Seru Acara NgomPol Bareng Djoko Edhi Abdurahman

oleh -6 views

MATARAM, SR (28/11/2017)

MI6 kembali membuat gebrakan cerdas dengan menghadirkan Tokoh Oposisi Nasional, Djoko Edhie Abdurahman. Dalam kesempatan tersebut, Djoko mengulas sejumlah problematika bangsa dan negara Indonesia dalam beragam perspektif. Acara tersebut dikemas dalam tajuk Ngomong Politik (NgomPol) bareng Djoko Edhie Abdurahman–Wakil Sekretaris Lembaga Penyuluhan  Bantuan Hukum PB NU, yang digelar di Kantor MI6, Selasa, 28 November 2017. Acara dipandu aktivis Walhi, Ahmad SH.

Djoko membuka pemaparannya dengan mengulas perkembangan interpretasi terhadap Pancasila dari berbagai rezim yang pernah berkuasa di Indonesia. Menurut Djoko, setiap rezim selalu memiliki tafsir tunggal terhadap Pancasila. Ia mencontohkan, pada zaman Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto, Pancasila menjadi ideologi yang dipakai untuk menghabisi ideologi komunis yang ada di tubuh PKI. “Zaman Orde Baru, Pancasila dijadikan senjata oleh Orde Baru, PKI habis,” ujarnya.

Saat inipun, menurutnya Pancasila juga ditafsirkan oleh rezim yang berkuasa. Sayangnya, Djoko menilai penerapan semangat Pancasila justru digunakan untuk bersenyawa dengan kekuatan-kekuatan asing yang kemudian diwujudkan dalam berbagai kesepakatan global. Bahkan, salah satu kesepakatan yang melahirkan globalisasi, justru dibuat di Jakarta pada medio 1990-an, dengan digelarnya pertemuan APEC. “Jangan lupa, globalisasi yang kita rayakan hari ini tidak lahir di barat, di timur, tapi lahirnya di Jakarta,” kata Djoko.

Mantan Anggota DPR RI ini juga mengutarakan perkembangan politik mutakhir yang melibatkan sejumlah kekuatan Islam. Djoko menyoroti adanya gejala untuk membangun definisi unik dari radikalisme Islam untuk menekan kekuatan-kekuatan Islam yang berseberangan dengan pemerintah. Menurut Djoko, radikalisme di Indonesia saat ini memang terkesan unik. “Tadinya radikalisme hanya diasosiasikan dengan terorisme. Tapi sekarang ustadz yang ngomong terlalu keras juga dibilang radikalisme,” imbuhnya.

Baca Juga  Maju Pilkades, Herman Siap Wujudkan Penyaring Bebas Kemiskinan

Djoko juga mengulas sejumlah fragmen pertarungan kekuatan barat yang diwakili Amerika Serikat dengan China dalam mempengaruhi kebijakan ekonomi Indonesia. Hal ini misalnya terlihat dari kesepakatan bersama Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) yang diteken oleh Presiden Joko Widodo. AIIB, menurut Djoko, merupakan salah satu dari tiga bank milik China.

Djoko menilai di Indonesia sendiri saat ini, pertempuran antar kekuatan di Indonesia untuk mempengaruhi rakyat juga sudah bergerak maju. Salah satunya terlihat dari penggunaan media sosial yang cenderung lebih marak ketimbang penggunaan media konvensional. “Kalau yang mainstream kan sudah bisa diatur. Kalau sosmed kan nggak bisa diatur. Pemerintah aja kelabakan mengatur sosmed itu. Muncullah hoaks-hoaks itu,” tukasnya.

Padahal, lanjutnya, hoaks paling efektif justru dibuat oleh pemerintah. “Nggak ada hoaks itu dari masyarakat. Kalau dibuat masyarakat, kan kita bisa cek,” tutupnya. (*)

dukacita dukacita bankntb