Ada Apa dengan Perusda Sabalong Samawa ?

oleh -49 views

Oleh: Ivan Indrajaya, ST (Plt Direktur Perusda Sabalong Samawa/Bagian Perekonomian Setda Sumbawa)

SUMBAWA BESAR, SR (06/02/2018)

Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, sebuah ungkapan yang menyatakan refleksi atas sesuatu yang lebih besar ke sesuatu yang lebih kecil dalam sebuah hubungan, bahkan boleh dibilang pantulan antara pemerintah dengan program dan hasilnya.

Perusda Sabalong Samawa adalah “anak kandung murni” Pemerintah Kabupaten Sumbawa, karena seluruh modalnya dimiliki sendiri. Berbeda dengan Bank NTB ataupun BPR yang merupakan buah dari perkawinan dengan Pemda lainnya. Selain Perusda, Pemerintah Kabupaten Sumbawa juga memiliki anak kandung murni lainnya yaitu PDAM Batulanteh. Berbeda dengan Perusda, PDAM ini dibentuk lebih kepada fungsi sosial sedangkan Perusda lebih kepada salah satu tiang penyangga ekonomi daerah. Kita harus mulai memahami ada benang merah antara kondisi “anak-anak” dengan perhatian “Bapak”nya. Memang dalam sebuah keluarga biasanya ada satu anak yang menyimpang dari perilaku ideal, dan tidak sedikit juga kita melihat Bapak yang menelantarkan anaknya. Lalu kita kembali kepada kondisi Perusahaan plat merah Sumbawa, pertanyaannya apakah si “anak” yang bandel atau si “Bapak” yang cuek. Mendengar kata “Perusda Sabalong Samawa” pikiran kita akan memasuki spectrum negatif tentang perusahaan sakit, bangkrut, merugikan daerah lalu dibubarkan saja. Oke, kita bisa memahami dan memang faktanya seperti itu. Memaknai peribahasa diatas untuk mengjudge bahwa Perusda sakit karena pemiliknya juga sakit (dulu) ? Atau karena si Perusahaan sendiri yang susah dibilangin? Apapun hipotesanya yang pasti ada aliran darah yang sama antar keduanya.

Baca Juga  Membentuk Mindset ASN Berorientasi pada Kepuasaan Pelanggan

Kita sepakat bahwa Perusahaan plat merah ini sedang “sekarat”, pilihannya apakah reborn, merger, atau pailit?. Jika menoleh ke belakang sebentar lalu melihat jalan di depan maka pilihan idealnya adalah reborn. Terlahir kembali dengan ruh yang sama tapi dengan jasad baru, dimake up inovasi jaman now. Me-Reborn Perusahaan ada 2 strategi yaitu strategic turnaround dan operasional turnaround. Penyehatan strategis mengedepankan perubahan hal yang bersifat strategis misalnya pengurangan unit usaha, perubahan pasar sasaran, perubahan teknologi dan lain-lain. Sedangkan penyehatan operasional fokus pada fungsional misalnya pemasaran, sumber daya manusia dll. Pilih yang mana? Pakai keduanya. Prakteknya ada pada landasan visi misi pemerintah yaitu gotong royong. Jaman sekarang menutup diri dari “Aku” si pembawa perubahan, tapi “Kita” yang menemukan perubahan. Tidak lagi hanya pada pengucapan semangat-semangat saja, tapi lebih kepada aksi nyata semua pihak.

Pemilik sekarang sudah mulai merangkul Perusda, sadar akan aliran darah yang sama merah, tahapan transfusi darah sudah disiapkan sejak sekarang ini, terlebih kondisi si “Pendonor” dalam keadaan fit sehat walafiat. Jika Sholat berjamaah derajatnya 27 kali lipat, membangun Perusda SS secara gotong royong akan mencapai 27 kali lebih cepat dan 27 kali lebih besar manfaat untuk Sumbawa Hebat Bermartabat. “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” akan kita lihat sebagai refleksi kehebatan Pemerintahan saat ini pada hebatnya Perusahaan plat merah ini kedepan. (*)

Baca Juga  Saatnya Bangun NTB dengan Iptek dan Ekonomi Syariah

 

 

BPSK dukacita dukacita bankntb