Bupati Sumbawa Marah Besar Soal Beredarnya Pupuk Palsu

oleh -20 views
Bupati Sumbawa, HM Husni Djibril B.Sc

SUMBAWA BESAR, SR (29/11/2017)

Bupati Sumbawa, HM Husni Djibril B.Sc sangat geram dengan informasi adanya peredaran pupuk palsu di kalangan petani. Karena itu pemerintah daerah melalui dinas terkait harus bergerak dan melakukan tindakan tegas. “Jika benar informasi itu, ini tidak boleh dibiarkan harus cepat dicegat dan ditindak,” tegas Bupati yang ditemui usai menghadiri Acara Pengukuhan Pengurus DPC Partai Demokrat di Hotel Parahiyangan, Rabu (29/11).

Upaya cepat yang dilakukan pemerintah ini sangat penting, agar tidak menimbulkan kerugian di kalangan petani. Apalagi ungkap Bupati, petani sudah mulai memasuki musim tanam pertama. Bahkan Bupati menyatakan, siapapun yang bermain dan mengedarkan pupuk palsu, akan berhadapan dengannya. Tidak ada toleransi yang akan diberikan. “Jangan main-main, ini akan berhadapan dengan saya selaku Bupati Sumbawa,” tegasnya seraya meminta para pihak terkait dalam pengawasan pupuk agar segera menyelesaikan permasalahan peredaran pupuk palsu tersebut.

Sebelumnya Kadis Pertanian Kabupaten Sumbawa, Ir Tarunawan SP menengarai adanya peredaran pupuk palsu. Pupuk yang diduga palsu ini ditemukan di lapangan dan sudah diedarkan. Ini sangat merugikan petani. Ada dua modus pemalsuan atau penipuan pupuk ini. Pertama, tidak terdaftar di Kementerian Pertanian dan tidak memiliki izin edar, namun pupuk itu diproduksi dan diedarkan. Pupuk palsu ini relatif menggunakan merk yang hampir sama dengan pupuk legal pemerintah. Misalnya pemerintah mengeluarkan MPK Ponska, dia mengeluarkan yang hampir mirip dengan merk tersebut. Modus kedua, memiliki izin resmi dan izin edar dari Kementerian. Misalnya ada sebuah produk pupuk yang kandungan kemasannya tertera N 26, P 20, dan K 20. Ketika pengusaha itu mengurus izin syaratnya harus menyertakan sempel produknya apakah benar kandungan sesuai yang tertera di kemasan. Ketika pupuk edarannya dilakukan ujilab di pertanian atau lembaga pemerintah, terungkap kandungan di dalamnya tidak sesuai dengan kandungan di kemasan. “Ada satu sampel yang kita temukan di lapangan, menurut label di kemasan tertulis N 26, K 15, P 15. Tapi setelah dilakukan uji lab hanya satu persen di masing-masing bagian. Nah ini kan pemalsuan namanya meski perusahaan itu memiliki izin. Trik yang dilakukan dan disampaikan kepada petani adalah ketika menggunakan pupuk itu harus disertai dengan urea. Sebab apa saja yang disertai urea pasti bagus, ini karena unsure ureanya bukan pupuknya. Coba kalau tanpa urea, pupuk itu sama dengan kita membuang pasir atau tanah ke tanaman kita,” sesal Tarunawan. (JEN/SR)

 

dukacita dukacita bankntb
Baca Juga  Manfaatkan Momen Covid untuk Membeli dan Membela Produk Lokal