TGB: Bangun Optimisme dan Kuatkan Interaksi yang Mendamaikan 

oleh -6 views

BOGOR, SR (29/10/2017)

Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi mengajak seluruh umat Islam untuk membangun optimisme dalam setiap berinteraksi dengan siapapun. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, ketika membangun Kota Madinah. Di samping optimisme, interaksi sesama manusia menurut Gubernur yang lebih akrab disapa Tuan Guru Bajang  (TGB)  juga harus dibangun dengan semangat islah, yaitu mendamaikan. Interaksi itu jika digambarkan dalam bentuk piramida, maka tahapan pertama, adalah interaksi yang dilandasi dengan kesamaan latar belakang. Kedua interaksi atas fondasi kesamaan visi, lalu pertautan hati, hati yang bersih dengan memahami kekurangan masing-masing atau saling mengisi dan memaafkan. Terakhir, interaksi yang dilandasi mawaddah, yang dibangun atas landasan kepentingan orang banyak. Kasih sayang satu sama lain yang tidak terbatas.

Tuan Guru Bajang menguraikan hal itu dalam tausiyahnya usai menunaikan sholat subuh berjama’ah di Masjid Jami’ Darussalam Kota Wisata, Bogor Provinsi Jawa Barat, Sabtu (28/10). Saat itu Gubernur TGB hadir untuk memenuhi undangan Tablig Akbar yang digelar pengurus masjid setempat.

Di hadapan sekitar 600 jama’ah, TGB  menegaskan bahwa optimisme dan interaksi yang mendamaikan itulah sesungguhnya letak kekuatan Islam. TGB menguraikan dua ayat dalam Surah Al-Hujurat, yaitu ayat 9 dan 10. Ayat 9 Allah manyampaikan kalau dua kelompok beriman berperang, maka islahkan (damaikan). Ayat ini dalam skala besar, membahas perselisihan antara dua kelompok. Sedangkan Ayat 10, Allah menjelaskan sesungguhnya orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah. Dua ayat tersebut perlu ditadaburi dan menjadi bahan renungan dalam setiap interaksi dengan orang lain. Terutama, bagaimana membangun interaksi yang mendamaikan. “Kalau dua ayat ini diletakkan dalam kaca, maka pertanyaannya adalah kapan kita sudah mendamaikan orang, karena dua ayat ini tidak hanya berbicara soal kesholehan pribadi, tetapi persoalan mendamaikan orang lain. Orang sholeh hanya membangun kepribadian diri, namun Islah diminta dan diperintahkan untuk Islah untuk orang lain. Tugas kita adalah bagaimana mendamaikan. Bukan sebaliknya,” ungkap TGB.

Baca Juga  Wagub NTB Soroti Harga Cabai

Sebab, lanjut TGB, kalau tidak ada langkah-langkah untuk mendamaikan perselisihan, maka akan merusak apa-apa yang baik dalam diri umat Islam. Apa kebaikan itu ? Yaitu kebaikan yang sudah disebarkan oleh Allah SWT di atas permukaan bumi ini. Sebagaimana air hujan yang menyirami tanah tandus, yang semua tidak bisa membedakan tetesan mana yang menumbuhkan. “Ini merupakan pengingat bagi kita, kebaikan itu sudah disebarkan oleh Allah di seluruh permukaan bumi. Sehingga, kebaikan itu menggambarkan bahwa tidak ada ruang bagi ulama untuk tidak menerima kebenaran dari orang lain. Kalau terjadi sesuatu dalam umat, mari kita belajar untuk mendamaikan. Sebagaiman risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW,” ucapnya.

Namun, TGB mengingatkan bahwa mendamaikan itu tidak selamanya berbanding lurus dengan ketinggian ilmu seseorang. Kadang kondisi itu dapat menghilangkan keobjektifan seseorang dalam memutuskan sesuatu. Sebagaimana yang terjadi pada sahabat-sahabat Nabi. Karena itu, TGB mengajak seluruh jam’ah untuk menumbuhkan semangat menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat. “Sekecil apapun persoalan dan perselisihan itu. Karena, perselisihan yang besar sering kali dimulai oleh perselisihan yang kecil,” demikian TGB. (JER/SR)

dukacita dukacita bankntb