“Nyaagang” Tradisi yang Masih Eksis di Klungkung

oleh -225 views

BALI, SR (10/06/2018)

Tradisi “Nyaagang” merupakan tradisi yang telah turun temurun dilaksanakan warga di Klungkung utamanya warga se Desa Pekraman Gelgel, Klungkung, Bali. Ritual di depan pemesu rumah atau di mulut gang ini digelar sebelum lewat tengah hari bertepatan dengan berakhirnya Hari Raya Kuningan Sabtu (9/6/2018) dan  bertepatan dengan Saniscara Kliwon Wuku Kuningan yang datangnya 6 bulan kalender Bali Caka. Menurut Jero Mangku Made Mujana penglingsir Pura Dalem Pemuteran Jelantik Kuribatu Desa Tojan menyatakan ritual gelaran wewantenan Nyaagang ini merupakan tradisi yang sudah mendarah daging bagi warga masyarakat Klungkung utamanya warga Banjar Jelantik Kuribatu Desa Tojan yang berada di wewengkon Desa Pakraman Gelgel.

Ritual “Nyaagang” ini sebagai upacara ritual berakhirnya pelaksanaan Hari Raya Galungan yang jatuh pada 30 Mei 2018) lalu dan pemuncaknya pada perayaan Hari Raya Kuningan yang jatuh pada Sabtu (9/6/2018) ini. Urutan ritual perayaan hari kemenangan Dharma melawan A Dharma ini yang diawali dari datangnya Hari Penyekeban, Hari Sugian Jawa, Hari Sugian Bali, Hari Penampahan Galungan, Hari Raya Galungan, Hari Manis Galungan, Hari Penampahan Kuningan dan dipungkasi dengan perayaan Hari Raya Kuningan. Menurutnya sejak Hari Penyekeban ini warga mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan sang pitare (roh para leluhur, Red)   mengunjungi keluarganya yang masih hidup di dunia ini sekaligus ikut merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan bersama sama. Dimana saat perayaan Galungan maupun Kuningan ini masing masing sanggah merajan maupun di Bale Bali oleh warga setempat digelar soda untuk menjamu leluhur. Keluarga wajib menghaturkan bakti kepada leluhurnya.

Baca Juga  Meriahnya Pembukaan Festival Moyo 2015

Setelah merayakan hari suci Galungan dan Kuningan ini akhirnya puncak ritual yang dimaknai sebagai acara perpisahan ini digelar ritual “Nyaagang” di depan pemesu rumah warga dengan melaksanakan wewantenan yang dimaknai berisi bekal (sang pitare mantuk, Red) roh leluhur yang kembali menuju alam nirwana. Hal yang sama dikemukakan Jro Mangku Nyoman Sumerta bahwa tradisi ini memang tidak termuat di cakepan namun sudah menjadi tradisi turun temurun yang sangat kental bagi warga Klungkung maupun warga Desa Pekraman Gelgel. “Entah kapan ritual Nyaagang ini dimulai, siapapun tidak bisa memastikannya karena ini menjadi tradisi warga kita di Pekraman Gelgel,” sebutnya.

Dijelaskannya, tradisi “Nyaagang” yang digelar sebelum tengah hari ini merupakan waktu yang tepat untuk mengantar roh leluhur kembali ke Nirwana. Yang menarik setelah ritual Nyaagang, usai prosesi keluarga langsung makan bersama di tempat tersebut sebagai wujud kebersamaan dan kedamaian. “Kita berharap sang pitare yang akan kembali merasakan kedamaian dan kebahagiaan, dimana semua keluarga yang ditinggalkan ke alam nirwana sudah dilihat dalam keadaan rukun rukun dan bahagia,” pungkasnya. (SR)

BPSK dukacita dukacita bankntb

No More Posts Available.

No more pages to load.