Pemerintah Lamban Jadi Pemicu Lar Ai Ampuk Bergejolak

oleh -5 views
Rumah milik Jemaan warga Trans yang dibakar massa.

SUMBAWA BESAR, SR (21/12/2017)

Lambannya penanganan pemerintah daerah dalam menyelesaikan sengketa lahan Ai Ampuk di Kecamatan Plampang antara komunitas Lar dengan warga transmigrasi, menjadi salah satu pemicu bergejolaknya lahan tersebut. Selain sudah beberapa kali terjadi bentrok, puncaknya Selasa (19/12) kemarin, terjadi penyerangan terhadap Timgab yang menyebabkan satu anggota Satpol PP terluka parah dan beberapa kendaraan rusak termasuk mobil dinas Camat Plampang. Rangkaian dari kejadian ini juga sejumlah rumah ladang maupun tempat tinggal dirusak dan dibakar. Tentunya kejadian ini sangat disesalkan. Harusnya ini tidak perlu terjadi jika pemerintah daerah sigap menyelesaikan persoalan yang sudah berlarut-larut.

Tokoh Pemuda Plampang, Handika Pratama kepada SAMAWAREA, Kamis (21/12) mengatakan sengketa Lar Ai Ampuk sudah sangat lama dan hampir setiap musim tanam selalu terjadi konflik antar dua kubu yakni Komunitas Lar Desa Plampang dan warga transmigrasi di SP Prode. Keduanya saling klaim lahan itu bagian dari milik mereka. Satu sisi mengacu pada SK Bupati Sumbawa terkait ladang penggembalaan (Lar), dan di sisi lain berdasarkan SK Gubernur NTB untuk lahan transmigrasi. Meski sudah lama, namun pemerintah daerah belum mengambil sikap. Hanya beberapa kali menggelar pertemuan, tapi tidak pernah ada tindakan nyata terkait dengan hasil pertemuan yang menyepakati akan dilakukan pengukuran batas. Pemerintah daerah hanya ‘menyandera’ keberadaan lahan itu dengan sebutan status quo tanpa bisa memberikan kepastian kapan lahan itu memiliki kejelasan. Akibatnya terjadi pertumpahan darah. “Ini sudah jadi kebiasaan,  sudah terjadi baru bertindak,” sesalnya.

Baca Juga  Pentingnya Peranan Desa Cegah Ancaman Terorisme

Karena itu Ia mendesak pemerintah daerah tidak lagi mengulur waktu lagi, segera menetapkan dan memastikan batasan Lar Ai Ampuk, mengingat peternak sudah tidak memiliki lokasi penggembalaan karena sudah ditanami warga trans. Sebaliknya tanaman terancam rusak karena diserang ternak yang tidak memiliki ladang penggembalaan. Selain itu Handika menyayangkan tindakan pembakaran rumah milik petani. Padahal rumah milik Jemaan itu berada di luar kawasan Lar.

Kepada SAMAWAREA, Jemaan mengaku sedih melihat rumah beserta isinya hangus dilalap api. Tidak hanya rumah, tanamannya habis dirusak dan dibabat. Ia tidak tahu harus kemana mengadu dan siapa yang bertanggungjawab terhadap kerugian yang diderita. (BUR/SR)

dukacita dukacita bankntb