Tanpa Pemeliharaan, Persentase Jalan Mantap Menurun

oleh -7 views

SUMBAWA BESAR, SR (26/12/2017)

Pembangunan infrastruktur jalan pada tahun 2017 ini dinilai masih lebih bagus daripada tahun 2016 lalu. Pasalnya beberapa ruas jalan yang rusak sudah mulai mendapat perhatian. Hal ini diungkapkan Ketua Partai Nasdem Kabupaten Sumbawa, H. Asaat Abdullah ST kepada SAMAWAREA, Senin (25/12) kemarin, seraya mencontohkan jalan ke Desa Sempe Kecamatan Moyo Hulu yang sudah bagus meski ada beberapa titik yang masih perlu penanganan. Kemudian ruas jalan Tepal—Orong Telu. Ropang—Ranan dan Lebin sudah terlihat baik. Apalagi Pemerintahan Husni—Mo mengklaim terjadi peningkatan persentase jalan mantap dari 62 persen menjadi 64 persen. Artinya selama dua tahun pemerintahan tersebut ada peningkatan 2 persen jalan mantap. Ini harus terkejar mengingat janji politik Husni—Mo, jalan mantap 100 persen akan dituntaskan dalam masa tiga tahun pemerintahannya.

Kendati demikian, Haji Saat—sapaan mantan Kadis PU Sumbawa ini perlu mengingatkan sejumlah ruas jalan sudah mengalami kerusakan meski baru selesai dikerjakan. Jalan itu tersebar di sejumlah titik terutama di wilayah bagian timur, barat dan selatan. Kenyataan ini harus dikoreksi betul terutama dari segi perencanaan, penganggaran dan pelaksanaan.

Ketika 64 persen jalan mantap ungkap Haji Saat, berarti ada 550 kilometer dari 951,51 Km jalan yang harus dipelihara sesuai klasifikasinya. Tapi yang menjadi persoalan saat ini, Pemda melalui leading sektor terkait terlalu focus pada peningkatan hotmix dan mengabaikan pemeliharaan. Ketika peningkatan yang diprioritaskan dan mengabaikan pemeliharaan, Haji Saat khawatir pada Tahun 2018 mendatang jalan mantap tersisa 50 persen. Contohnya, jalan yang dibangun tahun kemarin, sudah mulai rusak seperti Jalan Ropang dan lainnya. Sebab ada tiga bagian jalan yang dipelihara yaitu jalan di atas, jalan di samping dan jalan di bawah. “Kalau ini tidak diperhatikan maka jalan yang ada akan hancur. Makanya saya lihat pemahaman dari leading sektor terkait tentang ini tidak ada. Hanya focus hotmix. Itu hotmix di Lebin yang saat ini sudah selesai, yang diperkirakan tidak akan bertahan lama. Demikian jalan ke Ropang bagus luar biasa, tapi baru tahun kemarin dikerjakan kini dibongkar dan digali lagi untuk perbaikan. Dan itu merugikan kontraktor,” tukasnya.

Baca Juga  KPU Sumbawa Barat Musnahkan 164 Lembar Surat Suara

Kemudian jalan ke Batu Lanteh, space jalan sudah bagus tapi tidak musti semuanya dihotmix. Cukup dari titk awal sampai sekitar 2 kilometer. Untuk selanjutnya cukup menggunakan Telport (batu bulat). “Jangan paksakan semua hotmix, lebih baik perpanjang ruas untuk membuka jalan. Misalnya tembus ke Dusun Pusu,” imbuhnya.

Haji Saat meyakini bahwa Bupati Sumbawa tidak mengetahui tentang hal ini, tapi aparatur pelaksananya yang menjadi masalah. Karena dengan dipaksakannya harus dihotmix, indikasinya lebih pada nilai bisnis, bukan kuantitas dan kualitas. “Ketika beberapa tahun lalu Gubernur NTB Tuan Guru Bajang berkunjung ke Tepal, meminta Kadis PU Provinsi untuk menghitung nilai hotmix jalan itu. Setelah dihitung biayanya per kilometer mencapai Rp 11 Miliar. Lalu sekarang Pemda menganggarkan hanya Rp 2,5 miliar per kilo. Ini bagaimana hasilnya bisa maksimal. Jadi saya lihat ini asal hotmix saja,” sesalnya.

Sebenarnya program Husni—Mo untuk infrastruktur jalan dengan menembus daerah terisolir dinilai Haji Saat, sangat bagus. Namun tidak harus dipaksakan hotmix, sebab jalan mantap tidak harus hotmix. “Apa gunanya dihotmix tahun ini kalau tahun depan sudah rusak,” pungkasnya. (JEN/SR)

BPSK dukacita dukacita bankntb