Menyoal “PELANGI” Abad 21

oleh -5 views

Oleh: Ummu Bayhaqi

SUMBAWA BARAT, SR (12/01/2018)

Abad 21 ini, kaum LGBT (yang diberi symbol Pelangi) telah menjelma menjadi sebuah kekuatan politik karena telah diakui secara politis oleh Amerika Serikat sebagai “negara pertama” dalam konstelasi internasional dengan tujuan puncak perjuangan kaum LGBT yakni “pernikahan sejenis”. Bahkan yang mengenaskan adalah hak-hak mereka juga telah diakui oleh deklarasi PBB tahun 2008. Rupanya abad ini adalah puncak keberhasilan mereka, dimulai pertamakali oleh Belanda yang melegalkan pernikahan sesama jenis tahun 2001, hingga menyusul Belgia (2003), Spanyol (2005), Kanada (2005), Afrika Selatan (2006), Norwegia-Swedia  (2009), Portugal-Islandia-Argentina (2010), Denmark (2012), Brazil-Inggris-Perancis-Selandia Baru-Uruguay (2013), Skotlandia (2014), Luxemburg-Finlandia-Slovenia-Irlandia-Meksiko (2015), dan terkini Amerika Serikat (2015). Hingga sekarang mereka hendak merambah ke negeri-negeri muslim. Nampak jelas LGBT sudah menjadi salah satu alat politik Barat dalam menjajah masyarakat Muslim yang dibahanbakari oleh industry hiburan kapitalis dan lifestyle hedonis. AS bahkan secara serius mendanai program baru bernama “Being LGBT in Asia” yang diluncurkan oleh UNDP dengan pendanaan US$ 8 juta dari USAID dan dimulai Desember 2014 hingga September 2017 mendatang. Program ini focus beroperasi di Asia Timur dan Asia Tenggara khususnya di Cina, Indonesia, Filipina, dan Thailand, dengan tujuan meminimalisir kendala bagi kaum LGBT untuk hidup di tengah masyarakat.

Adapun di Indonesia, isu LGBT kembali naik daun paska ditolaknya pengajuan judicial review pasal 284, 285, dan 292 KUHP oleh Mahkamah Konstitusi (MK). Pihak pemohon uji materi menilai bahwa keberadaan pasal-pasal tersebut memberi peluang bagi pelaku zina dan LGBT untuk semakin eksis. Tidak adanya produk hukum yang dapat menjerat para pelaku LGBT merupakan akibat dari diterapkannya system yang memisahkan agama dari kehidupan (sekuler) di negeri ini. Bahkan kebebasan bertingkah laku tersebut adalah legal dalam system demokrasi. Sehingga sangatlah wajar jika LGBT makin gawat untuk syahwat. Padahal betapa mengerikan dampak yang ditimbulkan karena adanya perilaku seks menyimpang tersebut di antaranya sipilis dan HIV AIDS.

Baca Juga  Resmikan BI Corner, Gubernur Harap IISBUD Bersemangat

Anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Kulit dan Kelamin, Dewi Inong Irana, dalam acara diskusi di program ILC TVone menyatakan bahwa penularan terbanyak HIV/AIDS adalah hubungan seksual lewat dubur. Beliau kemudian mengambil data dari kementerian kesehatan Amerika, CDC, bahwa sebanyak 55 persen dari penderita AIDS di Amerika adalah pelaku LGBT. Mirisnya kini di Indonesia, penyakit HIV/AIDS kian meningkat seiring dengan semakin banyaknya pelaku LGBT. Bukan rahasia lagi, LGBT kini semakin terbuka. Tidak lagi malu-malu menunjukkan jati diri, berlindung di balik hak asasi dan berdalih bahwa itu merupakan takdir yang harus dijalani. Sementara para psikiater (ahli kesehatan jiwa) menyatakan bahwa LGBT ini adalah penyakit sehingga harus diterapi.

Tentu masih segar dalam ingatan pada Mei lalu terjadi penggrebekan di sebuah ruko Kelapa Gading Jakarta Utara, karena terindikasi adanya pesta seks gay di sana. Benar saja, didapati ratusan pria nyaris bugil di lokasi penggrebekan. Ternyata virus LGBT ini tidak hanya menyerang ibukota saja, tetapi juga menyerang wilayah-wilayah kecil seperti di Pulau Sumbawa. Sungguh kasus pembunuhan sekaligus sodomi terhadap anak di bawah umur terus terjadi, sehingga pihak kepolisian terus-menerus menghimbau agar orang tua lebih memperketat pengawasan mereka terhadap anak-anaknya. Betapa perilaku seks menyimpang telah menodai budaya negeri ini. Seolah mereka ingin mengampanyekan bahwa LGBT ini adalah sebuah bentuk kebenaran. Bahkan penguasa negeri ini pun turut melindungi. Salah satunya muncul dari pernyataan Menteri Agama, Lukman Hakim Syaifudin, bahwa LGBT harus dirangkul dan diayomi. Jelas saja kaum LGBT akan terus merasa benar terhadap perilaku mereka yang sejatinya merupakan penyakit yang sangat mematikan sehingga membutuhkan terapi secara berkesinambungan.

Padahal sejatinya Islam mengharamkan perilaku zina dengan segala bentuknya, termasuk LGBT. Islam mengistilahkan kaum homoseks dengan liwath. Tak tangung-tanggung sanksi yang akan diberikan kepada pelakunya adalah hukuman mati yakni dijatuhkan dari gedung tertinggi di wilayah tempat tinggal pelaku. Itulah cara Islam menjaga kemuliaan manusia dari perilaku yang dimurkai Allah. Selain cara kuratif tersebut, Islam juga melakukan cara prefentif, yakni dengan penanaman akidah Islamiyah yang benar kepada setiap individu. Sehingga mereka akan menyandarkan setiap perbuatannya pada hukum syara saja, bukan keinginan hawa nafsunya. Oleh karena itu, para tokoh umat di seluruh dunia Islam tidak boleh membiarkan sikap masyarakat muslim hanya bersifat temporal dan sporadis. Kaum Muslimin memiliki tanggung jawab aksi sebagai berikut:

  1. Mengkampanyekan visi politik Islam yang sangat humanis dalam melestarikan manusia dan memelihara keluhuran peradaban Islam, dengan melakukan edukasi di tengah-tengah masyarakat bahwa semua yang dilarang dan dilaknat oleh Allah pasti juga bertentangan dengan fitrahnya. Allah sudah sangat jelas dalam firman-Nya ayat pertama QS an-Nisa, bahwasannya Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk tujuan berkembangbiak alias melestarikan keturunan. Sehingga maraknya LGBT akan mengakibatkan depopulasi manusia. Kaum LGBT tidak akan mungkin menghasilkan keturunan. System Islam mampu mengatur secara praktis agar penyakit LGBT ini tidak tumbuh dan berkembang. System pergaulan akan diatur sejalan dengan syariah dimana interaksi antar manusia termasuk di dalamnya interaksi lawan jenis dan sejenis. Lalu system politiknya adalah politik yang independent dari pengaruh barat sehingga negara tidak akan menerapkan kebijakan yang disetir oleh barat.
  2. Merevitalisasi ‘amar ma’ruf nahiy munkar dalam masyarakat muslim. Artinya bentuk kepedulian terbaik kepada para pelaku LGBT adalah menyadarkan bahwa perilakunya menyimpang, dan kemudian mendukung mereka untuk sembuh dan kembali pada kodratnya.
  3. Mengedukasi umat bahwa ide dan konsep HAM yang sering dijadikan hujjah oleh para pegiat LGBT adalah konsep yang bertentangan dengan Islam dan justru membahayakan kemanusiaan itu sendiri.
  4. Menyeru penguasa negeri-negeri Muslim untuk bersatu dalam naungan Khilafah Islam, karena sesungguhnya inilah perisai sejati umat Islam yang akan menjamin kehormatan generasi muslim dalam martabat kemanusiaan yang luhur dan mencegahnya terjerumus dalam perilaku hewani seperti LGBT.
Baca Juga  Mahasiswa UNSA Ajari Petani Buat Pestisida Nabati dari Daun Nimba

Wallahua’lam bi ash-shawab (*)

BPSK dukacita dukacita bankntb