapat meningkatkan kinerja pemerintah Kabupaten Sumbawa. Selain itu, melalui forum ini diharapkan akan terbangun suatu model investasi berbasis investor lokal dalam pengembangan ekonomi di kawasan Samota dan juga dapat mempertemukan potensi sumber daya ekonomi dengan sumber daya finansial sehingga model investasi dapat berjalan dengan baik.

Baca Juga  Sumbawa Bertambah: Tiga Warga Labu Bontong Tarano Positif Covid

Sebelumnya Kepala Bappeda Kabupaten Sumbawa, Ir. H. Junaidi M.Si melaporkan bahwa pihaknya bersama Dinas PMPTSP mencoba melakukan terobosan baru agar kawasan Samota cepat berkembang. Ini diupayakan karena hasil koordinasinya dengan pemerintah pusat, ternyata selama ini belum terlihat model seperti apa untuk mengembangkan Samota tersebut. “Untuk mengembangkan Samota kita tidak ingin menjual dan menantang investor besar di luar sana. Tapi kita memberikan peluang atau kesempatan kepada investor muda dan lokal untuk dapat berperan besar dalam mengembangkan kawasan Samota yang telah dideklarasikan sebagai Cagar Biosfer dunia di forum internasional, The 31st session of the Man and the Biosphere (MAB) Programme International Coordinating Council di Perancis, 19 Juni 2019 lalu.

Sementara Kepala DPMPTSP Sumbawa, Tarunawan S.Sos SP mengatakan berbicara invetasi tentu berbicara tentang orang banyak. Investasi juga berbicara tentang ekonomi. Karena ketika ekonomi amburadul dan terpuruk, maka stabilitas keamanan akan terganggu karena akan muncul ragam kriminalitas. Dan berkembangnya investasi sangat bergantung pada keamanan dan kondusifitas daerah. Diakui Tarunawan, investasi di Kabupaten Sumbawa cukup banyak mengingat potensi daerah cukup besar, namun realisasinya sebagian kecil. Untuk itu besarnya potensi yang ada  ini dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin terutama untuk pengusaha-pengusaha lokal. Namun Ia menyarankan jika ingin investasi survive, kembali ke negara agraris. (JEN/SR/Adv)

 

DPRD DPRD