Pendidikan yang Kontra Produktif Antara Keinginan Orang Tua dan Anak

oleh -64 views
Astati Ngongo

Oleh: Astati Ngongo (Mahasiswa Semester VI Pendidikan Ekonomi Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Samawa (UNSA) Sumbawa Besar)

SUMBAWA BESAR, SR (26/6/2019)

Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).

Dalam dunia pendidikan saat ini  hal yang paling utama yaitu setiap orang berhak menuntut ilmu setinggi-tingginya. Banyak orang tua yang memanfaatkan kesempatan ini dengan  mengirim anak-anaknya bersekolah ke luar daerah dengan harapan agar mereka memiliki masa depan yang baik dan berdaya guna. Namun kenyataan menunjukan bahwa dalam memilih jurusan pendidikan, orang tua memiliki hak priogratif. Anak terkesan dipaksa. Meski demikian, anak tetap mengikuti saja. walaupun tidak sesuai dengan minat dan bakatnya yang dimilikinya. Fenomena lain kemudian, bahkan demi mencapai keinginan dan  ambisi orang tua  anak dipaksa untuk mengikuti pendidikan tambahan di luar jam sekolah seperti les tambahan mata pelajaran tertentu walau harus  dibayar mahal. Seakan-akan cita-cita orang tua yang harus dipenuhi atau dicapai dan bukan cita-cita anak, sehingga banyak anak yang memiliki setumpuk  gelar tanpa pekerjaan. Pada akhirnya orang tua memaksa anak menjadi seperti yang mereka inginkan, anak tidak bisa berbuat apa-apa. Bisa saja lantaran mereka takut, terlalu menyanyangi orang tua, tak ingin menyakiti orang tua, dan bermacam alasan lainnya. Anak akan menuruti keinginan orang tuanya jauh di dalam hati ia tidak bahagia. Ia merasa hidupnya hampa, tertekan, dan menakutkan. Menurutnya, orang tua terlalu kuat dalam mengatur dan memaksakan rencana hidupnya. Anak menjadi tidak bebas menentukan pilihannya. Semua pilihan telah ditentukan oleh orang tua. Sistem pendidikan kita sekarang ini yang lebih kecendrungan mendidik orang untuk menjadi orang besar atau pejabat tetapi bukan untuk mandiri mengembangkan minat dan bakat yang dimiliki. Sistem pendidikan kita juga mendidik orang untuk meraih prestasi pendidikan dengan indeks prestasi yang tinggi walau tanpa kemampuan atau keahlian untuk menerapkan ilmu yang di milik. Setiap orang tua menginginkan yang terbaik buat anaknya, anak pun mengharapkan masa depan yang terbaik. Di sisi lain seringkali terjadi benturan keinginan antara anak dan orang tua. Pandangan hidup, ekpektasi, idealisme antara anak dan orang tua tak sejalan.

Baca Juga  Konstribusi Nyata Mo—Novi, Bangun Pendidikan di Tana Samawa

Patut diakui bahwa orang tua merupakan salah satu faktor utama dalam mendukung anak untuk mencapai cita-cita masa depan melalui bidang pendidikan. Mereka menjadi motivator dasar bagi anak untuk belajar saat berada di rumah. Namun, orang tua perlu melibatkan anak dalam menentukan pilihan jurusan atau bidang yang tentunya sesuai dengan minat dan bakat anak. Lembaga pendidikan memiliki peranan penting dalam mendidik anak untuk meraih cita-cita masa depannya. Hal mendesak yang harus diperhatikan, pertama: ajaklah anak memberi pendapat tentang sesuatu yang akan anda buat bagi dirinya termasuk bagi masa depan pendidikan dan pekerjaannya. Kedua: sistem pendidikan kita sedapat mungkin menghargai sekaligus memberi ruang bagi anak untuk mengembangkan minat bakatnya demi meraih cita-cita masa depannya.

Dengan melihat problema yang terjadi, apabila anak dipaksa. Akibatnya, selama sisa hidupnya, anak tidak akan bahagia anak akan terus-menerus tertekan. Ia menjalani pilihan orang tuanya dengan berat hati. Tekanan jiwa hidupnya kurang bahagia dapat berpengaruh pada kesehatannya. Tak tertutup kemungkinan kondisi fisik dan psikis anak menurun. Tubuh dan jiwanya tak sehat, hidupnya menjadi tidak segar. Bahkan bisa kehilangan semangat hidupnya. Anak yang telah kehilangan harapan untuk mewujudkan cita-citanya karena orang tua akan menjalani hidupnya dengan keterpaksaan. Akibat lain pun anak menjadi memberontak. Anak yang menjadi korban paksaan orang tua berpotensi mempunyai keinginan untuk memberontak orang tuanya. Mereka marah,ingin memprotes, akan tetapi sikap orang tua yang otoriter membuat mereka takut dan tak berdaya. Bukan hanya memberontak, anak pun akan tertutup terhadap orng tuanya. Mereka menjauh dari orang tuanya. Lebih memilih meutupi semua problemnya sendiri. Mereka kesulitan membina hubungan komunikasi yang baik dengan orang tuanya. Ada rasa enggan, takut dan was-was. Orang tua tak lagi menjadi sosok hangat dan penyayang di mata mereka. Melainkan menjadi sosok pemaksa, keras dan tegas.

Baca Juga  SMA 1 Sumbawa Kembali Rebut Juara Umum Olimpiade SAINS

Harapan penulis melihat kondisi yang terjadi yaitu orangtua memberikan kepercayaan bahwa anak sangat mencintai dan menyanyangi orang tua, membuat anak menjadi nyaman terhadap orang tua, mendengarkan pilihan si anak. karena anak berhak menentukan pilihan hidupnya kedepan, membuat suasana nyaman terhadap persepsi anak dengan orang tua, mendukung apapun keputusan finalnya selama keputusan tersebut tidak memberi dampak buruk bagi kelangsungan hidup anak.  (*)

bankntb BPSK

No More Posts Available.

No more pages to load.