Home / Ekonomi / Atasi Malnutrisi, HBK: Berdayakan Pekarangan Rumah

Atasi Malnutrisi, HBK: Berdayakan Pekarangan Rumah

MATARAM, SR (23/11/2018)

Ketua Badan Pengawas dan Disiplin (BPD) Partai Gerindra, H. Bambang Kristiono (HBK), mengingatkan, pemanfaatan lahan pekarangan rumah menjadi satu di antara alternatif mewujudkan kemandirian pangan dalam rumah tangga. Menurut HBK, pemberdayaan keluarga harus didahulukan kemudian ketahanan pangan dapat tumbuh dan berkembang. “Tanah pekarangan, bila dikelola dengan baik dan sungguh-sungguh sangat membantu kehidupan rumah tangga, baik dalam peningkatan penghasilan maupun perbaikan nutrisi keluarga,” kata HBK di sela-sela mengikuti acara Yasinan bersama warga Presak Timur, Kota Mataram, Kamis (22/11).

HBK mengaku telah melakukan perjalanan ke desa-desa di semua kabupaten di Lombok dan berdialog dengan banyak keluarga. Tidak jarang dia masih menemukan keluarga yang kekurangan nutrisi. “Ini pentingnya pendidikan ketrampilan mengelola tanah pekarangan,” lanjutnya.

Jika masyarakat desa trampil mengelola pekarangan dengan bayam, sawi, kacang panjang, tomat, cabe maupun jenis tanaman yang cocok ditanam di pekarangan, persoalan malnutrisi atau kekurangan gizi keluarga akan teratasi. Sebenarnya pemerintah melalui banyak dinas maupun badan-badan di daerah telah mempunyai program-program ketahanan pangan, dan didukung dengan anggaran yang besar. “Sayangnya, program-program tersebut tidak diinternalisasi khususnya ke keluarga-keluarga di pedesaan. Sehingga program-program yang disosialisasikan tidak berkelanjutan,” katanya.

Misalnya, program nasional Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), program nasional untuk ketahanan pangan yang juga sampai di seluruh provinsi hingga kabupaten, tapi tetap saja masih banyak keluarga yang kekurangan gizi. “Tiap tahun program itu ada, tapi tetap saja ada keluarga yang kekurangan gizi atau malnutrisi,” ujar HBK.

Bergerak bersama mengajak masyarakat menanam sejumlah sayuran dengan memanfaatkan lahan pekarangan, sebenarnya bukan anjuran baru. Sudah banyak dibentuk kelompok-kelompok dalam masyarakat, tapi perlu memberdayakan dan menghidupkan kembali kelompok-kelompok rumah tangga yang dulu sudah terbentuk.

Caleg DPR RI Partai Gerindra, Nomor Urut-1 dari Dapil NTB-2/P. Lombok yang rajin turun ke masyarakat itu menekankan, bahwa untuk mengembangkan pekarangan sebagai kebun gizi juga bisa dilakukan di rumah-rumah penduduk yang padat dan lahannya sempit. “Karena itu, perlu pelatihan skill masyarakat cara berkebun dengan lahan seadanya. Seperti meletakkan tanaman di dalam pot, baik itu pot yang berukuran kecil maupun pot yang berukuran besar,” imbuhnya.

Sinergi Pemerintah dan Swasta

Ditemui terpisah, Arif Mahmudi–aktivis lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), pernah melakukan riset pengelolaan lahan pekarangan di tiga kecamatan dan 10 desa di Sumbawa. Riset itu dilakukan, salah satu tujuannya untuk mencari solusi karena masih banyaknya kasus malnutrisi atau kekurangan gizi yang menimpa ibu dan anak di desa-desa. Arif mengungkapkan, meski program banyak dilakukan lembaga pemerintahan, mulai Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian, Dinas Kesehatan, Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa maupun Bappeda, tapi program-programnya tidak berjalan berkesinambungan.

Menurutnya, pemerintah biasanya menggunakan cara konvensional, kelompok dalam masyarakat dilatih, dikasih bibit, sudah dianggap bisa. Pemerintah tidak mengetahui bagaimana cara menginternalisasi program tersebut ke masyarakat. “Keberhasilan pengelolaan lahan pekarangan itu perlu pendampingan. Karena itu perlu keterlibatan swasta, yaitu dari produsen bibit tanaman. Mereka bisa menjual bibit tapi melakukan pendampingan, sampai masyarakat bisa menuai hasilnya,” jelas Arif.

Selain pendampingan, juga dibutuhkan keterlibatan aktif Kepala Desa setempat. Kelompok masyarakat yang berhasil memanfaatkan pekarangannya, umumnya yang mendapat dorongan dari kepala desa. Dan jika Kepala Desa terlibat dalam proses pengelolaan lahan pekarangan, pemerintah juga tak perlu mengucurkan anggaran, karena dari Dana Desa sudah bisa membiayai.

Arif mengatakan, keberhasilan memanfaatkan lahan pekarangan memberi manfaat langsung, seperti  menghemat biaya belanja keluarga, mengatasi malnutrisi, ibu-ibu memahami cara menanam sayuran, ketahanan pangan, dan termasuk menciptakan lingkungan yang asri. “Di Lombok Utara, program ini juga menciptakan lapangan kerja baru. Ada ibu-ibu yang trampil melakukan pembibitan, dan itu menambah penghasilan keluarga dengan menjual bibit sayuran dan tanaman pekarangan lainnya,” tukas Arif. (JEN/SR)

 

Lihat Juga

Putra Sumbawa dan Putri Mataram Duta Genre Provinsi NTB

MATARAM, samawarea.com (9/8/2020) Tak hanya dinobatkan sebagai Bunda Genre NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *