Akibat Gempa, RSUD Asy-Syifa Kesulitan Dapatkan Pendonor Darah

oleh -1 views
Bupati KSB, Dr. Ir. H. W. Musyafirin MM saat mendonorkan darahnya. (doc. istimewa)

KERJASAMA SAMAWAREA DENGAN RSUD ASY-SYIFA KABUPATEN SUMBAWA BARAT

SUMBAWA BARAT, SR (16/10/2018)

Setiap tahunnya Rumah Sakit Umum Daerah ( RSUD) Assyifa Kabupaten Sumbawa Barat kekurangan darah. Ini karena sulitnya mendapatkan darah. Kondisi saat ini juga lebih sulit. Karena bencana gempa bumi yang melanda Sumbawa Barat membuat masyarakat enggan mendonorkan darahnya.

Ditemui SAMAWAREA belum lama ini, dr Carlof mengatakan kebutuhan darah setiap tahunnya terus meningkat seiring kunjungan yang terus meningkat terutama di bagian pelayanan Hemodialisa yang membutuhkan darah hampir setiap hari. Sebab pelayanan di cuci darah ini tidak pernah kosong. “Ketersediaan darah kita selalu kurang, yang parah lagi akhir akhir ini karena bencana gempa masyarakat yang mau donorkan darahnya sangat rendah sehingga kami semakin sulit mendapatkan darah,” akunya.

Kebutuhan darah setiap tahunnya menurut proyeksi yaitu 2% dari jumlah penduduk KSB atau sekitar 2.800 kantong yang harus dipenuhi. Tahun 2017 lalu pihaknya dapat mengumpulkan darah sebanyak 1.500 kantong. Jumlah ini dirasakan masih kurang, sehingga terpaksa meminta kepada keluarga pasien untuk mencari tambahan darah. “Sedangkan tahun ini kita baru bisa mengumpulkan berkisar 1.000 kantong kita masih butuh 1.800 kantong, dan kemungkinan tahun ini akan lebih sedikit dari tahun kemarin karena kondisi bencana,” ujarnya.

Upaya yang dilakukan untuk mendapatkan suplay darah, dr Carlof mengaku terpaksa turun lapangan ke tenda-tenda masyarakat. Hasilnya tidak banyak hanya 1—2 kantong. Selain itu pihaknya membuka kerjasama dengan pihak manapun seperti KNPI yang setiap tahun melaksanakan kegiatan bersama. Tahun 2018 ini, kerjasama RSUD Asy-Syifa dan KNPI di Maluk hanya mendapat 30 kantong darah. Biasanya setiap tahun mengadakan kegiatan serupa di tempat yang sama selalu mendapatkan darah lebih dari sekarang.

Baca Juga  Badan Litbangkes: Validasi Hasil Swab RT-PCR Covid-19 di Lab Genetik Sumbawa Technopark 100%

Carlof menegaskan seandainya darah ini diperjual-belikan pihaknya akan menyiapkan anggaran untuk membeli darah demi memenuhi kebutuah darah. “Tapi sayang bukan hanya di sini kebutuhan darah selalu kurang, di daerah lain juga merasakan hal yang sama, karena kita hanya meminta kerendahan hati masyarakat untuk menyumbangkan darahnya secara ikhlas, tanpa ada kewajiaban yang harus memaksa masyarakat mendonorkan darahnya,” kata dr Carlof.

Hanya membedakannya dengan KSB, daerah lain itu memiliki PMI (Palang Merah Indonesia) yang focus menangani masalah darah. Darah itu disuplay dari PMI untuk memenuhi kebutuhan darah pasien di RSUD. “Kalau di KSB ini, kami masih menghandlenya sendiri karena PMI di KSB belum bergerak. Jika PMI di sini mau melaksanakan pengumpulan darah, kami dari RSUD akan merasa terbantu, dan kami siap memberikan alat donor darah,” tandasnya.

Dijelaskan dr Carlof, mendonorkan darah sangat bermanfaat bagi pendonor. Seperti menurunkan resiko terkena penyakit jantung, menurunkan resiko kanker, membantu menurunkan berat badan, mendeteksi penyakit serius, membuat lebih sehat secara psikologi dan memperpanjang usia. (HEN/SR)

iklan bapenda