OPINI: Urgensi Pendidikan Multikultural, Resolusikah?

oleh -16 views

Oleh : A n i t a *   (Ai Puntuk, Desa Serading.  Kec. Moyo Hilir,  Kab. Sumbawa Besar)

Satu bulan sudah tahun berganti.  R-e-s-o-l-u-s-i adalah kata yang ingin diwujudkan oleh setiap pribadi. Baik resolusi kematangan kepribadian, kemapanan hingga resolusi yang berarti kemahiran menerjemah hal–hal berfaedah dan mengurangi yang merugi. Karena sudah banyak kisah pada usia yang kian menua membuat kita menjadi pribadi yang menerima setiap keadaan dengan lebih mendewasa. Kata Resolusi yang selalu bergandengan dengan pergantian tahun juga menuntut dan menyisakan harapan  atas ketertinggalan-ketertinggalan yang harus diluruskan dan terlunaskan. Baik bagi pribadi sendiri, orang–orang  terkasih, rekan–rekan bersosialisasi hingga pada Sang Maha Pengasih. Karenanya pergantian tahun tidak pernah absen dibaluti moment yang menurut masing–masing pribadi memberikan arti, baik sebagai apreasiasi akan kesempatan hidup juga sebagai bentuk refleksi dan intropeksi diri. Sejatinya kata ‘Resolusi’ mempunyai kekuatan mendikte tiap–tiap pribadi untuk memenuhinya. Hanya saja   bentuk dan upaya mencapainya yang berbeda. Namun, pada intinya ‘sama’ seperti yang dikutip dari The New York Times menyebutkan bahwa resolution is to create new narratives for ourselves and to look for events as an opportunity to change naratives (Charles Duhigg Author of the power of Habbit).

Menggarisbawahi kata RESOLUSI,  pada dasarnya masing–masing pribadi berpotensi memberikan sumbangsih terhadap resolusi dalam cakupan makro seperti yang terjadi di tahun politik ini, masyakarat  sangat akrab dengan berbagai suguhan wacana yang kadang bias. Intoleransi dan politisasi kian menjadi. Parahnya lagi, masyarakat dengan mudahnya mencipta dan sebagiannya terseret oleh wacana–wacana yang kian tidak jelas arah. Agama, suku, adat, golongan menjadi terbeku. Korbannya pun semakin melimpah mulai dari yang tua, hingga remaja. Ditambah lagi diskusi–diskusi dan aksi minim edukasi dengan santainya tersampaikan dan terpublikasi dengan kehadiran sosial media sebagai akibatnya kekerdilan menerjemah setiap keadaanpun tidak bisa dipungkiri.    Apabila dikatakan bahaya, pastinya “sangat”. Baik bagi masyarakat (saat ini), generasi muda dan generasi mendatang. Karenanya menanggapi dan memberikan follow up yang tepat merupakan salah satu aktualisasi resolusi. Baik oleh pemerintah, tokoh–tokoh masyarakat dan agama, elit politik, para akademisi, para generasi muda serta masyarakat secara keseluruhan.

Baca Juga  Kapolres dan Ketua Pelti NTB Galang Dana untuk Olipia

Sangat diakui, wacana semacam ini bukanlah hal yang baru karena diketahui bahwa para pendahulu (founding fathers) telah mengikraran keanekaragaman negara kita menjadi idealisme dan bahkan prinsip  negara. Pada kenyataannya sampai sekarang, detik ini hal tersebut tetap saja masih disoalkan dengan panjang. Padahal berbagai seminar, sosialisasi yang diselenggarakan bahkan wacana melimpahpun setiap waktunya. Lantas pertanyaanya, apakah berpengaruh ? Jawabannya adalah sangatlah insignificant.        Belajar dari negara–negara maju seperti Amerika dan negara–negara Eropa yang mempunyai huge diversity,  memanfaatkan ruang pendidikan secara maksimal sebagai tindakan preventif dan kuratif dalam diversity issues. Ruang pendidikan yang dimaksud tersebut adalah pendidikan multicultural. Pendidikan multikultural pertamakali dikembangkan di Amerika Serikat yang bertujuan menimalisir berbagai diskriminasi yang terjadi, baik perbedaan kulit putih, hitam dan para imigan. Di Negara kita sendiri, perbedaan, suku, adat istiadat, agama, ras, budaya dan sederet perbedaan dan keanekaragaman lainnya menjadi rentetan satu kesatuan dalam Ke-bhineka-an bangsa. Namun, melihat kenyataan yang menyangkalnya maka penerapan pendidikan multikultural berada pada urgensitas yang sangat tinggi. Spesifiknya membuka ruang dan pemahaman (open-minded) kepada anak–anak, peserta didik, dan generasi mendatang untuk tidak apatis dan berpikir sempit terhadap perbedaan–perbedaan yang ada di lingkungan mereka. Sehingga dari hal tersebut seperti yang dihajatkan oleh James Banks pencetus pendidikan multikultural, terciptalah pengakuan atas pluralisme yang ada, yaitu saling memahami dan menerima satu sama lain (mutual understanding) yang pada ujungnya juga menjadi kekuatan yang menyatukan satu sama lain (mutual integrating force). Di akhir tahun 2018 tepatnya 7 Desember, berdasarkan hasil penelitian tentang Indeks Kota Toleran (IKT) yang dilakukan oleh SETARA Institute menyatakan bahwa berdasarkan 4 indikator (regulasi daerah yang kondusif dan terbuka bagi upaya promo toleransi, pernyataan dan tindakan aparatur pemerintah yang menyokong ruang toleransi, tingkat peristiwa dan tindakan pelanggaran kebebasan beragama dan indikator yang terakhir adalah tata kelola keberagaman yang efektif yang dilakukan oleh kota tersebut atas identitas keagamaan warganya) dari 96 kota di seluruh nusantara, hanya 10 kota yang memenuhi beberapa aspek untuk bisa dikatakan Kota Toleran. Hasil survei ini kurang lebihnya menampilkan wajah intolerance masih merajai negara kita. Karenanya sekali lagi menanggapi hal tersebut maka kehadiran pendidikan multikultural merupakan langkah jitu dan clear cut solution memutuskan mata rantai hal tersebut. Cukuplah suku, agama, Ras, golongan atau apapun perbedaan yang ada dijadikan sandera fanatisme dan kekerdilan menerjemahkan kemajemukan yang ada. Cukuplah hanya generasi kita yang rasakan bagaimana idealisme dan prinsip bangsa yang sudah terpatri suci masih disoalkan, dan cukup generasi kita yang rasakan diasingkan dalam pengakuan. Sekali lagi, cukup ! Kini, 73 tahun Indonesia merdeka tetapi masih terseok oleh masalah serupa, kapan berubahnya ?  Selain dari itu, pendampingan pendidikan multikultural juga merupakan tindakan responsif terhadap isu bonus demografis (Proporsi Usia Produktif). Dimana kualitas pendidikan dan generasi muda menjadi acuan. Apabila pendidikan dan generasi mudanya berhasil, maka bonus pembangunan adalah hal pasti. Sebaliknya apabila gagal, maka bencana demografis pun tidak bisa dipungkiri. Karenanya, menyiapkan sumber daya manusia (dalam rangkulan yang sama) menjadi kekuatan bagi kemajuan dan keutuhan bangsa. Besar harapan, pendampingan pendidikan multikultural adalah salah satu resolusi yang harus teragendakan dalam program kerja baik pendidik (selaku garda terdepan dalam pendidikan untuk dapat diadaftasikan dengan pelajaran lainnya) dan semua stakeholder pendidikan, pemerintah, para akademisi dan terutama sekali para calon anggota dewan baik kabupaten, provinsi dan terutama sekali anggota dewan pusat untuk menyuarakan dan menyisipkan program SDM spesifiknya lagi pendidikan multikultural untuk secara consern diterjemah. Sekali lagi, resolusi pendampingan pendidikan multikultural merupakan salah satu warisan dan modal terbesar untuk mewariskan sumpah, janji, perjuangan para pendahulu kepada generasi mendatang. Seperti diketahui bahwa generasi mendatang merupakan aset yang sangat berharga. Wacana yang melimpah meng-iya-kan bahwa dari berbagai dimensi, generasi mendatang adalah harapan. Kualitas dan kuantitasnya berpengaruh secara signifikan terhadap derap peradaban dan pembangunan. Sejatinya, semua yang kita usahakan hari ini adalah bekal dan modal bagi mereka. Sehingga pada akhirnya, generasi siap aksi, siap mengabdikan diri, menjunjung tinggi NKRI adalah goal kita bersama.

Baca Juga  Inovasi Peternakan, KKN PPM UTS Rubah Serading Jadi Debest

Selamat tahun tahun baru dan selamat ber-resolusi ! (*)

iklan bapenda