Dr Awidya: Ekonomi Indonesia Masih Kokoh

oleh -12 views

Banyak Potensi Ekonomi di Sumbawa Belum Tergarap

SUMBAWA BESAR, SR (07/07/2018)

Didorong kewajiban moral dan intelektual untuk berdiskusi dan berbagi cerita, Dr. Awidya Santikajaya menyambangi Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) dalam kuliah umum “Tantangan Indonesia dalam Era Perdagangan Internasional” yang berlangsung di Gedung Mini Theater Science Techno Park (STP) Sumbawa, Kamis (5/7) lalu. Pria yang sudah bekerja selama 12 tahun di Kementerian Luar Negeri tersebut, dalam kuliahnya memberikan perspektif mengenai perkembangan Indonesia. Ia menjelaskan sejak tahun 2010 negara-negara berkembang memiliki Gross Domestic Product (GDP) lebih besar dibandingkan negara maju. Menurut data, Indonesia diprediksi akan menjadi negara terbesar keempat dari segi GDP. “Kita sebagai negara berkembang akan terus tumbuh, tidak peduli siapapun pemerintahnya, terutama ditunjang pertumbuhan penduduk muda yang dinamis dan produktif pada akhirnya itu menyumbang pertumbuhan suatu negara,” tegas pribadi yang mendapat gelar P.hD dari Australian National University itu.

Di antara negara berkembang tersebut, jelasnya, Indonesia beruntung karena pusat pertumbuhan bergeser dari negara Barat ke negara Asia. Hal ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi tahun 2016-2017 di kawasan Asia Pasifik tumbuh terbesar yakni 5,4% yang hampir sama dengan dekade-dekade sebelumnya. Dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup besar, lanjutnya, negara-negara di Asia Pasifik hanya perlu memanfaatkan pertumbuhan tersebut untuk kepentingan masyarakat.

Selain itu, dengan perkembangan teknologi yang terjadi saat ini menyebabkan pelaku industri tidak hanya berfokus pada satu individu atau negara saja. Perkembangan itu menyebabkan terjadi industri-industri start-up. Jumlah start-up Indonesia sendiri jauh lebih besar jika dibandingkan dengan negara lain. Bahkan dibandingkan dengan Cina sekalipun. Data tersebut menjadi positif side untuk pertumbuhan Indonesia. “Intinya kompetisi sudah menjadi satu hal yang tidak bisa dihindari, terutama pada aspek-aspek yang sebelumnya dilindungi. Itu tantangan yang akan kita hadapi. Dengan alur perkembangan global baik positif maupun negatif apakah kita mampu berkompetisi ? Sayangnya dari segi SDM, terkait dengan sains dan teknologi kita masih belum,” tegasnya.

Baca Juga  Bagi Pencari Kerja, UTD PMI Sumbawa Buka Lowongan

Jika dilihat dari segi global competitive index sumber daya manusia, sains dan teknologi, Indonesia yang saat ini berada di peringkat 36 dari 180 memang tidak terlalu buruk untuk perkembangan ke depannya. Namun, jika berpikir lebih kritis ada negara-negara yang lebih bagus dari Indonesia seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand yang justru merupakan negara tetangga yang memiliki tingkat competitive lebih bagus. Hal ini menunjukkan bahkan di tingkat ASEAN, Indonesia belum bisa berkompetisi secara optimal. Segi produktivitas dalam dunia pendidikan atau lembaga riset pun dirasa masih tertinggal jauh dari negara ASEAN lain. Baik dari segi dokumen maupun penelitian-penelitian yang bisa dijadikan acuan oleh peneliti-peneliti lainnya. Begitu pun dengan penyumbang devisa yang saat ini hampir 3 juta tenaga kerja Indonesia juga belum terkondisikan dengan baik. Salah satunya 1,8 juta dari jumlah TKI dinyatakan ilegal dengan penanganan ribuan kasus. Dari semua permasalahan tersebut, segi positifnya, ekonomi Indonesia saat ini tidak terlalu buruk. Mata uang asing yang tersedia untuk melakukan transaksi senilai USD 120 ribu billion menunjukkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih kuat bahkan jika terjadi krisis sekalipun baru terjadi dalam jangka 2 tahun ke depan.

Menyinggung Sumbawa, jika dibandingkan dengan daerah lain dengan luas daerah yang belum terlalu padat menunjukkan bahwa masih banyak potensi ekonomi yang belum digarap. Sumbawa dengan potensi penghasil daging Sapi jika adanya feedback dengan Australia atau New Zealand maka sapi-sapi yang masuk ke dalam negeri akan terdistribusi ke pulau-pulau besar semisal Jawa, Sumatera, dan lainnya. Sementara itu Sapi Sumbawa dapat mengisi spot-spot yang belum mendapat suplai. “Dengan kondisi Indonesia yang begitu luas yang konsumsi barangnya masih banyak bolongnya, itu masih bisa didistribusikan secara baik ke tempat-tempat lain,” tutupnya. (SR)

 

BPSK dukacita dukacita bankntb

No More Posts Available.

No more pages to load.