Pemuda KSB Blokir Jalan Menuju Otak Kris, Ini Tanggapan Bupati

oleh -23 views

KERJASAMA SAMAWAREA DENGAN HUMASPRO PEMDA SUMBAWA BARAT

SUMBAWA BARAT, SR (5/8/2019)

DPRD

Sekelompok pemuda melakukan pemblokiran jalan menuju Dusun Otak Kris Desa Maluk Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat, Senin 5/8/2019. Aksi para pemuda ini terjadi karena menginginkan percepatan pembangunan Smelter di KSB yang akan banyak menciptakan peluang pekerjaan. Massa meminta warga Otak Kris mendukung Smelter agar proses pembangunannya bisa cepat dilakukan. Menurutnya, mereka terpaksa melakukan pemblokiran jalan menuju Otak Kris karena melihat warga Otak Kris sepertinya tidak mendukung adanya pembangunan Smelter. Ini terlihat dengan adanya penilaian harga tanah yang mengada-ada sangat jauh dari penilaian tim Apraisal membuat tim pembebasan lahan kesulitan untuk menyesuaikan harga yang ditawarkan. Dan sampai sekarang belum ada itikat baik dari warga, sedangkan pembangunan Smelter ini akan membawa manfaat yang besar bagi masyarakat KSB. “Pastinya keberadaan Smelter ini akan meciptakan lapangan pekerjaan yang banyak dan kami butuhkan itu,” tegas para pemuda tersebut.

Menanggapi aksi para pemuda ini, Bupati Sumbawa Barat, Dr. Ir. HW. Musyafirin MM mengatakan aksi para pemuda itu merupakan aksi spontanitas yang menginginkan adanya lapangan pekerjaan yang memadai. Karena merasa sulit mencari pekerjaan selama ini membuat mereka melakukan aksi senekat itu. Sekelompok pemuda ini menilai warga Otak Kris berlebihan dalam menawarkan harga tanahnya yang membuat proses ini terkendala. “Saya pikir inilah gerakan spontanitas. Karena ada informasi, di satu sisi mereka sangat mendukung  keberadaan Smelter, di sisi lain masyarakat menawarkan harga tanah 200 juta rupiah per are atau 20 milyar per hektar. Inikan harga yang tidak rasional jadi kesannya mengada ada. Kan lebih baik kalau mereka tidak terima bilang tidak terima jangan mereka bilang terima tapi dalam perjalanannya mereka perberat proses ini,” tukas Bupati.

Baca Juga  IISBUD Sarea Bersama BI Gelar Sosialisasi Cikur

Diakui Bupati Musyafirin, sampai sekarang pembebasan lahan untuk Smelter masih belum tuntas. Hanya tersisa lahan milik warga Otak Kris. Prosesnya alot karena tawaran harga tanah dari warga setempat terlalu tinggi dan tidak sesuai dengan NJOP (Nilai Jual Obyek Pajak). “Jualnya 20 Milyar per hektar tapi bayar pajaknya hanya 71 ribu rupiah pertahun. Ini tidak wajar. Seandainya mereka bayar pajak 20 juta pertahun maka masuk hitungan 20 milyar perhektar,” imbuhnya.

Bupati mengaku sudah menemui warga Otak Kris terkait persoalan itu. Warga mengatakan bahwa seandainya dirinya selaku Bupati memiliki tanah di tempat mereka dan terdampak Smelter, sudah pasti tidak akan dijual. “Saya katakan, saya siap tukar guling lahan saya dengan mereka, yang penting ini bisa berjalan dan dibangun di KSB. Sebab tambang ini tidak selamanya akan beroperasi. Kalau sudah habis masanya maka yang ditinggalkan hanya lubang saja. Berbeda jika ada Smelter atau pabrik pemurnian emas, akan tetap berada di KSB selama-lamanya,” pungkasnya. (HEN/SR)

DPRD DPRD