Urgensi Profetik Value Dalam Diri Seorang Pemimpin

oleh -5 views
Ubaidullah

“Refleksi Bagi Calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTB 2018”

Oleh : Ubaidullah (Dosen  UNSA, Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Sumbawa, Komisioner Panwaslu Unter Iwes)

SUMBAWA BESAR, SR (02/03/2018)

“Seorang pemimpin harus mampu menghadirkan dan mengaplikasikan dalam dirinya agar terpatri nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi”. (Penulis)

Tidak lama lagi bangsa ini akan melaksanakan hajatan besar yaitu pesta demokrasi pemilihan gubernur, bupati/walikota dan tahun berikutmya adalah Pileg/Pilpres 2019. Tidak ketinggalan juga, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) ikut meramaikan kontestasi politik tahun ini. Kurang lebih empat bulan lagi pesta demokrasi ini akan digelar, fase tahapan yang terus dilakukan oleh penyelenggara pemilu baik itu Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) berjalan dengan baik. Kerja keras yang dilakukan oleh lembaga penyelanggara pemilu baik itu KPU maupun Bawaslu dari pusat sampai daerah terus dilakukan dengan maksimal, agar proses pemilihan kepala daerah (Pemilukada) berjalan dengan baik, transparan, jujur, adil, profesional dan proporsional sesuai dengan asas pemilu sebagaimana diamanahkan UU. Pemimpin adalah orang yang memilki otoritas, kebijakan, didengar ucapannya, ditiru perbuatannya oleh masyarakat. Pemimpin tidak hanya menjadi kepala negara, menteri, gubernur, bupati/walikota, dan kepala desa. Tapi lebih dari itu, seorang pemimpin harus mampu memimpin dirinya dan keluarganya dengan baik. Pemimpin yang baik dan berkualitas itu adalah pemimpin yang dalam dirinya itu harus terpatri nilai-nilai profetik sebagai power dalam bekerja, berusaha, dan beramal untuk menjeahterakan masyarakatnya. Seorang sosiolog UGM yaitu Kuntowijoyo mengemukakan ada tiga perspektif dalam ilmu sosial profetik yaitu humanisasi, liberasi, dan transendensi. Sebelum masuk pada substansi tulisan ini, perlu kiranya sedikit mengulas mengenai profetik value. Profetik berasal dari kata prophet yang berarti nabi. Kata propetik juga menjadi icon dalam perjuangan pembebasan yang dilakukan oleh masyarakat di kawasan Amerika Latin (Sani). Makna profetik adalah mempunyai sifat atau ciri seperti nabi atau bersifat prediktif atau memperkirakan. Sifat yang mempunyai ciri sebagai manusia yang ideal secara individual-spiritual, menjadi pelopor perubahan, membimbing masyarakat ke arah perbaikan dan melakukan perjuangan tanpa henti melawan penindasan.

Baca Juga  UNSA Siap Merger dengan UTS untuk Penegerian, Ikhsan: Ini Agenda Kerja Husni-Mo

Profetik juga berarti kenabian atau sifat yang dimiliki oleh nabi. Sebuah sifat yang melekat pada diri seorang manusia paripurna secara individual-spritual, sosial-spritual, dan menjadi agen of change (agen perubahan), dengan terus-menerus membimbing, mengarahkan masyarakat untuk gemar berbuat baik (humanisasi), melawan penindasan (liberasi), dan kembali beriman kepada Tuhan-Nya (transedensi). Profetik pada prinsipnya adalah memaknai bagimana sikap, dan tingkah laku nabi dalam bertindak, bertutur kata, belajar/mengajar, memimpin, mengambil keputusan dalam setiap kehidupan kesehariannya. Sikap dan tingkah laku nabi yang kemudian dijadikan contoh, dan teladan oleh seluruh umat manusia. Berikut ini akan dielaborasi mengenai urgensi profetik value bagi seorang pemimpin.

Pertama, pemimpin NTB yang akan datang harus mampu mentransformasikan nilai humanisasi. Humanisasi berarti gemar berbuat baik atau dalam terminologi al-qur’an (amar ma’ruf). Seorang pemimpin harus memilki sikap, mental, dan perilaku yang selalu berbuat kebaikan. Mental model pemimpin sangat mungkin membuka peluang kemenangan bagi dirinya. Nilai kepemimpinan yang dilandasi oleh nilai amar ma’ruf ini, ketika mampu diejawantahkan dalam dirinya, maka akan berimplikasi pada policy yang ditelorkan untuk membentuk satu komunitas sosial/masyarakat yang ideal atau khairul ummah. Nilai humanisasi dalam konteks ini, tentunya harus dihadirkan dalam hati sanubari seorang pemimpin. Mengajak masyarakatnya gemar berbuat baik adalah sebuah keniscayaan yang harus melekat pada diri seorang pemimpin. Mental model, sikap dan perilaku humanisme haru mau menjadi etalase dalam perjalanan kepemimpinannya ke depan.

Kedua, internalisasi nilai liberasi (nahi munkar) dalam diri seorang pemimpin. Pemimpin NTB kedepan tentunya harus memiliki sifat selalu membela kaum tertindas. Secara terminologi liberasi berarti membebaskan manusia dari belenggu kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan. Tentunya ini menjadi visi dan misi calon gubernur dan wakil gubernur yang harus dijalankan dengan baik. Pemimpin tidak hanya mampu menjadi konspetor tapi juga eksekutor yang baik. Fenomena kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan yang diamalami oleh masyarakat NTB sekarang ini, menjadi home work yang harus segera di tuntaskan nantinya. Nabi Muhammad dalam konteks ini, selama proses kepemimpinannya selalu berpihak kepada masyarakat lemah, membantu yang fakir miskin, mengajarkan umatnya untuk belajar agar tidak bodoh, selalu mengedukasi umatnya dengan berbagai aktfitas-aktifitas produktif agar maju dan bersaing dengan umat lainnya. Seyogyanya ini pola nilai yang ada dalam pola kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, yang harus diteladani, ditiru, dan ditransformasikan oleh para pemimpin bangsa dan daerah ini.

Baca Juga  Ciptakan “DiBaKul”, Guru Ache Buat Suasana Belajar Menarik dan Variatif

Ketiga, revitalisasi nilai transendensi (tu’minubillah) yang kontinyu dalam dirinya dan masyarakatnya. Seorang pemimpin tidak hanya mampu mengurus masalah pemerintahannya, tapi lebih dari itu, harus mampu mengajak masyarakat dan rakyatnya untuk selalu beribadah kepada Tuhannya. Makna substantif dari transendensi adalah kembali mengukuhkan diri kepada Tuhan yaitu Allah SWT. Selain dia seorang pemimpin (umaroh) lebih baik lagi ketika dia mampu menjadi ulama. Pentingnya bagi seorang pemimpin untuk menjadikan dirinya contoh dalam segala proses ibadah kepada Allah Tuhannya. Nilai transendensi ini harus terpolarisasi dengan baik, karena menyangkut hablumminallah. Penguatan nilai transendensi akan memberikan warna tersendiri dalam setiap perjalanan kepemimpinan seseorang. Jabatan yang melekat pada diri seorang pemimpin adalah amanah yang diberikan Allah harus dijaga, dipelihara dengan baik, karena pada prinsipnya apapun yang dimiliki oleh manusia adalah bagian dari sesuatu yang harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Sebuah konsekuensi logis dari apa yang diamanahkan oleh Tuhan kepada kita, pasti akan kembali kepadaNya.

Sebuah kongklusi objektif dari pemaparan di atas adalah setiap manusia harus mampu menjadikan nilai profetik di atas dalam bertindak, belajar, mengajar, memimpin, mengambil keputusan agar bermuatan maslahat bagi rakyat dan masyarakatnya. Mengajak orang lain berbuat baik (humanisasi), membebaskan manusia dari keterbelakangan dan kemunduran, dan mengembalikan semuanya apa yang kita kerjakan kepada Allah SWT dengan beribadah (transendensi). (*)  

iklan bapenda