Home / MATARAM / Gubernur NTB Ajak Umat Islam Belajar dari Kisah Fir’aun

Gubernur NTB Ajak Umat Islam Belajar dari Kisah Fir’aun

MATARAM, SR (25/01/2018)

Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi menyampaikan Kajian Tafsir Al-Qur’an setelah sholat subuh, di Masjid Hubbul Wathan, Islamic Center, NTB, Rabu (24/1), mengajak seluruh umat Islam untuk senantiasa belajar dan mengambil hikmah dari kisah perjalanan hidup Fir’aun. Gubernur yang lebih dikenal dengan sapaan Tuan Guru Bajang (TGB) ini mengisahkan, Fir’aun selama menjadi penguasa pada masa itu, tidak pernah mau menerima dakwah dan seruan kebaikan yang disampaikan oleh Nabi Musa. Bahkan Fir’aun menganggap dirinya sebagai tuhan yang memiliki kekuasaan serta kekayaan yang melimpah. Sebagai ilustrasi untuk menggambarkan bagaimana kisah Fir’aun dalam Al-Qur’an, Gubernur Ahli Tafsir tersebut membaca serta mengkaji Al-Qur’an Surat Az-Zukhruf Ayat 51-54. Dalam Ayat tersebut dikisahkan oleh Allah SWT tentang Fir’aun yang tidak menerima dakwah yang disampaikan oleh Nabi Musa. Yakni mambandingkan kekuasaan dan kekayaan yang dimilikinya dengan Nabi Musa. Di hadapan kaumnya, Fir’aun menyampaikan bahwa yang mengontrol kekuasaan, yang menguasai ekonomi,  dan yang memiliki pasukan paling banyak dan kuat pada masa itu di Mesir adalah dirinya. Dia membandingkan dirinya dengan Musa dari berbagai sisi kehidupan, seperti keluarga, kekayaan, komunikasi dan hubungan atau support pasukan. Dakwah yang disampaikan Musa ditentang dengan kekuasaan dan kekayaan yang dia miliki. “Dari kisah Fir’aun yang dijelaskan dalam Surat Az-Zukhruf Ayat 51-54, kita dapat mengambil hikmah,” ungkap TGB.

Hikmah pertama lanjutnya, bahwa ajaran-ajaran kebaikan yang mengajak pada satu perbaikan sosial, atau satu ide besar untuk menggagas kehidupan yang lebih baik pasti memiliki tantangan. Bahkan semakin besar tantangan itu, maka gagasan yang disampaikan merupakan ide yang memiliki kadar kebaikan yang lebih besar. “Kalau dalam keseharian kita ingin melakukan kebaikan, terus kita mendapat tantangan, halangan atau cercaan, maka jangan sampai itu menjadi halangan kita untuk melakukan kebaikan,” ajak TGB.

Kemudian, TGB menguraikan hikmah selanjutnya tentang perjalanan hidup Fir’aun yaitu, kekuasaan, kewenangan dan kekayaan yang dimiliki seseorang seringkali disalahgunakan. Hikmah ketiga adalah tidak mengukur apa yang dilakukan dengan hanya melihat materi. Yakni, segala sesuatu yang ada dalam diri manusia, termasuk apa yang dilakukan tidak semata-mata diukur dengan seberapa banyak harta yang dimiliki. “Jangan lihat siapa yang sampaikan, lihatlah substansi yang dia sampaikan. Ini mengajarkan kita untuk disiplin berfikir,” ungkap TGB.

Sebab menurut TGB, apa yang disampaikan oleh seseorang, tanpa melihat siapa dan darimana dia berasal, jika mengandung nilai kebenaran dan kebaikan, maka itu merupakan sebuah nasehat. Jika Allah memberikan kebaikan kepada seseorang, maka akan datang padanya orang untuk mengingatkannya pada kebaikan.

Hikmah terakhir yang disampaikan TGB, bahwa sebagai mahluk yang hidup secara kolektif, saling mengingatkan merupakan sebuah kebutuhan dan keharusan. Sebab, ketika dalam masyarakat tumbuh sifat atau karakter ketidakberdayaan kolektif, maka suatu bangsa tidak dapat menangkal bahaya-bahaya yang timbul. Karena, masyarakat tidak lagi peduli dan bahkan bersikap apatis terhadap kezdoliman yang ada. “Semangat koreksi dan nasehat tetap harus kita tumbuhkan pada diri masyarakat,” pungkasnya. (JER/SR)

Lihat Juga

MES NTB Optimis Mawar Emas Bebaskan Masyarakat dari Rentenir

MATARAM, samawarea.com (13/8/2020) Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah secara resmi melaunching program Melawan Rentenir Berbasis ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *