Ngusaba Sumbu Bungaya dengan Rejang Deha

oleh -50 views

BALI, SR (10/06/2018)

Bungaya termasuk salah satu desa tua di Bali. Bahkan desa ini disebut sebut sudah ada sejak jaman kerajaan Majapahit. Ini terbukti dengan adanya intrumen Selonding di desa adat tersebut. Bahkan Selonding di Bungaya sangat disakralkan oleh warga setempat. Sebagai salah satu desa tua Bungaya juga dikenal dengan tradisi adatnya yang unik dan menarik serta sakral. Di antaranya yang sangat fenomenal adalah Ngusaba Dangsil. Ngusana Dangsil sendiri merupakan ngusaba terbesar di Bungaya. Ngusaba ini digelar dengan kurun waktu sekitar 30 tahun sekali. Hanya saja tidak ada kurun waktu yang pas untuk menggelar ngusaba tersebut. Selain ngusaba Dangsil aci sacral lainnya adalah Ngusaba Sumbu. Ngusaba Sumbu sendiri saat ini sedang digelar di desa tersebut. Prosesi Ngusaba Sumbu sendiri sudah dilakukan 5 Juni dan berakhir 12 Juni nanti.

Menurut Gede Krisna Adiwidana Keliang Pura Pajenengan Dadia Pasek Kaler Kangin Pengempon Prelingga Ida Bethara Lod Pasar mengatakan prosesi Ngusaba Sumbu mulai dilakukan di Pura Pesuikan diawali dengan menghias Prelingga Ide Betara. Prosesi di Pura Pesuikan dilakukan selama tiga hari. Kemudian Ngusaba digelar di Pura Ulun Toya dan dilanjutkan dengan di Pura Desa.

Sementara itu prosesinya seteleh ngaturang Lis di Pura Puseh prelingga ke iring ke Pura Pesuikan dan dilanjutkan dengan menghias lagi Prelingga Ide Betara di Lod Pasar. Kemudian semua prelingga di Pura Pesuikan juga dihias. Dari sana semua prelingga melakukan mesucian di Pura Batu Sanghyang dan ke Beji Saga. Kemudian Prelingga Ide Betara kembali ke Pura Pesuikan kemudian menghaturkan banten diiringi dengan Rejang Deha. Rejang Deha sendiri adalah rejang sacral yang hanya ditarikan para Deha Bungaya. Deha dan Teruna Bungaya sendiri hanya dilantik saat Ngusaba Dangsil sekitar 30 tahun sekali.

Baca Juga  Mahasiswa Seni Tari IISBUD SAREA Raih Juara di Tingkat Provinsi

Di sana juga katuran Banten Pemios usai mesucian atau kebeji. Ngusaba Sumbu sendiri digelar setahun sekali setiap sasih Kesada (bulan ke 12 bulan Bali). Pelaksanaan Ngusaba Sumbu juga dilakukan selama tujuh hari. Uniknya adalah menggunakan sumbu dan pakaian deha serta penggunaan Onggar onggar (hiasan bunga, Red). Sementara untuk sumbu di antaranya di Pura Pesuikan ada enam buah, Pura Ulun Toya dua dan Pura Desa enam buah. Sumbu terbuat dengan menggunakan bamboo kemudian dihias dengan pala gantung dan pala bungkah yakni aneka buah dan umbi umbian serta hiasan dengan menggunakan daun lontar dan janur. Di Pura Pesuikan sendiri nyejer selama tiga hari, Pura Ulun Sui satu hari dan Pura Desa selama tiga hari. Selama Ide Batara Nyejer di setiap Pura ada Rejang Deha dan Tari Pendet Deha sebagai persembahan kepada Ide Batara. Prosesi ini memang sebagian besar dilakukan pada malam hari, ini menandakan Desa Bungaya sebagai desa yang agraris. Dimana pada siang hari warganya bekerja di kebun dan sawah sementara upacara baru bisa dilakukan pada malam hari.

Namun demikian prosesi pada siang hari tetap ada. Di antaranya Rejang Lemah yang akan digelar mulai hari ini di Pura Desa. Saat itu juga ada kerama dari Puri Karangasem, Asak dan juga Jungsri yang datang untuk medek ke Pura Desa Bungaya. Sementara makna dari Ngusaba Sumbu sendiri adalah sebagai ucapan perima kasih kepada Tuhan atas segala berkah kesuburan yang dianugrahkan. Makanya Sumbu yang merupakan sarana utama menggunakan buah buahan dan umbi umbian. Sementara Sasih Kesada sebagai akhir masa untuk menginjak tahun baru berikutnya. (SR)

BPSK dukacita dukacita bankntb

No More Posts Available.

No more pages to load.