Paslon Kepala Daerah di NTB Perlu Berhemat

oleh -0 views
Didu dan Athar

MATARAM, SR (10/12/2017)

Mi6 menghimbau semua pasangan calon (Paslon) kepala daerah di NTB yang mengikuti Pilkada serentak 2018 tidak perlu boros dalam membelanjakan anggarannya untuk kepentingan pencitraan maupun saat bertemu konstituen. Hal ini agar Paslon tersebut tidak merasa terbebani secara psikologis maupun budgeting ketika melakukan sosialisasi.

Direktur Mi6 Bambang Mei Finarwanto SH didampingi Sekretarisnya, Lalu Athari Fadlullah, SE melalui siaran persnya, Minggu (10/12), menilai Pilkada NTB masih lama. Paslon harus lebih focus memperoleh kepastian dukungan Parpol pengusung agar investasi politik di konstituen tidak sia sia. “Banyak paslon yang terkesan jor-joran melakukan pencitraan tapi kemudian kandas karena tidak memperoleh dukungan parpol,” timpal Athar—sapaan Sekretaris Mi6 sembari mengatakan keberadaan lembaga survei dan konsultan penting buat Paslon dalam memberikan advis politik dengan melihat probabilitas politik secara   terukur dan terarah.

Athar merasa prihatin dengan adanya beberapa Paslon yang akhirnya tidak tampil dalam pentas Pilkada karena salah kalkulasi dalam memetakan situasi politik yang ada. Padahal secara kapasitas para Paslon yang tidak jadi tampil tersebut mumpuni. “Itulah politik segala sesuatunya mungkin terjadi karena ukuran yang dipakai menilai kelayakan calon yang hendak diusung banyak variabel,” lanjut Athar.

Edukasi Moral Politik

Didu—panggilan singkat Direktur Mi6, menambahkan bahwa pergerakan para Paslon Kepala Daerah di basis konstituen, terkesan cenderung memanjakan pemilih. “Secara politik, mengintertain konstituen untuk meraih dukungan tidak salah, tapi harus terukur dan jelas komitmennya agar tidak sia sia,” ujar Didu sembari menyatakan sudah saatnya pemilih harus mengerti dan bertanggungjawab secara moral dalam memaknai atensi para Paslon dalam momentum Pilkada ini.

Baca Juga  Ratusan Bikers Ditantang Taklukkan Track Sembalun

Lebih jauh diungkapkannya, para Paslon dan tim sukses secara berkala perlu membuka ke publik tentang proses politik yang sudah dilakukan baik bersama konstituen maupun progress perkembangan dukungan dengan parpol pengusung. Hal ini agar publik bisa melihat kepastian calon yang tampil dari sumber pasti agar tidak menimbulkan spekulasi politik. “Hendaknya para Paslon membuka informasi dukungan politiknya ke publik agar tidak menjadi bahan spekulasi yang sia sia,” ujarnya.

Terkait soal anggaran kampanye politik, Didu setuju para Paslon tersebut untuk berhemat, cermat dan tidak memanjakan konstituen demi gengsi dan prestise. Masyarakat harus diedukasi secara moral politik lewat program visi misi yang menyentuh hati dan kepentingannya, bukan dengan pragmatisme sesaat yang kerap tidak berdampak pada keberlanjutan pilihan politiknya kelak. (*)

dukacita dukacita bankntb