Beasiswa Aktivis Bukan untuk Membungkam, Irwan: Agar Mereka Lebih Kritis

oleh -19 views
Tim LPP NTB saat melakukan lobi-lobi dan kerjasama pendidikan dengan sejumlah perguruan tinggi di berbagai negara

MATARAM, SR (20/6/2019)

Direktur Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) NTB, Irwan Rahadi mengatakan, beasiswa untuk aktivis tujuan Malaysia adalah beasiswa yang diberikan kepada para pemuda yang selama ini aktif di berbagai kegiatan dalam organisasi sosial kemasyarakatan, sehingga memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat melalui organisasinya itu. Terdapat 120 Awardee untuk aktivis ini. Pemberian beasiswa ini tidak bertujuan untuk membungkam aktivis. Justru untuk membuat mereka semakin kritis dan kaya dengan gagasan inovatif untuk kemajuan bangsa. “Jadi jika ada yang bilang beasiswa aktivis bertujuan membungkam aktivis, itu tidak benar dan salah besar,” tegas Irwan—akrab pria yang juga mantan aktivis ini.

Dijelaskan Irwan, beasiswa untuk aktivis ini memang berbeda dari beasiswa lainnya karena tidak mensyaratkan kemampuan bahasa yang didukung sertifikat bahasa seperti TOEFL atau IELTS. Meski demikian, untuk dapat diterima pada universitas di Malaysia, para Awardee minimal memiliki sertifikat MUET (Malaysia University English Testing). MUET adalah alternatif untuk mereka yang belum mengantongi sertifikat IELTS dan TOEFL IBT.

Untuk menjamin 120 Awardee diterima oleh kampus-kampus di negeri jiran tersebut, ungkap Irwan, LPP-NTB membantu Awardee dengan melobi pihak penyelenggara tes satu-satunya ada di Jakarta untuk mengadakan tes di Mataram. Selain itu, LPP-NTB juga membantu Awardee dengan memberikan subsidi dalam mengikuti tes MUET. Dengan subsidi ini Awardee yang seharusnya merogoh kocek Rp 3 juta lebih, hanya membayar Rp 1,1 juta. “Kami berupaya membantu Awardee untuk meringankan biaya tes MUETnya. Sebenarnya, kalau seperti beasiswa regular Awardee-lah yang bertanggungjawab sepenuhnya terhadap kemampuan bahasa yang dibuktikan dengan hasil tes. Namun kami ingin seluruh Awardee dapat lulus belajar di Malaysia,” timpal Imanuella Andilolo, Divisi Kerjasama LPP NTB.

Baca Juga  Ali Sakti Versus Suhaili Amin Adu Taktik Raih Simpati Rakyat

Awalnya, kuota untuk program beasiswa S2 ke Malaysia ini hanya untuk 20 orang sesuai dana yang tersedia. Namun, setelah tim LPP NTB berkoordinasi dengan Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, kuota tersebut ditambah menjadi 120 orang. Untuk menyiasatinya, pihaknya mengalokasikan dana dari beasiswa lain. “Contohnya dari beasiswa China, dimana saat itu kami mendapat kuota yang cukup banyak namun Awardee yang memenuhi kriteria sedikit,” jelas Ima—panggilan wanita jebolan perguruan tinggi luar negeri ini.

Diakuinya, animo anak muda NTB mengikuti program beasiswa aktivis ini sangat tinggi. Pendaftaran dibuka pada 8-18 Mei 2019 lalu. Sebanyak 413 orang mendaftar dalam kurun waktu tersebut. Dari jumlah tersebut yang berhasil lulus dalam seleksi administrasi mencapai 253 orang. Selanjutnya mereka menjalani seleksi berikutnya, yaitu wawancara. Hasil akhirnya, 120 peserta yang dinyatakan memenuhi kualifikasi mendapatkan beasiswa NTB.

Terkait latar belakang organisasi atau afiliasi para penerima beasiswa aktivis ini, Sri Hastuti selaku Sekretaris LPP NTB mencatat sebanyak 52 afiliasi. Dari jumlah itu, awardee terbanyak berasal dari latar belakang 10 organisasi. Yaitu HMI, KAMMI, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Karang Taruna Desa di NTB, HIMMAH NW, Sekolah Guru Indonesia (SGI), POKDARWIS, Ikatan Alumni Pondok Pesantren di NTB, Orang Muda Katolik Mataram dan Genre NTB. “Mereka akan diberangkatkan secara bertahap Bulan September nanti,” tandasnya. (SR)

BPSK dukacita dukacita bankntb