Tim Ahli dari UNSA Perkuat Dugaan Penyimpangan Bronjong Patedong

oleh -18 views
Kasi Pidsus Kejari Sumbawa, Anak Agung Raka PD SH

SUMBAWA BESAR, SR (28/06/2018)

Tinggal selangkah lagi pihak Kejaksaan Negeri Sumbawa menetapkan tersangka dugaan penyimpangan pembangunan talud pengaman pantai (bronjong) di Dusun Patedong, Desa Sebotok, Pulau Moyo Kecamatan Badas. Hal ini setelah pihak kejaksaan yang menggandeng Tim Ahli dari Universitas Samawa (UNSA) memastikan bahwa hasil pengerjaan proyek senilai Rp 186 juta ini tidak sesuai spesifikasi. Tim Ahli, Adi Purnama yang dimintai keterangannya, Kamis (28/6) siang tadi, membeberkan hasil turun lapangannya.

Dicegat usai pemeriksaan, Adi Purnama yang merupakan Dosen Fakultas Tehnik UNSA mengaku diminta bantuan untuk melihat hasil pengerjaan Bronjong Patedong. Saat berada di lokasi, tim memang melihat ada pekerjaan yang sudah selesai dikerjakan. Namun hasil pemeriksaan terdapat beberapa item pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi. Di antaranya terlihat pada konstruksi batuan dan kawat bronjong. Harusnya syarat batuan yang digunakan untuk membangun bronjong adalah batu kali atau gunung. Tapi yang digunakan untuk membangun Bronjong Patedong adalah batu karang. “Kalau batu karang dengan batu kali atau gunung secara visual saja bisa kita bedakan. Bisa juga diuji tapi masuk dalam pengujian itu sangat spesifik,” jelasnya.

Untuk bagian kawat, tambahnya, sesuai dengan ukuran spesifikasi, hanya ada beberapa bagian yang sudah karatan. Yang diketahuinya, untuk bangunan bronjong di pesisir pantai menggunakan kawat dengan spesifikasi khusus yakni berbahan baja karbon rendah. “Visual yang kita lihat galvanis bukan visi. Memang belum kita uji kedalam hanya dari hasil karatannya bisa kita lihat. Kalau visi memang direkomendasikan untuk daerah pantai. Dari kami tidak mempermasalahkan itu karena di beberapa tempat tidak semua dan tidak mempengaruhi secara umum,” bebernya.

Baca Juga  Polsek Lape Tangkap Maling yang Sasar Pemancing

Selain batuan dan kawat yang tidak sesuai spesifikasi, pihaknya juga tidak melihat adanya timbunan sirtu di belakang kontruksi bronjong. Padahal di gambar perencanaan, sirtu tersebut seharusnya ada. “Sirtu ini berada di belakang kontruksi bronjong. Sudah dipastikan tidak sesuai dengan spesifikasi kontrak. Karena kami sudah melihat kontraknya, sehingga kami melakukan study lapangan dan survey,” imbuhnya.

Sementara Kajari Sumbawa melalui Kasi Pidsus, Anak Agung Raka PD., SH yang dikonfirmasi terpisah, membenarkan telah turun lapangan bersama tenaga ahli untuk mengecek hasil pembangunan bronjong Patedong. Hasil ini sudah dikonsultasikannya dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Mataram. Kemudian berdasarkan konsultasi tersebut, pihaknya diminta untuk membuat BAP tenaga ahli. “Setelah ini kami kembali berkonsultasi dengan BPKP untuk memastikan besarnya kerugian negara yang ditimbulkan dari pembangunan proyek ini,” pungkasnya.

Seperti diberitakan, proyek pembangunan talud pengaman pantai di Dusun Patedong, Desa Sebotok, Pulau Moyo, Kecamatan Labuhan Badas dipertanyakan. Sebab, diduga pembangunannya bermasalah. Menurut informasi, proyek ini dilaksanakan pada 2017 lalu. Anggaran pembangunannya menggunakan APBD dengan besaran sekitar Rp 186 juta. Adapun panjang Talud tersebut yakni 112 meter. Diduga terjadi penyimpangan dalam pembangunannya. (JEN/SR)

BPSK dukacita dukacita bankntb

No More Posts Available.

No more pages to load.