Perbanyakan Tanaman Sagu (Metroxylon sagu Rottb.)

oleh -29 views
Ihsan Alhafid

“Menggunakan Sistem Kultur Suspensi, Perendaman Sesaat
dan Media Padat”

Oleh : Ihsan Alhafid (Mahasiswa Fakultas Teknobiologi, Universitas Teknologi Sumbawa)

SUMBAWA BESAR, SR (07/02/2018)

Tanaman sagu (Metroxylon sagu Rottb.) merupakan salah satu tanaman penghasil karbohidrat yang sangat potensial dalam mendukung program peningkatan ketahanan pangan nasional (Djoefrie et al., 2013; Ehara, 2009; Kanro et al., 2003). Karbohidrat atau pati disimpan di dalam batang tanaman sagu dalam jumlah yang cukup besar antara 150–700 kg pati kering/batang (Flach, 1997). Sagu telah digunakan sejak dahulu sebagai makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia bagian timur, yaitu Maluku dan Papua (Flach, 1997; Kanro et al., 2003). Selain sebagai sumber bahan pangan, tanaman sagu mempunyai banyak manfaat penting lain, yaitu sebagai sumber energi terbarukan, berupa bioetanol sumber bahan industri, seperti lem (adhessive gel), sirup, mie, aneka kue, dan roti; bahan farmasi; pakan ternak (Djoefrie et al., 2013; Flach, 1997; Rostiwati et al., 2008;).

Untuk penyediaan secara massal benih sagu unggul, metode perbanyakan in vitro menggunakan embriogenesis somatik penting untuk dikembangkan. Aplikasi auksin yang dikombinasikan dengan sitokinin sering ditambahkan ke dalam media untuk menginduksi baik kalus maupun embrio somatik dengan gradasi konsentrasi auksin. Auksin yang sering digunakan adalah 2,4-D karena daya induksinya lebih kuat dan harganya lebih murah dibanding dengan jenis auksin lainnya (Alkhateeb, 2006; Boufis et al., 2014; Cai et al., 2009; Hajong et al., 2013; MunozConcha et al., 2011; You et al., 2011).

Penelitian embriogenesis somatik tanaman sagu telah berhasil dikembangkan oleh Tahardi et al. (2002) dengan menggunakan sistem kultur media padat. Namun untuk pengembangan secara komersial, teknik media padat tersebut masih memiliki beberapa kendala, terutama tingkat efektivitas dan efisiensi yang rendah. Karena itu, teknik embriogenesis somatik sagu dengan media cair penting untuk dikembangkan. Penerapan kultur cair ditujukan untuk otomatisasi dan scale-up serta meningkatkan pertumbuhan dan keseragaman kultur (Gupta et al., 2014; Jova et al., 2011; Muruganantham et al., 2010). Beberapa teknik kultur cair potensial adalah perendaman periodik yang dikenal dengan sistem perendaman sesaat (SPS) atau temporary immersion system (TIS) dan kultur suspensi (suspension culture).

Baca Juga  8 Sekolah Dipastikan Absen di OSN SMP/MTs Kabupaten

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Biak Sel dan Mikropropagasi, Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia, rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan tiga ulangan. Data bobot basah biomassa dan jumlah embrio somatik diuji statistik menggunakan analisis keragaman (Anova). Perbedaan antar perlakuan ditentukan dengan Uji Jarak Berganda Duncan atau Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf uji a = 0,05. Analisis statistic untuk data-data setiap perubah menggunakan program SPSS versi 19. Perlakuan yang digunakan adalah kombinasi zat pengatur tumbuh (ZPT) dan metode kultur yang terdiri atas beberapa level subperlakuan. Perlakuan konsentrasi 2,4-D terdiri atas empat level, yaitu 0, 5, 10, dan 15 mg/l yang masingmasing dikombinasikan dengan kinetin 0,1 mg/l, kecuali pada 0 mg/l (kontrol). Perlakuan metode kultur terdiri atas tiga macam, yaitu kultur suspense (Gambar 1B), SPS/TIS (Gambar 1C), dan media padat (Gambar 1D). Secara rinci, terdapat dua belas kombinasi perlakuan yang diuji.

Proses kultur sagu ini diatur dalam kondisi yang sama dan homogen yang meliputi sumber eksplan, kondisi laminar air flow, dan peralatan kultur (spatula, pinset, jarum, dan lain-lain.), serta kondisi ruang kultur yang dijaga dari kontaminasi factor eksternal. Penelitian ini terdiri atas dua kultur yang berkesinambungan (kultur-1 dan kultur-2). Pada kultur awal atau kultur-1, sebanyak 0,5 g kalus remah sagu dimasukkan ke dalam bejana/wadah sesuai dengan perlakuan, baik perlakuan ZPT maupun metode kultur. Kalus sagu pada semua perlakuan diinkubasikan di dalam ruang terang di bawah lampu TL dengan intensitas cahaya 30 μmol foton/m2/detik dan lama penyinaran 12 jam dengan suhu ruangan 26±1°C selama 6 minggu. Setelah hasil pertumbuhan dan perkembangan pada kultur-1 diamati, subkultur (kultur- 2) dilakukan pada media yang sama dengan kultur-1 yang disesuaikan dengan perlakuan masing-masing secara akumulatif. Durasi kultur-2 selama 6 minggu sehingga total lama kultur-1 dan kultur-2 selama 12 minggu.

Baca Juga  Pulau Lombok dan MotoGP, Magnet Investasi Global

Berdasarkan beberapa indikator, seperti proliferasi kalus dan pertumbuhan biomassa, induksi embryogenesis somatik,daya hidup kultur, perubahan warna dominan kultur, perkembangan embryogenesis somatik maka dapat disimpulkan embrio somatik yang dihasilkan mempunyai potensi tumbuh dan berkembang secara normal karena memiliki SAM atau calon tunas dan RAM atau calon akar. Proses proliferasi kalus embriogenik dan induksi embrio somatik sagu terbaik dicapai pada perlakuan metode kultur suspensi dengan aplikasi 2,4-D 5 mg/l dikombinasikan dengan kinetin 0,1 mg/l. Kultur suspense mempunyai efektivitas paling tinggi untuk menginduksi embrio somatik dibanding dengan metode SPS dan media padat. (*)

dukacita dukacita bankntb