Hasil Investigasi, Satu Keluarga di Langam Terserang Penyakit Kulit

oleh -5 views

SUMBAWA BESAR, SR (04/03/2018)

Rilis yang dipublikasi pihak Dinas Kesehatan Sumbawa melalui Bagian Humas dan Protokol Setda Sumbawa terkait bantahan terserangnya sejumlah warga Desa Langam Kecamatan Lopok, sepertinya hanya untuk menyenangkan Bupati Sumbawa. Bantahan tanpa hasil ujilab terhadap penderita ini, Dikes ingin memberikan kesan kepada atasannya bahwa mereka telah bekerja dan turun ke lapangan menangani persoalan tersebut secara serius. Padahal sebenarnya bantahan itu tidak sesuai fakta di lapangan. Sebab bukannya mengakui bahwa penyakit kulit yang semula disebut Kades Langam sebagai penyakit aneh ini menyerang lebih dari satu orang hasil investigasi wartawan di lapangan, justru dibantah habis-habisan. Kesannya mereka menyembunyikan secara sengaja jumlah penderita, dengan merilis pernyataan bahwa penyakit tersebut hanya menyerang tidak lebih dari satu orang. Selain itu pihak Dikes melalui Kabag Humas M Lutfi Makki S.Pd M.Si juga secara tegas menyatakan pemberitaan sejumlah media massa tidak benar.

DPRD

Menyikapi bantahan ini, Sabtu (3/3) pagi hingga sore hari, sejumlah wartawan kembali turun ke lapangan. Wartawan dari berbagai media massa yang didampingi Anggota DPRD Sumbawa, Salamuddin Maula ini kembali mendatangi kediaman H. Nurdin Bole di Desa Langam. Kondisi H Nurdin ternyata masih belum pulih. Gatal-gatal di tubuhnya masih terasa dan belum sembuh. Artinya pernyataan Kabag Humas, H Nurdin sudah sehat, sangat tidak benar. Selanjutnya pernyataan Kabag Humas yang mengatakan hanya H Nurdin satu-satunya yang menderita penyakit gatal-gatal yang belakangan didiagnosa mengalami penyakit Dermatitis juga sangat tidak benar. Selain H Nurdin, ternyata istri dan putrinya, sudah sebulan mengalami gatal-gatal yang cukup parah. Kepada wartawan, Nur Wahidah—putri H Nurdin mengakui sekujur badannya gatal-gatal dan semakin parah jika berkeringat. Penyakit yang tidak diketahui penyebab dan datangnya secara pasti ini cepat menular. Hanya bersentuhan, langsung menular. Akibatnya tiga anaknya yang duduk di bangku SMA, berumur 5 dan 3 tahun bahkan iparnya mengalami hal yang sama. Selain gatal, kulit juga bentol dan bernanah. “Di rumah ini ada 7 orang semuanya kena,” akunya.

Baca Juga  Pengacara Jadi Bandar Narkoba dan 4 Pengedar Digulung Tim Polda NTB

Selama ini dia mengaku melakukan pengobatan secara mandiri dengan mendatangi klinik di Sumbawa. Dua hari yang lalu, dia mengaku sempat dua kali didatangi petugas dari puskesmas. Mereka hanya mengambil sampel air sumur, dan menyarankan mereka berobat ke puskesmas. Sebaliknya Nur meminta kepada pihak puskesmas, kepala desa, dan kecamatan, untuk mengumumkan melalui masjid atau menghimbau masyarakat yang terjangkit penyakit ini secara insiatif melaporkan diri agar dapat ditangani secara kolektif. “Bukan kami saja yang kena penyakit ini tapi banyak yang lain. Mungkin mereka malu, atau ada alasan lain, kami tidak tahu,” akunya.

Tidak hanya keluarga H. Nurdin Bole, wartawan juga mendatangi kediaman Raihani warga Dusun Sigar Mandang Desa Langam. Pedagang keliling ini mengaku sudah lama mengalami gatal-gatal bahkan bagian belakangnya sudah berkerak karena sering digaruk. Putranya juga mengalami nasib serupa, tapi saat ini sudah beberapa hari berada di Lombok. Tetangganya Nur Saidah dan Muhaini bersama putranya yang berumur 15 tahun mengalami gatal-gatal mirip seperti yang dialami keluarga H Nurdin Bole. “Semakin digaruk gatal-gatal itu semakin menjadi-jadi dan menjalar ke bagian tubuh lainnya,” ujar Muhaini.

Ditemui terpisah Dokter Puskesmas Lopok, dr. Fatwa Widiasari mengakui jika penderitanya lebih dari satu orang. Hanya H. Nurdin Bole yang dinilai paling parah. Namun penyakit itu bukan dampak dari Mercury karena untuk membuktikannya membutuhkan waktu di atas 10 tahun. Sedangkan tambang ilegal Bukit Labaong baru mulai Tahun 2010 lalu, yang artinya masih 8 tahun. Apalagi aktivitas tambang juga tidak continue tidak seprti tambang besar pada umumnya. Pihaknya sudah turun ke lapangan dengan mengambil sampel air sumur milik H Nurdin. Dari pengecekan, air sumurnya tidak ada masalah, tidak ada perubahan warna ataupun baunya, sehingga disimpulkan tidak ada indiaksi terkontaminasi zat kimia. Haji Nurdin ungkap dr Fatwa, memiliki riwayat elergi makanan, lingkungannya juga belum memenuhi standar PHBS. “Alerginya bisa timbul dari obat obatan jangka panjang karena Haji Nurdin ada mengidap penyakit lain,” ujarnya.

Baca Juga  Sempat Mangkir, Kadis Dikpora KSB Akhirnya Datangi Kejaksaan

Bagaimana dengan keluarganya yang juga terkena gatal-gatal, dr Fatwa mengaku awal turun ke sana, Haji Nurdin diopname di puskesmas selama 3 hari. Istri dan ketiga anaknya saat itu belum mengalami gatal gatal. Saat datang yang kedua kalinya istri dan anaknya mulai mengalami penyakit gatal-gatal tersebut. “Untuk menyatakan ini kejadian luar biasa (KLB) minimal penderitanya mencapai 20 orang,” imbuhnya.

Sejauh ini diakui dr Fatwa, belum ada yang datang berobat ke puskesmas, yang banyak datang berobat seperti anak-anak pesantren yang mengalami gatal-gatal yang lazim ditangani. (JEN/SR)

DPRD DPRD