Sistem Zonasi Dalam Praduga, Berkah atau Duka ? 

oleh -31 views
Anita

Penulis: Anita  (Warga Dsn. Ai puntuk. Ds. Serading Kec. Moyo Hilir) 

Sistem zonasi, itulah istilah yang telah mengawanggi sistem Penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ini. Tepatnya beberapa waktu yang lalu, wacana ini berhasil menyeret perhatian masyarakat secara luas dari berbagai kalangan.  Dialog, diskusi hingga beberapa tulisan  pun berseleweran. Bagaimana tidak? proses pembentukan nasib dan metamorfosis kualiatas anak bangsa sedang diperjuangkan.

Berdasarkan   peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud)  Nomor 51 tahun 2018 tentang penerimaan peserta didik baru (PPDB) dengan beberapa regulasi pendukungnya memang  sudah   terlaksana sejak 2 tahun terakhir ini. Untuk sistem PPDB tahun 2019 sendiri secara  umum tidak ada perbedaan signifikan. Namun, regulasi yang diterapkan tahun 2019 ini menduduki tingkat  totalitas yang melampaui tahun sebelumnya. Hal ini karena sistem yang diimplememtasikan dalam PPDB tahun 2019  merupakan bentuk peneguhan dan penyempurnaan dari sistem sebelumnya.

Menanggapi hal ini, kontroversipun tidak bisa dihindari. Terutama trush masyarakat yang dipicu oleh beberapa alasan terutama sekali kualitas yang mengiringinya. Padahal apabila masyarakat sedikit menyadari juga bahwa sebenarnya sistem yang mempunyai inisiasi semacam ini pernah ada dan pernah menjadi regulasi dipendidikan kita. Namun, pengaplikasiannya tidak setegak dan selantang dengan yang sekarang. Sebagai akibatnya sistem yang ada menjadi minim aplikasi bahkan harus berakhir di ujung kisah negoisasi.

Sekarang, kehadiran sistem zonasi, dengan beberapa aturan yang baku dan sangat mengikat telah berani mengambil langkah baru dalam sejarah dan wajah pendidikan kita. Namun pertanyaanya, apakah kabar ini menjadi berkah untuk kita semuanya? Ataukah justru membawa duka? Untuk mendapatkan jawabannya tidak semudah menganggukkan kepala sebagai tanda meng-iya-kannya atau sebaliknya. Untuk menjawabnya butuh kelapangan dan kematangan berpikir. Karena sejatinya mendiagnosis suatu sistem haruslah sistematis. Walaupun sepintas kita menganggap bahwa hal tersebut bisa ditebak sepintas. Namun dalam hal ini sangat berbeda, selain apa yang kita lihat sekarang, impact jangka panjangnya pun harus  tidak boleh  absen juga dari pertimbangan kita.

Adalah sebuah kebenaran bahwa dalam proses trial and error dalam implementasi suatu sistem  pendidikan sangat perlu dipertimbangkan dan diminimalisir karena mengelola manusia tidak sekelas bahan mentah yang apabila gagal kita akan mencoba dan mencoba. Artinya perlu kehatian–hatian. Pemerintah dalam hal ini sebagai pembuat kebijakan haruslah mengambil langkah–langkah yang sekiranya mampu menjawab beberapa acuan mulai proses awal hingga akhir. Mulai dari tingkat kepantasannya, suitable.  Selanjutnya, implementable, apakah sistem itu bisa terlaksana atau tidaknya. Sehingga dari proses itu kita bisa membuat tolok ukur tingkat kesuksesannya, apakah bisa tercapai atau sebaliknya; reachable. Sehingga pada apa yang diimplementasikan akhirnya dapat mencapai hasil yang diinginkan dan   kebermanfaatannya baik untuk jangka pendek dan terutama jangka panjang.

Baca Juga  Gubernur NTB Ungkap Tiga Tanda Inovasi

Belajar dari negara–negara yang sudah mengimplementasikan sistem ini, ternyata sangat disambut baik oleh masyarakatnya. Kisah suksesnya berasal dari kesetaraan kualitas setiap instansi pendidikan. Baik   kualitas fasilitas sekolah maupun kualitas pendidik serta beberapa aparatus lainnya yang mendukung     dalam proses pendidikan. Sehingga tidak ada alasan untuk membandingkan dan menolak untuk bersekolah di instansi pendidikan tertentu. Selain itu, Pemenuhan  yang  komprensip ini selain memberikan tindakan preventive terhadap tanggapan masyarakat yang kurang positif, juga menambahkan kepercayaan masyarakat terhadap kualitasnya yang ikut dibrandkan.

Di negara kita, apabila dalam dua tahun ini masyarakat masih sanksi, itu karena apa yang terimplementasi masih kurang tersambut baik dengan apa yang terjadi. Sekali lagi, jaminan  kualitas yang masih dipertanyakan questionable dan perbedaan kualitas setiap sekolah. Karenanya di tengah derasnya arus pengaplikasian sistem Zonasi ini, masyarakat dengan jumlah yang sangat banyak  dengan senang hati mempercayakan sekolah–sekolah swasta walaupun harus membayar dengan nominal yang cukup besar. Hal ini menjadi bukti bahwa kualitas selalu menjadi prioritas.

Dari cerita di atas dapat kita simpulkan bahwa pengimplementasian sistem zonasi ini masih dalam keraguan namun ‘mau tidak mau’ harus implementasikan. Namun, bijaknya juga haruslah berirama dan senada dengan pemenuhan kualitas yang ada. Sehingga di ujung kisah kedepannya tidak ada pihak yang dikorbankan atau dikambing-hitamkan baik siswa sebagai peserta didik yang menuntut pelayanan maupun sekolah sebagai pihak yang memberi pelayanan.

Di lain cerita, benar adanya juga bahwa sebagian sekolah maupun masyarakat menyambut baik dan menganggap ini sebagai berkah. Sebut saja misalnya dari masyarakat, sistem ini selain menjawab beberapa hajat pendidikan yang signifikan, seperti peserta didik lebih dekat sekolah, orang tua lebih mudah mengontrol anak–anaknya. Tetapi, perasaan duka mungkin juga dirasakan terutama bagi sekolah yang dulunya hanya didominasi oleh siswa berprestasi kini  bisa ditempati oleh siswa–siswi dengan tingkat kemampuan akademik yang heterogen. Hal ini menjadi garis merah terhadap motivasi dan prestasi belajar siswa, terutama oleh siswa yang bisa dikatakan berprestasi namun harus melanjutkan pendidikanya di sekolah yang bisa dikatakan biasa–biasa saja. Jelas bahwa fenomena menampilkan kisah masa transisi yang cukup dramatis. Namun, kabar baiknya, melalui masa transisi ini juga masing–masing internal instansi sekolah mulai mengoreksi dan melakukan reformulasi diri.

Baca Juga  Selamat !! Sejumlah Dosen UTS Raih Pendanaan Penelitian

Sementara itu, kita sebagai masyarakat haruslah mampu juga menerjemah setiap kebijakan yang ada dengan bijak dan cerdas. Seperti sebuah kata bijak yang mengatakan bahwa langkah yang panjang diawali dengan satu langkah yang pasti hari ini. Artinya ini langkah awal yang ingin diterapkan di negara kita yang tujuannya tidak lain adalah sebagai tiang penyangga yang membawa pemenuhan hajad Pancasila, tentang ‘keadilan’ keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Adil dalam artian yang sebenarnya. Sehingga dari hal ini mampu meminimalisir dan menghilangkan “kasta” dalam pendidikan yang selama ini telah melekat erat dan melabeli beberapa sekolah dengan beberapa brand.

Pastinya semua sistem tidak yang sempurna tetapi proses yang baiklah yang akan menyempurnakanya. Karenanya segala bentuk keraguan dan kekurangan yang sedang terjadi saat ini sangat membutuhkan proses dan ihktiar dari kita semua. Karena apa yang kita perjuangkan hari ini, bukanlah untuk kepentingan sesaat tetapi sesuatu yang manfaatnya untuk  jangka panjang. Semua itu  akan berjalan dengan  adanya satu kesatuan visi, kepercayaan dan rangkulan dari kita sebagai masyarakatnya. Karena hakikatnya, pemenuhan kualitas pendidikan dan anak bangsa adalah tanggung jawab kita bersama, bukan hanya pemerintah atau salah satunya, tetapi rangkulan bersama. (*) 

bankntb BPSK

No More Posts Available.

No more pages to load.