Prospek Penerapan Teknologi Nano Dalam Pertanian dan Pengolahan Pangan di Indonesia

oleh -335 views
Syamsul Bahri

Oleh: Syamsul Bahri (Fakultas Teknobiologi Universitas Teknologi Sumbawa)

SUMBAWA BESAR, SR (31/01/2018)

Penelitian di Bidang Teknologi nano yang berkembang pesat dalam dekade terakhir merupakan tantangan dan peluang bagi Indonesia untuk ikut berperan dalam pasar dunia. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji prospek penerapan teknologi nano, khususnya pada bidang pertanian dan pengolahan pangan. Kajian dilakukan melalui studi pustaka yang relevan dengan penelitian, pengembangan, dan penerapan teknologi nano, khususnya pada bidang pertanian dan pengolahan pangan di Indonesia. Hasil pengkajian menunjukkan teknologi nano mempunyai prospek yang cerah untuk diterapkan di Indonesia. Namun penelitian, pengembangan, dan penerapannya di Indonesia berkembang lambat dan lebih terfokus pada bidang selain pertanian dan pengolahan pangan, seperti elektronik, energi, kedokteran, dan farmasi. Hambatan perkembangan teknologi nano di Indonesia antara lain (1) fasilitas (sarana dan prasarana) teknologi nano yang kurang memadai dan tersebar di sejumlah institusi; (2) kurangnya sinergisme antar lembaga riset teknologi nano; (3) sumber daya manusia (SDM) yang kurang mendukung; dan (4) anggaran yang kurang memadai. Sejumlah studi mengungkapkan penerapan teknologi nano pada bidang pertanian dan pengolahan pangan di Indonesia, seperti pupuk, antioksidan, pengawet makanan, fortifikasi, pangan fungsional, nutrasetikal, dan kemasan pintar.

Dalam rangka mendorong penerapan teknologi nano pada agroindustri nasional maka peningkatan penguasaan teknologi Nano di bidang pertanian perlu terus diupayakan dan dapat ditempuh melalui (a) membangun jaringan riset teknologi nano pada lingkup nasional, (b) sosialisasi teknologi Nano dan potensi pemanfaatannya di bidang pertanian, (c) memperkuat SDM teknologi nano, (d) mengembangkan sinergi penelitian teknologi nano, (e) mengembangkan tata kelola penelitian teknologi nano pada lingkup Badan Litbang Pertanian, (f) menetapkan prioritas penelitian teknologi Nano, dan (g) mengembangkan kerjasama dengan pihak swasta.

Nanoteknologi didefinisikan sebagai penghasilan atau penggunaan bahan, alat dan sistem melalui manipulasi bahan pada saiz antara 1 – 100 nanometer (nm). Dalam terminologi saintifik, awalan ‘nano’ bermaksud satu per bilion atau 10-9. Oleh itu, 1 nanometer (nm) bersamaan 1 per bilion meter atau 10-9 meter yaitu bersamaan dengan lebar 6 atom karbon atau 10 molekul air. Sebagai perbandingan, rambut manusia bersaiz lebih kurang 80,000 nm dan sel darah merah lebih kurang 7,000 nm lebar. Apabila digabungkan dengan komponen bioteknologi, nanoteknologi menjadi platform baharu yang berkuasa dengan potensi aplikasi yang amat besar merangkumi bidang pertanian, peranti diagnostik, farmaseutikal baharu, pengimejan perubatan, sensor biologi dan banyak lagi.

Baca Juga  Mengenal Dunia Kerja, SMK Al Kahfi Sumbawa Prakerin di Tiga Daerah

Saat ini di banyak negara maju, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, penelitian dan pengembangan penerapan teknologi nano di bidang pertanian dan pengolahan pangan semakin berkembang pesat. Irawan et al. (2014) melaporkan bahwa sejumlah negara telah membangun riset teknologi nano nasionalnya dengan serius, misalnya Amerika Serikat yang mendirikan National Nanotechnology Initiative (NNI). Selain pengembangan penelitian di tingkat nasional, jaringan penelitian teknologi nano antarnegara dan kawasan juga berkembang pesat. Dua organisasi besar dunia, yaitu Food and Agriculture Organization (FAO) dan World Health Organization (WHO) (2009) meyakini bahwa teknologi nano sangat potensial untuk pengembangan produk inovatif pertanian, perlakuan air, produksi pangan, pengolahan, pengawetan, dan pengemasan, sehingga berpotensi meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk, serta keuntungan bagi petani, industri pangan, dan konsumen. Dalam hal ini, teknologi nano merupakan suatu pendekatan teknologi mutakhir yang sangat memberi harapan bagi kemajuan di berbagai bidang, termasuk pertanian dan pengolahan pangan. Namun, teknologi ini juga menimbulkan berbagai pertanyaan menyangkut dampaknya terhadap lingkungan, kesehatan, keamanan pangan, etika, serta isu kebijakan dan pengaturan. Tidak hanya di negara-negara maju, di beberapa negara berkembang seperti Korea, Cina, Thailand, Malaysia, dan Vietnam, teknologi nano juga berkembang dengan pesat. Hasil-hasil studi sebelumnya menunjukkan bahwa untuk negara berkembang penerapan teknologi nano pada subsektor pertanian dan pengolahan pangan memiliki urgensi dan potensi dampak yang tinggi, terutama untuk peningkatan produktivitas, kualitas air, sistem penghantar obat, pengolahan dan penyimpanan pangan, serta deteksi dan pengendalian hama beserta vektornya (Rochman 2011; Salamanca-Buentello et al. 2005). Lebih lanjut dikatakan bahwa penerapan teknologi nano untuk pertanian dan pengolahan pangan diharapkan dapat menciptakan pertanian presisi (precision farming) di mana input pertanian hanya diberikan sesuai kebutuhan tanaman atau ternak untuk efisiensi biaya produksi sekaligus meningkatkan kuantitas dan kualitas produk pertanian dan pengolahan pangan. Dibandingkan dengan di negara-negara maju, sampai saat ini penelitian dan pengembangan teknologi nano di Indonesia masih belum banyak dilakukan, khususnya dalam bidang pertanian dan pengolahan pangan. Padahal penerapan teknologi nano akan mendukung upaya pencapaian swasembada pangan dan pengembangan produk lokal yang berdaya saing tinggi (Hoerudin dan Irawan 2015). Potensi pengembangan teknologi nano di Indonesia didukung oleh ketersediaan material nano yang sangat besar potensinya untuk industri besar berbasis teknologi Nano yang memiliki daya saing tinggi dengan memanfaatkan kekayaan alam yang dimiliki, termasuk potensi kekayaan alam pertanian dan pangan yang melimpah.

Baca Juga  Cetak Generasi Qur’ani, RT Lentera Samawa Dilaunching

Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji perkembangan penelitian dan pengembangan, serta penerapan teknologi nano, khususnya dalam bidang pertanian dan pengolahan pangan. Secara khusus juga akan dibahas bagaimana peran Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Perta-nian, dalam penelitian dan pengembangan, serta penerapan teknologi nano pada bidang pertanian dan pengolahan pangan di Indonesia. Kajian dilakukan melalui studi literatur yang relevan dengan penelitian dan pengembangan, serta penerapan teknologi nano, khususnya dalam bidang pertanian dan pengolahan pangan. Hasil studi ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun program pengembangan teknologi nano di bidang pertanian dan pengolahan pangan ke depan.

Pada bidang pertanian, teknologi nano digunakan untuk meningkatkan produktivitas tanaman, kualitas produk, penerimaan konsumen dan efisiensi penggunaan sumber daya. Dengan demikian, penerapan teknologi nano akan membantu mengurangi biaya pertanian, meningkatkan produktivitas, meningkatkan nilai produksi, dan meningkatkan pendapatan pertanian, di samping mendukung konservasi dan meningkatkan kualitas sumber daya alam dalam sistem produksi pertanian. Perez-de- Luque dan Hermosín (2013) membagi penerapan teknologi nano dalam bidang pertanian menjadi tiga: (1) formulasi nano agrokimia untuk penerapan pestisida dan pupuk pada tanaman dengan menggunakan tiga tipe material nano, yaitu polimer organik, senyawa inorganik, dan material hibrid (komposit nano); (2) potensi pengembangan perangkat nano (nanodevices) untuk manipulasi genetik tanaman; dan (3) penerapan sensor nano dalam produksi tanaman untuk identifikasi penyakit dan residu agrokimia.

Era nanoteknologi adalah era yang berubah dengan pantas dan menjadi satu daripada bidang sains moden yang berkembang dengan pesat. Pada masa kini, setiap bidang sains sedikit sebanyak mempunyai kaitan dengan nanoteknologi, daripada amalan perladangan kepada pemasaran, nanoteknologi telah membawa kepada satu revolusi. Sektor pertanian dan industri makanan dan merupakan dua sektor utama yang mendapat faedah daripada saintis yang membangunkan evolusi dalam nanoteknologi. Aplikasi skala besar partikel nano dalam sektor pertanian membawa kepada perubahan revolusi yang berupaya meningkatkan produktiviti dalam sektor ini yang secara langsung membantu meningkatkan pendapatan para petani dan industri pertanian itu sendiri. Namun demikian, pengetahuan dan kesedaran orang ramai terhadap aplikasi nanoteknologi dalam pertanian dan perladangan perlu dipupuk supaya teknologi ini boleh dimanfaatkan sepenuhnya. Pengguna pula perlu memahami risiko dan aspek keselamatan nanoteknologi. (*)

dukacita dukacita bankntb