Jadi Khotib dan Imam, Gubernur NTB Ungkap Tiga Rahasia Bahagia

oleh -2 views
(Foto: Jim Tolak Bala)

SUMBAWA BESAR, SR (02/11/2018)

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah SE., M.Sc mengungkap tiga rahasia bahagia. Hal itu disampaikannya ketika menjadi Khatib sekaligus Imam Sholat Jumat di Masjid Agung Nurul Huda, serangkaian dengan kunjungannya di Kabupaten Sumbawa, 2—3 November 2018. Dari atas mimbar orang nomor satu di NTB ini menyebutkan untuk menjadi bahagia rahasia pertama adalah harus memiliki ability to forgive, yaitu kemampuan untuk memaafkan sesama. Sebab pada dasarnya manusia memiliki peluang untuk berbuat kesalahan. Karenanya harus sering mengucapkan dan meresapi makna “Subhanallah”.

Sebagai penyelenggara negara sebagaimana yang pernah dilakoninya menjadi anggota DPR RI selama tiga periode, ungkap Doktor Zul—sapaan Gubernur, ditakdirkan menyaksikan segala bentuk kehidupan. Terkadang kadang pagi, siang sampai malam selalu dihadapkan setiap hal. Bertemu dengan berbagai kalangan, para petinggi dan pejabat di negeri ini. Untuk menjadi bahagia terkadang tidak harus memiliki jabatan yang tinggi maupun uang yang banyak. “Ada sahabat saya ini penghasilannya miliaran dolar. Tetapi tidak boleh makan daging, sambal, garam, gula, dan banyak hal yang tidak boleh dimakan. Yang boleh dia harus rutin pagi siang sore malam minum obat yang jumlahnya cukup besar. Ada juga pejabat tinggi dan hebat jabatannya, sering tampil di TV. Tapi kadang-kadang di kampung sendiri tidak pernah hebat, mencurigai mencurigai siapa saja yang mau dekat dirinya. Karena menurutnya, orang yang dekat dirinya biasanya ada kepentingan,” ungkap Doktor Zul.

Baca Juga  Bupati KSB Minta FK2D Tidak Buat Gaduh

Jabatan yang tinggi menurutnya, justru menghasilkan hidup sosial tinggi. Karenanya tidak boleh gila dengan jabatan. Dengan mengucapkan kalimat Subhanallah, hidup bisa cantik dan indah dengan hal yang sederhana. Karena orang yang mampu mengamalkan kalimat tersebut pada hakekatnya memiliki ketabahan hati dan jiwa yang besar serta kemampuan memaafkan sesamanya. “Kelihatannya sederhana memaafkan sesama adalah resep untuk bahagia. Karena jika ingin hidup bahagia harus saling memaafkan,” ujarnya.

Rahasia kedua untuk bahagia lanjut Gubernur, menjiwai makna “Alhamdulillah”. Harus pandai mensyukuri setiap keadaan karena apapun pasti ada hikmahnya. Yang tampak kuat bisa menjadi lemah, demikian sebaliknya. Ia mengilustrasikan kisah seorang petani miskin yang memiliki harta hanya seekor kuda. Suatu saat kudanya hilang dan masyarakat sedih bahwa si miskin ini kehilangan kudanya. Tetapi si miskin justru tetap berucap Alhamdulillah. Tanpa disangka kudanya kembali, dan kembalinya bersama beberapa kuda lainnya. Karena liar, putra bungsu di petani berusaha menjinakkan kuda-kuda yang kembali bersama kudanya yang sempat hilang. Karena terlalu bersemangat, si bungsi terjatuh dari kuda sehingga kakinya patah. “Ternyata tambahan harta, tambahan kuda, dan tambahan kedudukan, serta meningkatnya kesejahteraan tidak selalu menghasilkan kebahagiaan. Malah duka cita. Tetapi si petani yang melihat putranya mengalami patah kaki justru berucap Alhamdulillah, mensyukuri setiap keadaan dan meresponnya dengan berprasangka baik,” imbuhnya.

Tak berselang lama raja memerintahkan punggawanya untuk merekrut semua anak-anak muda di desa si petani miskin ini untuk menjadi parajurit menghadapi peperangan. Semua anak-anak muda yang sehat diangkut kecuali putra bungsu petani, sebab kondisinya cacat. Si putra bungsupun lolos dari untuk diangkut menuju ke medan laga.

Baca Juga  KONI NTB Janji Berikan Bantuan Daerah Berprestasi

Kemudian rahasia bahagia ketiga adalah memaknai kalimat Allahuakbar. Semua manusia kecil, jabatan kecil dan harta pun kecil, jika dibandingkan dengan kebesaran Allah. Apapun kehebatan manusia masih kecil dibandingkan dengan kehebatan Allah. Apapun penderitaan, bencana dan persoalan, semuanya kecil dibandingkan dengan kebesaran dan pertolongan Allah. “Jangan pernah merasa besar dan hebat meski jabatan kita tinggi atau uang kita banyak karena hakekatnya kita tetap kecil di depan Allah. Itu sebabnya kita harus mengucapkan dan mengamalkan makna Allahu Akbar,” tandasnya, seraya menyatakan bahwa ketiga kalimat sederhana (Subhanallah, Alhamdulillah dan Allahuakbar) yakni mampu memaafkan, mensyukuri dan menempatkan kebesaran Allah di atas segala-galanya diharapkan memiliki makna, arti dan melingkupi kehidupan di dunia ini.

Hadir mendampingi Gubernur, Bupati Sumbawa Hm Husni Djibril, B.Sc, sejumlah Asisten dan Pimpinan OPD di Pemprov NTB. Dalam kesempatan itu digelar dialog. Ada beberapa usulan yang disampaikan para jamaah tyang kemudian direspon Gubernur  dan pimpinan OPD untuk direalisasikan dan dicarikan solusi. (JEN/SR)

iklan bapenda