Buntut Bentrok Berdarah Pekerja Sumba, Desa Adat Kenakan Sanksi 10 Juta

oleh -15 views

GIANYAR, SR (28/7/2019)

Peristiwa bentrok yang dilakukan sesama perantauan dari Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang terjadi di Desa Keliki, Kecamatan Tegallalang, Gianyar, 23 Juli lalu, masih menyisakan persoalan adat.

Ketika dikonfirmasi Sabtu (27/7), Bendesa Pekraman Sebali Made Mupu menjelaskan, pihak desa adat telah memutuskan untuk memberikan sanksi denda sebesar Rp 10 juta. Mandor proyek telah diminta menyiapkan dana Rp 10 juta tersebut, jika tidak bersedia maka proyek pembangunan tidak boleh dilanjutkan. “Karena kami telah menyiapkan banten pecaruan tepat saat Hari Raya Galungan (24/7) lalu, karena pada peristiwa itu ada darah. Sementara kami talangi dana banten pecaruan itu,” kata Made Mupu.

Sebelumnya, sebanyak 13 buruh bangunan telah ditangkap Polres Gianyar. Mereka merupakan bagian dari dua kelompok buruh asal Sumba, Nusa Tenggara Timur yang terlibat ‘perang’ atau bentrok fisik di daerah Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali.

Kapolres Gianyar AKBP Priyanto Priyo Hutomo SIK MH mengatakan bahwa bentrok fisik dua kelompok buruh bangunan itu bermula dari adanya miskomunikasi antara Yacob Pungo, buruh asal Sumba yang bekerja di proyek Banjar Bangkiang Sidem, Tegallalang, dengan Susanto Rangga, yang juga asal Sumba, bekerja sebagai buruh proyek di Desa Sayan, Ubud. “Masalahnya sepele, hanya karena saling pandang, lalu saling tantang,” kata Kapolres didampingi Kasat Reskrim AKP Deni Septiawan SIK, Kapolsek Tegallalang AKP Gede Sukadana SH dan Kasubag Humas Polres Gianyar Iptu I Ketut Suarnata SH.

Baca Juga  Pelaku Teror di Mabes Polri Adalah Seorang Wanita Simpatisan ISIS

Ia mengungkapkan, berawal dari saling pandang, Yacob bersama enam orang temannya menyusul mencari Susanto ke proyek tempatnya bekerja di Desa Sayan pada Hari Minggu, 21 Juli lalu, namun yang dicari tidak berada di tempat. Tak mau pulang dengan tangan kosong, Yacob lantas menelepon Susanto, terjadi saling tantang, yang akhirnya mereka sepakat bertemu di kawasan Bangkiang Sidem. Namun pertemuan tersebut kembali gagal, karena di tengah perjalanan kelompok Yacob Pungu dicegat pecalang, mereka pun memilih kembali ke proyek. Setelah beberapa hari kemudian, tepatnya pada Selasa, 23 Juli 2019 sekitar pukul 14.00 Wita, Yacob bersama lima orang temannya kembali mendatangi proyek di Desa Sayan untuk mencari Susanto. Begitu menemukan Susanto, kelompok Yacob langsung mengeroyoknya. Susanto yang tak berdaya, memilih lari sembari minta pertolongan.

Kapolres Priyanto menyebutkan, Susanto tidak terima mendapat perlakuan seperti itu, sehingga bersama 11 orang temannya berniat melakukan balas dendam dengan menyerang ke proyek tempat Yacob bekerja di Banjar Bangkiang Sidem, Desa Keliki, Tegalalang pada 23 Juli lalu, sekitar pukul 16.30 Wita. Saat menyerang, empat orang dari 11 orang tersebut membawa senjata tajam. Tiba di proyek Bangkiang Sidem, lanjut Kapolres, kelompok Yacob sudah siap-siap untuk menangkal serangan tersebut. Kelompok Yacob melempari kelompok Susanto menggunakan batu. Saat itu, sejumlah anggota kelompok Susanto lari tunggang-langgang. Sementara Susanto yang tidak berhasil kabur, kembali dikeroyok.

Baca Juga  Suhu Politik Mulai Panas, Polisi Gelar Mantap Praja

Masyarakat setempat yang melihat kejadian, langsung mengamankan bentrokan tersebut. Celakanya, ketika masyarakat mengamankan kelompok satunya, kelompok Yacob justru merusak kendaraan milik kelompok Susanto. Setelah itu, aparat kepolisian pun datang ke tempat kejadian, lalu mengamankan kedua kelompok tersebut. Selain mengamankan para pelaku bentrokan, polisi juga menyita barang bukti, antara lain enam unit sepeda motor berbagai jenis, dua bilah kayu, dua bongkah batu kapur dan empat bilah senjata tajam.

Kapolres mengatakan, pasal yang dikenakan untuk para pelaku bentrok tersebut, tidak sama. Terhadap empat orang yang terbukti membawa senjata tajam yakni Martinus Ndara Ole, Susanto Rangga Dari, Soleman Ndara Kede dan Yohanis Mahemba, dikenakan UU Darurat RI Nomor 12 tahun 1951 tentang kepemilikan senjata tajam tanpa izin, dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara.

Sementara sembilan orang tersangka lainnya, dikenakan pasal 170 KUHP terkait tindak kekerasan dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara, ujar AKBP Priyanto menjelaskan. Untuk proses hukum lebih lanjut, ke-13 tersangka kini ditahan pihak Polres Gianyar sedangkan sejumlah buruh yang lain yang tidak terbukti terlibat, dikembalikan ke tempat mereka bekerja di dua proyek bangunan berbeda. (SR)

bankntb BPSK

No More Posts Available.

No more pages to load.