Memuliakan Perawat

oleh -13 views
Brilyan Anindya Dayfi Anggota PPNI Kabupaten Sumbawa

Oleh: Brilyan Anindya Dayfi (Anggota PPNI Kabupaten Sumbawa)

SUMBAWA BESAR, SR (20/12/2017)

Profesi satu ini memang begitu mulia. Secara penampilan, putih-putih mereka tidaklah meninggalkan kesan kemewahan yang luar biasa. Profesi satu ini memang begitu mulia. Sebagian besar masyarakat tidak mengetahui panggilan mereka dengan benar. Secara luas, mereka dipanggil suster, dan pada tingkat lokal mereka kadang dipanggil mantri, dan juga bidan (khusus bagi perawat wanita), meskipun kedua profesi ini, bidan-perawat berbeda. Profesi satu ini memang begitu mulia. Mereka menguasai seluruh lini. Pada setiap instansi pelayanan kesehatan, mereka unggul secara kuantitas, meskipun kualitas terus disumbangkan, tapi tidak ada kesan menolak, mereka terima, padahal mungkin, sebagian besar masyarakat tidak mengenal ruang lingkup professional mereka dengan benar. Profesi satu ini memang begitu mulia. Menjadi ujung tombak di seluruh ruang pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas, mereka memang tajam, tapi tidak benar-benar mampu menusuk. Karena mereka sangat sulit mendapatkan kesempatan dan kehormatan.

Harga diri profesi dapat dilihat berdasarkan tiga indikator. Yaitu, income, prestigious, power. Setiap professional tentunya harus mencapai ketiga hal tersebut dalam setiap aktivitas mereka, pun demikian dengan perawat. Pertama income (pemasukan); mereka bukanlah apa-apa, dibandingkan dengan profesi lainnya yang serumpun, penghargaan secara materiil jauh panggang daripada api. Dan itu praktiknya nyata. Bagaimana bisa terdapat kesenjangan yang mendalam antara professional satu dengan professional lainnya. Sedangkan, mereka sama-sama sedang berjuang di bawah sumpah, melaksanakan apa yang menjadi hak dan kewenangan masing-masing dan sudah diatur di setiap perangkat hukum profesi. Kedua Prestigious (bergengsi); dalam hal ini adalah apresiasi terhadap setiap aktivitas professional. Tidak jarang sebuah sistem tidaklah mengerti akan sifat kekaryaan keperawatan. Apa yang sebenarnya menjadi indikator ukur seorang perawat berhasil dalam bekerja. Jika seorang dokter mampu memberikan analisa mendalam terhadap kondisi seseorang, menentukan diagnosa medis, dan kemudian membuat usulan pengobatan. Maka dapat dikatakan, dokter itu berhasil melaksanakan fungsi-fungsi professional mereka. Begitu juga dengan seorang apoteker. Ketika mereka dihadapkan dengan resep dari dokter, maka mereka kemudian bekerja mempersiapkan formulasi obat dan memberikannya kepada pasien dan kemudian digunakan dengan sesuai, maka apoteker tersebut juga telah berhasil melaksanakan aspek professionalnya dengan baik. Perawat bagaimana ?. Yang ketiga Power (Kekuatan); adalah bagaimana sebuah profesi memiliki kekuatan dan kekuasaan sehingga mereka dapat mengaktualkan apa yang sesungguhnya ada dalam pikiran mereka. Dalam hal ini adalah peran dan tanggung jawab yang diberikan secara kelembagaan. Perawat sangat jarang mendapatkan kesempatan, bahkan di level Puskesmas dan Puskesmas Pembantu. Suka tidak suka, perawat selama ini hanya mengisi kekosongan dan bersifat sementara. Padahal mereka dinyatakan dalam Undang-Undang No 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga Kesehatan sebagai Tenaga Keperawatan. Terkadang, masih saja ada yang menyebutkan dan atau mengelompokkan mereka dalam kelompok tenaga medis, meskipun hal tersebut jelas jelas berbeda. Sebaiknya, setiap kelompok tenaga kesehatan ini memiliki kesempatan yang sama dalam mengemban amanah struktural, baik di level tertinggi maupun terendah. Tidak ada yang perlu ditakutkan, sebab mereka hanya dipisahkan oleh sikap-sikap dan tindakan professional masing-masing.

Baca Juga  Puncak Hari Donor Darah, Sumbawa Kekurangan Darah

Puncaknya Senin, 18 Desember 2017. Bertempat di Gedung DPRD Kabupaten Sumbawa. “Ratusan Perawat Gelar Aksi Demo, Tuntut Kesejahteraan”, seperti termuat di samawarea.com. Ini masih titik awal dari keresahan yang disampaikan pada paragrafh sebelumnya. Kita sepakat bahwa kesejahteraan adalah hak dari setiap anggota profesi. Begitu juga dengan perawat. Kita saat ini sedang berbicara tentang bagaimana memuliakan perawat untuk bahan renungan kita bersama. Seorang perawat bekerja atas dasar caring dalam melayani. Tujuannya adalah bagaimana agar objek yang dilayani merasa benar-benar dirawat, dihormati, mendapatkan asuhan, dipahami dan dibantu. Dalam melaksanakan hal tersebut, perawat memiliki sifat kekaryaan. Yaitu fokus telaahan, lingkup garapan, dan basis intervensi. Fokus telaahan perawat itu adalah manusia, baik itu individu-keluarga-kelompok (komunitas), lingkup garapannya adalah kebutuhan dasar manusia, yaitu bio-psiko-sosial-spiritual, dan basis intervensinya adalah ketidaktahuan, ketidakmauan, dan ketidakmampuan dari individu, keluarga, dan kelompok (komunitas). Maka secara awam, kita dapat melihat bagaimana seorang perawat seharusnya bekerja. Perawat diharapkan dapat membuat setiap individu yang mereka hadapi merasa nyaman dengan lingkungan dan diri mereka sendiri. Perawat menempatkan diri agar bagaimana orang lain merasa mulia dan memiliki arti. Ini semua di luar aspek curing (pengobatan), yang mungkin masyarakat sudah lebih memahami. Pertanyaannya adalah, bagaimana seorang perawat yang seyogyanya berperan penting pada masa-masa krisis individu, keluarga, atau kelompok masyarakat dalam hal kesehatan berperan optimal secara efektif dan efisien. Sedangkan secara professional, masih ada perawat yang belum dimuliakan. Apakah tidak ada keprihatinan dan rasa khawatir dari pemerintah, jika perawat ini tidak maksimal bekerja sehingga berdampak terhadap kualitas pelayanan. Di satu sisi, secara rasio perawat masih dibutuhkan. Kondisi ini semakin diperparah lagi dengan adanya ketimpangan di internal profesi. Yaitu penghargaan dan kesempatan yang didapatkan oleh perawat satu dengan yang lainnya berbeda hanya karena status kepegawaian. Mungkin hal ini terkait aturan kepegawaian ataupun hal yang sejenis. Akan tetapi bukannya kondisi ini harus diselesaikan secara baik. Apakah pertimbangan karena latar belakang pendidikan mereka yang sama, tanggung jawab dan kewenangan yang mereka miliki sama, dan resiko kerja yang mereka hadapi sama tidak dijadikan acuan. Apakah hanya karena alasan status kepegawaian, kita kemudian menutup diri dari ketidakadilan tersebut. Masyarakat pada dasarnya juga tidak melihat siapa-siapa yang memberi pelayanan. Sebab ketika sudah dalam sebuah sistem, maka semuanya adalah satu cerminan. Di luar itu, masyarakat juga punya hak menyalahkan, menghina, bahkan menuntut profesi perawat agar professional. Akan tetapi, penting kiranya, sebagai pengguna layanan professional, masyarakat harus melihat dinamika yang lain yang terjadi dalam lingkungan tersebut. Sehingga, kondisi ini benar-benar dipahami secara utuh. Karenanya, pemerintah dituntut agar memiliki inisiasi untuk melaksanakan analisa dan merumuskan kebijakan yang dapat memuliakan perawat. (*)

dukacita dukacita bankntb