Sungai Brang Biji akan Direstorasi

oleh -28 views

SUMBAWA BESAR, SR (22/03/2018)

Sungai Brang Biji yang mengalir dari Desa Kerekeh hingga muara sungai Labuan Sumbawa akan direstorasi. Sungai ini ditata berbasis kearifan lokal dan berwawasn lingkungan guna meminimalisir banjir yang menerjang pemukiman sebagai selama ini terjadi. Rencana ini diseriusi dengan digelarnya Workshop Restorasi Sungai Brang Biji Berbasis Kearifan Lokal dan Berwawasan Lingkungan, di Hotel Tambora, Rabu (21/3). Kegiatan yang digelar Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara I ini dalam rangka memperingati Hari Air Dunia, 22 Maret 2018 dengan tema “Nature For Water” (Lestarikan Alam untuk Air).

Bupati Sumbawa HM Husni Djibril B.Sc dalam sambutannya menyampaikan bahwa Sungai Brang Biji mengalir melewati Kota Sumbawa besar dan termasuk salah satu sungai yang rawan terjadi banjir. Peristiwa banjir pernah terjadi pada April 2001, Januari–Februari 2006 dan Februari 2017. Banjir mengakibatkan terendamnya rumah penduduk dan kerusakan prasarana sumber daya air yang ada. Terkait hal tersebut diperlukan restorasi Sungai Brang Biji. Restorasi sungai ungkap Bupati, merupakan kegiatan pemeliharaan dan rehabilitasi terhadap lingkungan sungai untuk mengembalikan fungsi alami sungai agar keasrian dan kemanfaatannya dapat dinikmati oleh masyarakat. Kerusakan DAS kerap diawali oleh kerusakan hutan akibat alih fungsi menjadi pemukiman, perkebunan atau pertanian, dengan atau tanpa tindakan konservasi tanah dan air. Kerusakan DAS sangat ditentukan, dipengaruhi dan dipicu oleh kerusakan yang terjadi di bagian hulunya tanpa mempertimbangkan kemampuan dan kesesuaian lahan. Indikator kerusakan yang dapat digunakan antara lain adalah erosi, sedimentasi, fluktuasi debit sungai, dan produktivitas lahan. Kondisi tersebut juga terjadi di Sungai Brang Biji yang sangat urgen untuk ditangani. Isu pokok dalam pengelolaan Sungai Brang Biji adalah ketergantungan penduduk terhadap lahan yang cukup tinggi di DAS Brang Biji. Adapun luas DAS Brang Biji sebesar 209,79 km2, dengan panjang sungai utama 31,36 Km. Hulu sungai berada di Olat Batupisak Desa Batudulang.

Baca Juga  Pendistribusian Kartu Pariri Ditargetkan Tuntas Sebelum Puasa

Bagian tengah sungai mulai dari Desa Karekeh dan Pelat sampai dengan Kelurahan Umasima. Sedangkan hilir sungai mulai dari Kelurahan Umasima sampai muara di Teluk Sumbawa. “Saya berharap melalui kegiatan Workshop ini bisa diperoleh rumusan pengelolaan DAS Brang Biji yang berwawasan lingkungan melalui pendekatan kearifan lokal, karena kita mempunyai keprihatinan dan kepedulian yang sama terhadap berbagai tantangan, hambatan dan ancaman yang dihadapi dalam pengelolaan DAS,” tegasnya.

Pencemaran air sungai, kerusakan daerah tangkapan air dan okupasi atau perambahan lahan merupakan isu atau permasalahan yang mengemuka dan harus segera dicarikan jalan keluar melalui suatu rumusan rencana aksi baik jangka pendek maupun jangka panjang. Degradasi kualitas suatu DAS dapat membawa dampak terhadap aspek sosial ekonomi masyarakat secara keseluruhan. Sesuai dengan tema hari air sedunia tahun ini, yaitu nature for water, diharapkan masyarakat memperhatikan 3 aspek secara menyeluruh dalam memanfaatkan sumber daya alam seperti sungai ini, yakni aspek kelestarian lingkungan, aspek sosial budaya, serta aspek ekonomi.

Sementara itu, Kepala BWS NT I Ir. Asdin Juady MM MT menyatakan restorasi sungai merupakan kegiatan pemeliharaan dan rehabilitasi terhadap lingkungan sungai untuk mengembalikan fungsi alami sungai agar keasrian dan kemanfaatannya dapat dinikmati oleh masyarakat. Restorasi pada suatu ruas sungai merupakan kegiatan pemeliharaan yang berlangsung dalam jangka waktu lebih dari satu tahun dan merupakan kegiatan yang membutuhkan rancangan kegiatan yang harus direncanakan secara matang.

Baca Juga  PTNNT Menghentikan Operasi Tambang Batu Hijau

Kegiatan ini dimaksudkan untuk mendapat kesepahaman para pihak dalam melaksanakan restorasi Sungai Brang Biji guna mengembalikan fungsi alam sungai agar keasriannya dan kemanfaatannya dapat dinikmati masyarakat. Tujuannya meningkatkan peran Kelompok Masyarakat Peduli Sungai (KMPS). Meningkatkan peran perguruan tinggi dalam membangun sekolah lapang sungai berbasis kearifan lokal. Meningkatkan penataan lingkungan sungai dan kualitas air dan meningkatkan upaya pengelolaan sungai dan kemitraan. “Semoga dengan penyelenggaraan acara ini dapat memupuk rasa cinta kita terhadap kelestarian alam dan lingkungan demi tercapainya ketersediaan air yang memadai sebagai sumber kehidupan dan penghidupan manusia,” pungkasnya. (JEN/SR)

DPRD DPRD