Mengapa Batu Lanteh Butuh KUR dan KRABAT ???

oleh -8 views

Penulis : Iying Gunawan–Pemerhati Sosial.

SUMBAWA BESAR, SR (10/11/2017)

Hal pertama yang harus disampaikan adalah apreasiasi yang setinggi-tingginya kepada Bupati Sumbawa, H. Husni Jibril, B.Sc. Di tangan beliau Batu Lanteh memiliki tempat khusus. Banyak rasa terima kasih, kagum dan bahkan ada yang menitip salam kepada beliau dari masyarakat Batu Lanteh. Sebuah fakta harus diungkap tanpa mengurangi rasa terima kasih, dengan segala bentuk anggaran infrastruktur yang luar biasa, namun di sini, bahwa Batu Lanteh bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga masalah ekonomi, sosial, budaya, politik, manusia, peternakan, pariwisata dan masih banyak persoalan-persoalan lainnya seperti pada wilayah Sumbawa pada umummnya. Dan Batu Lanteh tidak ingin tertinggal seorang diri, Pemimpin harus peka terhadap hampir 11.000 jiwa yang hidup di sini. Konsistensi dan ketangguhan yang membuat Batu Lanteh bertahan di tengah ketimpangan kebijakan. Namun di sini akan diuraikan tentang ekonomi, karena esensi manusia tidak bisa lepas dari kebutuhan yang tidak pernah berakhir dan tak terbatas tanpa jeda waktu.

Dari berbagai sumber disebutkan bahwa target pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sumbawa di bawah kepemimpinan Husni-Mo adalah 6,83 % pertahun, dan sampai tahun kedua saat ini sepertinya angka tersebut belum tersentuh, hanya bermain di angka 6% ke bawah, berarti ada daerah potensial yang belum dikelola secara maksimal, Batu Lanteh bisa jadi salah satunya.

Melihat dari sisi topografi, Batu Lanteh memang berupa perbukitan dan cenderung terjal walau beberapa bagian kecil landai, ketinggian tanah berkisar 250-800 mdpl dengan iklim antara 24-28 derajat celcius. Namun ini bukan alasan bila Batu Lanteh tidak memiliki potensi sama sekali. Faktanya Kecamatan terluas kedelapan di Kabupaten Sumbawa ini menjadi produsen kopi terbesar di NTB. Ribuan ton kopi dihasilkan tiap tahun, 4.568,99 ton untuk produksi kopi Kabupaten Sumbawa tahun 2014 secara keseluruhan (BPS “Nusa Tenggara Barat Dalam Angka”, 2015) atau 41% dari produksi kopi NTB, bahkan satu desa di Batu Lanteh seperti Batu Rotok saja mengalahkan produksi kopi tiap Kabupaten di NTB. Pasarannya pun juga cukup luas dan kopi dari Batu Lanteh memiliki aroma khusus bagi mereka pecinta buah pengandung caffein ini.

Di sinilah menariknya, Pemerintah Daerah hanya mengenal Batu Lanteh dari sektor Agraria, padahal Penduduk “Negeri di Atas Awan” ini selain petani kopi, juga sebagian merangkap sebagai peternak. Mereka yang double profesi berbanding terbalik dengan mereka yang tidak dari segi kesejahteraan. Peternak Batu Lanteh tidak tanggung-tanggung, bahkan ada yang memiliki sampai ratusan ekor. Kalau digali dengan serius, Batu Lanteh berpotensi menjadi pusat Peternakan terbesar di NTB. Tidak main-main, sebuah wilayah bernama Batu Api di Desa Tangkampulit merupakan kawasan yang pasif untuk pertanian baik kopi atau buah-buahan lainnya, namun memiliki mata air yang melimpah, permukaan tanah terjal landai dan kisaran luasnya secara keseluruhan mencapai 1.300 Ha, dan sangat cocok untuk peternakan. Penduduk setempat lebih menginginkan peternakan dibanding pertanian di wilayah ini, apalagi posisinya yang strategis karena terletak di antara dua dusun, yaitu Tangkampulit dan Sukamaju. Pemerintah desa setempat akan mendukung penuh apabila ada keseriusan Pemda. Bukan hanya Batu Api, masih banyak kawasan Batu Lanteh lainnya yang belum dieksplore dan cocok untuk peternakan. Kabaru di NTT dan Padang Mengatas di Sumbar adalah kawasan Peternakan Terbesar di Indonesia yang masing-masing memiliki luas 520 ha dan 280 ha, dapat dibayangkan posisi Sumbawa kalau Kawasan Peternakan Batu Api terealisasi. Bila merujuk pada trend terakhir, progres NTT nampak lebih serius menggali potensi peternakan sebagai sektor andalan perekonomian mereka dibanding NTB. Padahal NTB lebih mampu berakselarasi dalam sektor peternakan dengan ditunjang Program Pijar dari Provinsi, apalagi Kabupaten Sumbawa memiliki segalanya. Dengan total luas 33 % dari daratan NTB, Kabupaten Sumbawa harusnya mampu menunjukan inovasi di tengah keterpurukan Pemerintah Pusat menyediakan kebutuhan daging nasional. Seperti pada tahun 2015, 36% kebutuhan daging Nasional masih impor, artinya ada 1.398.210 ekor sapi diproyeksikan oleh pemerintah dari luar negeri (www.beritasatu.com “Defisit Daging Sapi”,2015). Bila harga daging sapi Rp. 120.000/kg, maka pemerintah mengeluarkan Rp 71 milyar perhari hanya untuk kebutuhan daging. Angka yang sangat mubazir manakala kita sendiri mampu mandiri.

Baca Juga  Dapat Mobil Undian Britama Festival, Nasabah BRI ini Kaget dan Jatuh Sakit

Tidak seperti membalikkan telapak tangan untuk mengadopsi sebuah rencana besar, jika pemerintah serius menggali potensi peternakan Batu Lanteh dengan Program KUR Ritel yang bersistem Investasi, ditambah Program Pijar, saya yakin 5 Tahun ke depan hasilnya akan menjadi fakta untuk pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sumbawa mencapai 6,83%.

Mengacu kepada fakta di atas, mengapa sektor Pertanian dan Peternakan Batu Lanteh yang sudah berjalan puluhan tahun nampak stagnan? Banyak faktor, namun yang paling berpengaruh hanya dua, pertama masalah modal dan kedua infrastruktur. Itulah yang ingin Penulis sampaikan, jika saja kedua hal ini bisa terpenuhi oleh pemerintah, maka beberapa tahun kedepan Batu Lanteh akan menjadi sebuah “Kawasan Ekonomi Baru” di Indonesia di sektor Pertanian dan Peternakan. Pertanyaan selanjutnya, kenapa skill atau keterampilan dikesampingkan dalam hal ini, bukankah karena kurangnya skill masyarakat Batu Lanteh yang membuat kopi dan ternak mereka tidak berkualitas dan berkembang ? begitulah stigma sebagian besar pejabat dan masyarakat Sumbawa lainnya menilai Batu Lanteh, sepintas memang benar. Begini uraiannya, di era globalisasi dan canggih ini, segala kebutuhan meningkat dan terkadang tanpa toleransi, maka pada saat itu juga Batu Lanteh dengan segala keterisoliran dan ketradisionalan mencoba melawan waktu. Panen raya kopi sekali setahun dan menurut para pakar bahwa kopi harus di panen dalam keadaan benar-benar masak, cara petik yang benar satu persatu agar terpilih kopi yang benar-benar merah, dikeringkan dengan sempurna, segala macam perawatan dan pengolahan harus penuh kehati-hatian dalam standarisasi agar menghasilkan kopi yang sempurna dan bercita rasa khas, itulah rumusnya. Namun siapa yang bisa menerapkan sebuah teori ketika kebutuhan benar-benar mendesak di tengah pedalaman? Tidak ada solusi, tidak ada Koperasi, tidak ada layanan perbankan, tidak ada pemerintah, tidak seorangpun datang membantu, kecuali riba dan riba dengan segala bentuk wujud misteriusnya yang mematikan.

Baca Juga  ACT Terinspirasi Sumur Wakaf Ustman bin Affan

Tidak sampai di situ, pinjaman bankpun kalau bersifat komersil tidak relevan bagi masyarakat Batu Lanteh, untuk mobilisasi ke Sumbawa saja tanpa persiapan matang maka akan tinggal rencana, di musim penghujan minimnya persediaan anggaran harus Rp. 1.200.000/orang hanya untuk biaya transportasi. Angka tersebut melebihi bunga KUR satu tahun dengan nilai nominal pinjaman Rp. 20.000.000,00, fantastis.

Sumbawa adalah Kabupaten besar, namun kebijakan kita tidak cukup “besar” melihat Batu Lanteh yang menjerit melawan waktu sekian lama. Saatnya pemerataan sudah harus dilakukan di segala bidang di Bumi Sabalong Samalewa, saatnya pelayanan KUR dan Kredit Sahabat tanpa harus ditunda tunda lagi ke wilayah Batu Lanteh. (*)

dukacita dukacita bankntb