Home / Ekonomi / HBK dan Guru Besar Peternakan Unram, Diskusi Soal Pengembangan Pertanian Terintegrasi 

HBK dan Guru Besar Peternakan Unram, Diskusi Soal Pengembangan Pertanian Terintegrasi 

MATARAM, SR (19/11/2018)

Potensi peternakan sebagai subsektor pertanian di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), sangat menjanjikan bila ditangani secara serius. Pengembangan peternakan di Provinsi ini, bahkan tak memerlukan banyak slogan. Yang penting adalah perencanaan dan aksi tindaklanjut yang nyata di lapangan. “Yang kita perlukan (untuk mengembangkan peternakan) ternyata hanya keseriusan, dukungan pemerintah dan masyarakat. Setelah itu, cukup dengan perencanaan program dan langsung aksi nyata,” kata H Bambang Kristiono (HBK), belum lama ini usai berdiskusi soal peternakan bersama Guru Besar Ilmu Peternakan Universitas Mataram, Prof Dr Ir Muhammad Ikhsan MS.

Selain mempererat tali silahturahmi, sowan dan diskusi dengan Prof Muhammad Ikhsan dilakukan HBK sebagai bentuk keseriusannya dalam mendorong pembangunan sektor pertanian secara luas di NTB. Dalam diskusi santai hampir dua jam itu, HBK menawarkan gagasan dan ide-idenya untuk pembangunan peternakan di NTB.

Sementara sebagai ahli Peternakan, Prof Muhammad Ikhsan banyak memberi pandangan dan masukan yang memperkaya ide dan gagasan HBK. Menurut Prof Muhammad Ikhsan, selain pertanian pangan, potensi peternakan di NTB, Lombok dan Sumbawa sudah dari dulu ada ibarat berkah dari Allah SWT. Lombok juga memegang posisi strategis dalam industri peternakan zaman dulu, yang ditandai dengan adanya pelabuhan niaga Ampenan (Kini menjadi pusat wisata Kota Tua Ampenan). Dulu, pelabuhan Ampenan seperti menjadi saksi bagaimana ternak Sapi di eksport ke luar negeri dengan kapal-kapal niaga asing. “Artinya potensi (peternakan) ini memang sudah ada dari dulu. Nah ini yang harus kembali digali, kenapa dulu sukses dan sekarang tidak bisa?,” tegas Prof Muhammad Ikhsan.

Dalam satu dekade terakhir Provinsi NTB memang menetapkan jargon Bumi Sejuta Sapi (BSS) untuk membangun semangat kolektif di sektor peternakan. Hanya pada prakteknya, program ini terkesan tinggal jargon. Sebab, faktanya di lapangan BSS belum mampu secara signifikan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya para petani dan peternak.

Menurut Prof Muhammad Ikhsan, untuk peningkatan populasi ternak rumaninsia atau ternak besar seperti Sapi Kerbau dan Kuda, di NTB bisa tetap berjalan, namun secara alami jika tidak diintervensi dengan program inovasi. Program BSS yang menekankan peningkatan populasi Sapi, papar dia, tidak berjalan karena faktor kebutuhan pakan ternak yang tidak mendukung. Ia mencontohkan, di peternakan maju Australia, lahan 1000 hektare atau tanaman pakan ternak lainnya hanya mampu memenuhi kebutuhan tahunan untk tidak lebih dari 250 ekor Sapi terkait pengaturan rantai makanan dilahan tersebut. Kebutuhan pakan ideal untuk seekor Sapi dewasa setidaknya membutuhkan 35kg rumput atau pakan ternak pengganti. “Artinya, kalau memang terwujud di NTB sejuta ekor Sapi, maka bisa habis semua rumput di NTB ini. Nah ini yang belum dipikirkan,” kata dia.

Prof Muhammad Ikhsan menekankan, kebutuhan pakan ini harus dipikirkan salah satu solusinya adalah dengan pertanian terintegrasi. Selain penyimbangan populasi dan lahan penyediaan pakan ternak, hal yang harus didorong dan dibenahi adalah sistem niaga hasil produksi peternakan itu sendiri. Ia pun mencontohkan bagaimana di era zaman dulu ternak di NTB mampu menembus pasar luar negeri. Hal ini selaras dengan gagasan HBK yang ingin mendorong sistem pertanian terintergrasi di NTB. Dalam konsep ini, seluruh potensi pertanian dan peternakan dipadukan menjadi kekuatan baru yang diperkuat dengan manajemen niaga yang baik.

Banyak ide dan gagasan yang akhirnya muncul dalam pertemuan HBK dengan Guru Besar Peternakan Unram tersebut. Gagasan-gagasan ini menurut HBK, akan terus dimatangkan dan kelak akan diperjuangkan di DPR RI saat ia duduk di kursi Senayan. Langkah HBK mengunjungi sowan dan berdiskusi dengan tokoh dan ahli pertanian di NTB dan Jakarta, menunjukan keseriusan Caleg DPR RI Partai Gerindra ini untuk membangun kembali kedaulatan pangan bangsa melalui sektor pertanian secara luas. “Saya senang berdiskusi dan bertukar wawasan dengan ahlinya. Transfer pengetahuan seperti ini sangat bermanfaat, selain membangun tali silahturahmi dengan tokoh di NTB ini,” kata dia. (SR)

Lihat Juga

Dukung BDR di Masa Pandemi, Polsubsektor Badas Sediakan Wifii Gratis

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (13/8/2020) Berbagai kesulitan dialami masyarakat di masa pandemic Covid 19 ini. Salah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *