Koperasi di Sumbawa Harus Survive di Era Industrialisasi 4.0

oleh -17 views

SUMBAWA BESAR, SR (30/7/2019)

Perkembangan teknologi dan informasi di era industrialisasi 4.0 ini menuntut semua pihak untuk berdaptasi. Jika tetap bertahan pada pola lama, maka akan tergilas dan tertinggal. Demikian dengan usaha perkoperasian yang selama ini dikenal sebagai soko guru perekonomian Indonesia. Di era tersebut usaha perkoperasian harus relevan dan diharuskan mengikuti perkembangan zaman. Inilah yang menjadi latar belakang digelarnya Seminar Sehari bertema “Koperasi Menuju Era Milenial Memasuki Industri 4.0” oleh Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Sumbawa dalam rangka memperingati Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-72 Tahun 2019, Selasa (30/7/2019). Narasumber dalam seminar tersebut di antaranya Adi Kusmayadi Kabid Industri Diskoperindag dan UKM, Dr. Dedi Heriwibowo dari Bapeda Sumbawa, perwakilan dari Dikoperindag Provinsi NTB dan Ketua Dewan Koperasi Sumbawa.

DPRD

Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Kabupaten Sumbawa, Drs. H. Arief M.Si saat membuka kegiatan itu mengatakan, 72 tahun lalu Koperasi ini lahir yang dipelopori pendiri bangsa Drs. H. Moh Hatta. Ketika koperasi ini dibentuk, Indonesia dalam suasana dan spirit perjuangan kemerdekaan dengan euphoria patriotisme yang masih melekat. Tentunya suasana saat itu pasti berbeda dengan keadaan sekarang. Tentu pola pengembangan koperasi juga berbeda. Kendati demikian semangat patriotisme pada jaman itu harus terus dan digelorakan melalui momentum HUT Koperasi yang diperingati setiap tahunnya.

Baca Juga  Kecintaan Kaum Muda Sumbawa Terhadap Tanah Kelahirannya

Kini memasuki era industri 4.0 dengan perkembangan dan kemajuan yang begitu cepat, ungkap Haji Arief, koperasi harus tetap berlangsung dan hidup. Koperasi tidak boleh jalan apa adanya dan tumbuh hanya berdasarkan keadaan dan waktu. Koperasi harus tumbuh karena adanya inovasi dan dorongan-dorongan yang membuat koperasi itu menjadi bercitra. “Kata kuncinya kita tidak bisa melakukan reakturisasi atau tidak bisa meredifinisikan tentang koperasi yang disemangati patriotisme ketika 72 tahun lalu dengan keadaan Indonesia sekarang ini,” imbuhnya.

Haji Arief—akrab pejabat low profil ini disapa, meyakini koperasi masih relevan untuk survive dalam menghadapi jaman yang begitu berubah dan cepat ini. Pasalnya koperasi itu sumber nilainya adalah keluargaan dan kegotong-royongan. Berbeda ketika nilai dasar itu diganti dengan nilai-nilai baru sehingga membuat terjadi distorsi atau degradasi nilai yang dianut. “Sepanjang tidak berganti nilainya, maka tetap relevan. Yang menjadi masalah bagaimana kita mengaktualisasikan dan mengimplementasikan nilai itu dalam kehidupan kita sehari-hari,” ucapnya.

Untuk tetap berlangsung dan hidup, lanjut Haji Arief, Koperasi menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman kekinian. Jika tidak, akan dilindas dan tertinggal. Era sekarang serba IT. Untuk mengurus sesuatu tidak harus datang ke kantor yang menyita waktu dan biaya. Cukup melalui sistem teknologi secara online baik lewat HP, facebook, WA dan lainnya, pengurusan bisa dilakukan. “Tinggalkan konsep-konsep kerja konservatif karena tidak mewakili ruh dan spiritnya 4.0,” ujarnya.

Baca Juga  Budidaya Siput di Bungin Minta Diperhatikan

Keberadaan koperasi sebagai organisasi dan wadah usaha bersama, menuntut pengurusnya mengedukasi dan mendidik para anggota, lingkugnan bahkan orang di luarnya untuk tumbuh menjadi baik, sehat dan terpenuhi harapan dan cita-citanya. “Jembatani dan fasilitasi mereka, jangan sampai pengurus asyik menikmati mimpinya sendiri. Pengurus harus amanah menghandel organisasi itu dengan benar. Ada kesulitan komunikasikan, ada gagasan disampaikan, diuji, dan dibedah dengan teman-teman lain,” harap Haji Arief.

Sementara itu Ketua Dekopinda Sumbawa, A Rachman menjelaskan, seminar ini dilaksanakan sebagai upaya untuk merubah pola pikir berpikir para pengelola koperasi dari cara tradisional menuju pola modern. Sebab jika tetap menganut sistem yang lama, akan ketinggalan. Untuk beradaptasi dengan era 4.0 ini, pengurus dan anggota koperasi sedapat mungkin menguasai IT, serta berinovasi. Koperasi tidak hanya monoton sebagai wadah simpan pinjam, melainkan menciptakan usaha baru yang bernilai profit. “Kami sedang mencoba sistem jualan online. Kita bekerjasama dengan pengusaha yang tergabung dalam Kadin. Semua kebutuhan konsumen, tersedia. Mereka tinggal klik dan pesan melalui sistem online, akan terlayani dengan cepat,” tandasnya, seraya menyatakan Dekopinda akan terus melakukan pembinaan terhadap anggota dengan turun di semua kecamatan agar koperasi yang dikelola dapat mengikuti perkembangan zaman. (JEN/SR)

DPRD DPRD