Tantangan Guru Milineal Sebagai Aktor Pendidikan

oleh -31 views
Desi Susanti

Oleh: Desi Susanti, Mahasiswi Program Studi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Samawa)

SUMBAWA BESAR, SR (25/4/2019)

Arus globalisasi saat ini telah benar-benar berkomitmen merubah dunia. Hal ini bisa dilihat pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat dan cepat. Globalisasi mempengaruhi berbagai kebutuhan dan pola tingkah laku peradaban manusia dari berbagai lini kehidupan. Salah satunya melalui bidang pendidikan. Adanya perkembangan teknologi yang semakin modern, tentu memberikan keluasan pengetahuan bagi para tenaga pendidik. Realita yang terjadi, munculnya berbagai stigma-stigma dari luar bahwa pendidikan saat ini mengalami ketidakselarasan antara proses dan karakter aktor pendidikan. Eksistensi pendidikan sebagai sebuah investasi sumber daya manusia, nampaknya tidak mampu menjawab ketakutan yang dirasakan masyarakat. Pendidikan sebagai sebuah investasi, sebab pendidikanlah tempat penanaman benih-benih potensi manusia yang kemudian akan memiliki nilai jangka panjang dan tentunya berguna bagi kelangsungan hidup setiap individu yakni anak didik.

Salah satu komponen paling penting dalam pendidikan adalah guru itu sendiri. Berbicara konteks pendidikan, guru ikut andil dalam menyukseskan dan mencerdaskan anak didik. Hal ini disebabkan gurulah yang berada pada garis terdepan dalam pelaksanaan pendidikan. Gurulah yang bertatap muka secara langsung mentransfer ilmu-ilmu pengetahuan dengan sentuhan-sentuhan dan keteladanan yang dimilikinya.  Sehingga guru harus memiliki kualitas. Sejalan dengan hal itu, menurut Kunandar (2010:61) guru yang bermutu atau berkualitas ada lima komponen antara lain: pertama,  bekerja dengan siswa secara individual. kedua, persiapan dan perencanaan mengajar. ketiga, pendayagunaan alat pengajaran. keempat, melibatkan siswa dalam berbagai pengalaman. kelima, kepimpinan aktif dari guru .(Buku Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dan Sukses Dalam Sertifkasi Guru).

Guru Hedonis

Secara etimologi, hedonisme diambil dari bahasa yunani, yaitu “hedone” yang artinya kesenangan. Hedonisme identik dipahami sebagai sebuah etika yang diwujudkan dengan gaya hidup yang menjadikan  kesenangan sebagai tujuan utama. Selain itu, Collin Gem(1993:97) menyatakan bahwa istilah hedonisme merupakan doktrin yang menyatakan bahwa kesenangan adalah hal yang paling penting dalam hidup. Saat ini generasi telah mengalami kemunduran, bahkan degradasi dibanding generasi sebelumnya. Guru merupakan modeling bagi anak didik, maka haruslah bersifat mendidik baik dari cara bersikap, bertutur kata bahkan berpenampilan dan berkelakuan. Gaya hidup hedonis telah diadopsi oleh sebagian kalangan masyarakat termasuk kalangan para guru. Menurut Kottler (2006) menyatakan ada dua faktor yang mempengaruhi gaya hidup hedonis seseorang , yaitu pertama, faktor internal yaitu berasala dari dalam diri individu seperti sikap, pengalaman, pengamatan, kepribadian, konsep diri, motif dan persepsi. Kedua, faktor eksternal yaitu berasal dari luar diri individu seperti kelompok referensi, keluarga, kelas social, dan kebudayaan.

Perkembangan teknologi menggerogoti pola pikir bahkan penampilan guru masa kini. Para guru menikmati kemudahan teknologi hingga menjadi sebuah kebiasaan bahkan rutinitas. Salah satu kemudahan tersebut yaitu adanya aplikasi internet. Kehadiran aplikasi-aplikasi internet membuat guru lebih bersifat konsumtif, mengoleksi barang-barang seperti pakaian, sepatu, tas dan lain sebagainya secara berlebihan, sehingga timbullah persepsi bahwa guru masa kini bergaya hedonis.

Adapun dampak yang akan timbul dari guru yang terbiasa konsumtif, ialah pertama, malas mengajar. Setiap orang yang telah terbiasa memegang gadget maka kefokusannya tidak lagi pada anak didik. Bahkan orang yang terbiasa konsumtif, akan seperti itu dimanapun dan kapanpun. Kedua, penampilan yang berbeda-beda setiap hari. Guru adalah model. Maka sepantaslah seorang guru menampakkan kesederhanaan. Pola mendidik yang sederhana mulai dari penampilan akan melahirkan peserta didik yang berkarakter mulia. Ketiga, ilmu pengetahuannya rendah. Setiap orang khususnya perempuan memiliki sifat tidak puas. Apalagi orang yang terbiasa konsumtif, sudah tentu akan mengelola pikirannya untuk menjaga penampilan. Jika mendoktrinasi diri dengan pola seperti ini, maka akan membuat guru tersebut malas membuka buku-buku mata pelajaran, tidaklah mencari solusi mengenai cara mengajar yang efektif yang sesuai dengan karakter anak didik. Ketika mengajar ada ketidak-puasan anak didik menerima pelajaran. Hal ini disebabkan kurang pahamnya terhadap apa yang disampaikan guru.

Baca Juga  Rebut Nominasi Terbaik, Bupati Sumbawa Presentasikan Pengembangan Pendidikan Islam

Guru Gaptek (Gagap Ilmu Teknologi)

Menurut Surya (dalam Kunandar :2010), Guru yang professional akan tercermin dalam pelaksanaan pengabdian tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam materi maupun metode.(Buku Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat satuan pendidikan dan sukses dalam sertifkasi guru).  Tantangan selanjutnya dalam masa peradaban guru sebagai actor pendidikan ialah terkait mengenai pemahaman iptek. Iptek sebagai salah satu penunjang keberhasilan proses pembelajaran dimasa depan. Sebagian guru tentu tidak setuju dengan kata guru gaptek. Setuju tidak setuju, suka tidak suka inilah kenyaatannya, bahwa guru adalah memang masih menggunakan budaya lama yaitu metode konvensional dalam proses pembelajaran. Guru yang tidak bisa menguasai iptek adalah guru yang mengalami kemunduran disaat zaman telah berubah. Anak didik tidak lagi bisa dihalangi betapa teknologi telah menggerogoti otaknya. Lantas, guru yang seharusnya mengajar malah anak didik yang menjadi pengajar. Pengalihan profesi yang tak lazim tentunya. Guru milineal adalah guru yang mampu berafiliasi dengan kondisi sekitar, termasuk pembaruan teknologi. Guru yang baik tentulah mampu mempelajari dan memahami apa saja dampak posiif dan negative dari iptek sehingga kemudian tidak berlutut pada pola-pola lama(konvensional) tanpa mau mengambil bagian dari pembaharuan zaman. Guru harus mampu menyesuaikan diri dan bersikap responsif. Responsif maksudnya guru harus bisa menguasai produk iptek agar tidak diberi predikat guru gaptek.

Guru Sosialita

Di era modern saat ini jejaring sosial facebook telah mampu menghipnotis semua kalangan, baik orang tua, pemuda, guru, bahkan anak-anak. Kelebihan yang dimiliki  facebook menjadikan setiap orang berhak mengelola akunnya sesuai seperti yang ia inginkan. Bahkan sudah menjadi teori umum bahwa sesuatu akan bermanfaat secara baik maupun buruk, tergantung yang memakai dan niat yang memakai. Namun, kadang-kadang yang terjadi, pengguna facebook memposting foto atau pun kegiatannya kadang-kadang tidak bisa mensortir apa yang baik dan tidak baik dipertontonkan di dunia maya. Sebagian guru juga melakukan hal yang sama. Anak didik yang merupakan pembelajar akan selalu mencontohi bagaimana keseharian gurunya. Apalagi zaman modern, hampir seluruh tingkatan anak didik mengenal facebook. Contoh, guru memposting penampilannya di facebook tanpa mensortir dengan baik, apabila ia berteman dengan anak didiknya di facebook, maka secara otomatis akan diikuti oleh anak didiknya. Oleh karena itu, sangat perlu seorang guru menjaga tingkah lakunya di dunia maya. Sebab, ditangan gurulah akan dihasilkan peserta didik yang berkualitas baik secara akademis, skill, kematangan emosi anak, maupun moral anak didik.

Baca Juga  Salut, Dana Aspirasi DPRD Sumbawa Pro Pendidikan

Guru Ideal (Kreatif, Aktif, Solusif, Dan Inovatif)

Setiap generasi khususnya anak didik, tentu mendambakan seorang guru yang ideal. Ideal dalam segala lini khususnya dalam bidang pendidikan. Guru yang benar-benar memiliki jiwa pendidik sejati tanpa pencitraan. Guru ideal adalah guru yang kreatif menangani permasalahan anak didik, aktif dalam proses pembelajaran, solutif ketka anak didik dalam penanganan permasaahan anak didik dan selalu inovatif dalam mengelola segala hal baru untuk pengembangan minat dan bakat anak didik.

Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2005:42) profil guru yang ideal adalah sosok yang mengabdikan diri berdasarkan panggilan jiwa, panggilan hati nurani, bukan karena tntutan uang belaka, yang meebatasi tugas dan tanggungjawabnya sebatas dinding sekolah. Lebih lanjutnya ia memaparkan bahwa guru yang ideal adalah guru yang selalu ingin bersama anak didik didalam dan diluar kelas. Bila melihat anak didiknya menunjukkan seperti sedih, murung suka berkelahi, malas belajar, sakit dan sebagainya guru merasa prihatin dan tidak jarang pada waktu tertentu guru harus memikirtkan bagaiman perkembangan pribadi anak didiknya. Jadi, kemuliaan hati seorang guru tercermin dalam kehidupan sehari-hari buka hanya sekedar symbol atau semboyan yang terpampang di kantor dewan guru.(Buku Guru Dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif).

Dengan melihat realita yang ada, maka guru ideal sangat dibutuhkan dalam kontek pendidikan. Pertama, Guru kreatif adalah guru yang mampu mengelola sekitarnya dengan baik. Kreatfitas ini tentu hanya ada pada karakter guru yang bukan mementingkan penampilan (hedonis) akan tetapi guru yang selalu peduli akan anak didiknya. Kepeduliaannya tercermin bagaimana guru itu mengemas pola-pola mengajar agar nampak menyenangkan. Kedua, guru yang aktif .merupakan guru yang selalu ikut andil dalam meramu bagaimana proses pembelajaran menjadi asyik. Karena seperti kita ketahui bersama anak-anak sekarang sudah lebih menyenangi bermain mobile legend ketimbang belajar. Permainan yang menyuguhkan segala macam yang mampu menyenangkan hati para penikmatnya termasuk anak didik (sekolah). Sehingga guru harus menawarkan gaya mengajar yang menyenangkan bagi anak agar kejenuhan itu bisa diminimalisir.Ketiga, Guru Solutif adalah guru yang secara cepat dan tanggap dalam penangganan permasalahan anak didik. Seperti ketika anak sedang mengalami permasalahan dengan teman sebayanya . guru hadir menjdi ibu bagi anak didik. Memotivasi dan memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi anak didik. Keempat, Guru Inovatif artinya keberadaan guru haruslah mampu menciptakan dan mengelola hal-hal baru yang berguna dalam proses pengembangan potensi maupun pada proses pembelajaran berlangsung. Contohnya, seorang guru mampu mengemas model pembelajaran baru dalam proses pembelajaran sehingga kepuasan hasil belajar dapat tercapai.

Munculnya tulisan ini bukan memvonis seorang guru tidak mampu menjadi ideal seperti yang diharapkan. Akan tetapi dengan segala realita yang terjadi, penulis mencoba memaparkan agar kemudian seorang guru yang perannya adalah mendidik dapat meminimalisir kejadian-kejadian yang tidak diinginkan seperti yang telah dipaparkan diatas. Harapan penulis pula tulisan ini dapat memberikan manfaat baik bagi guru maupun calon guru, bahwa seorang guru itu adalah modeling baik bagi anak didik, dan orang lain di sekitarnya baik saat berada di sekolah maupun diluar sekolah, sebab proses pendidikan tidak dibatasi oleh waktu. (*)

bankntb BPSK

No More Posts Available.

No more pages to load.