Berprestasi di Tanah Rantau, IKPMS-M Juara Gebyar Seni Budaya Nusantara

oleh -25 views

MALANG, SR (2/5/2019)

Menjadi perantau bukan berarti tidak bisa berprestasi. Berada di daerah orang bukan berarti melupakan daerah sendiri. Inilah yang ditunjukkan mahasiswa asal Sumbawa yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Sumbawa-Malang (IKPMS-M). Meski berada di daerah orang, mereka mampu mengharumkan nama Sumbawa. Ini dibuktikan keberhasilan IKPMS-M melalui Sanggar Kemas Maras, meraih juara pertama Gebyar Seni dan Budaya. Mengusung Tari Samalewa, IKPMS-M mengalahkan belasan organisasi daerah lainnya. Kegiatan yang bertajuk Arkamaya Budaya Indonesia 2.0 diinisiasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dirangkaikan dengan pengukuhan lembaga baru, Forum Orda di UMM.

Miftahul Hasanah, Ketua Pelaksana Kegiatan tersebut mengungkapkan, kegiatan ini dimaksudkan sebagai wadah silaturrahmi antar organisasi daerah yang ada lingkup Universitas Muhammadiyah Malang. Arkamaya Budaya Indonesia 2.0 memiliki 4 kategori lomba yaitu, Parade Budaya, Stand, Fashion Show serta Gebyar Seni dan Budaya. Untuk pemenang Parade Budaya kali ini diraih Mahasiswa Tatas Suhu Trasna Lombok Tengah (Matur Lombok), pemenang kategori Stand dan Fashion Show diraih Ikatan Pelajar Mahasiswa Kota Waringin Timur (IPMK Malang) sedangkan kategori Gebyar Seni & Budaya untuk juara pertama diraih oleh Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Sumbawa–Malang (IKPMS-M) disusul Ikatan Mahasiswa Banyuwangi (IWANGI) dan Ikatan Pelajar Mahasiswa Kota Waringin Timur (IPMK Malang) di posisi kedua dan ketiga. Berdasarkan hasil per kategori, panitia menentukan bahwa Ikatan Pelajar Mahasiswa Kota Waringin Timur (IPMK Malang) menjadi juara umum pada kegiatan Arkamaya Budaya Indonesia 2.0.

Baca Juga  Buku “From Sumbawa With Dream” Dilaunching dan Dibedah

Sementara Dewan Pembina Sanggar Kemas Maras, Ferdy Marta Yuliansyah menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wadah aktualisasi diri mahasiswa Sumbawa di Malang dalam mempromosikan ‘Desa Darat’ terutama dalam bidang seni dan budaya. Terlebih, talent yang disertakan dalam perlombaan tersebut adalah mahasiswa dan mahasiswi yang didominasi angkatan 2018 (mahasiswa baru).

Ferdy mengaku bahwa pengikutsertaan mahasiswa baru dalam pagelaran ini bukan tanpa sebab, melainkan sebagai bentuk perhatian untuk membangun regenerasi, baik di sanggar maupun kelembagaan IKPMS-M sendiri. “Lama kita berorganisasi, bahwa yang namanya regenerasi itu penting, dan akan selalu dibutuhkan. Artinya selama kita memikirkan tentang sesuatu yang bisa kita katakan hal mendasar semacam itu, maka selama itulah kita akan mampu menyingkirkan sedikit ego kita untuk sejenak melihat kepada yang muda-muda,” terang Ferdy.

Diakuinya, ada beberapa mata lomba yang diikuti selain Seni dan Budaya, seperti Parade Budaya, lomba Stand terkreatif, dan Fashion Show. Namun tidak setiap mata lomba bisa dimaksimalkan karena kurangnya annggaran dalam pengadaan bahan yang diperlukan. Ferdy juga menegaskan, besar harapan pada kegiatan mendatang bisa lebih baik. “Semoga sumber dana maupun bantuan dari pemerintah daerah dapat memenuhi biaya yang sudah ditentukan sehingga bahan yang dibutuhkan mampu direalisasikan agar dapat memaksimalkan semua kategori lomba yang ada.

Ketua Umum IKPMS-M, Fiqri menambahkan, kendala dalam proses ini sebenarnya adalah masalah klasik dari tahun ke tahun. Ia mengungkapkan, setiap agenda Orda dan Sanggar dilakukan atau dibiayai secara mandiri atau swadaya. “Upaya kita sejauh ini adalah memposisikan diri sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah daerah dalam promosi daerah, cuman kalau menurut ketua sanggarnya sendiri, secara original pagelaran seni ini akan selalu dibaurkan dengan seni kontemporer untuk mengimbangi karya seni daerah lain, mengingat karakter musik dan gerak budaya lain itu terlihat lebih ramai, namun tetap pada esensinya tidak meninggalkan nilai-nilai asli tau tana Samawa,” ujar Fiqri. (SR)

bankntb BPSK

No More Posts Available.

No more pages to load.