Mi6: Cabut Dukungan dari Ali BD, PDIP NTB Gentle

oleh -9 views
Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto SH

MATARAM, SR (27/10/2017)

Langkah politik yang diambil PDIP NTB mencabut dukungan terhadap Ali BD sebagai langkah yang gentle untuk menjaga marwah atau kehormatan partai di mata konstituen. Dengan mengambil sikap politik seperti ini, PDIP NTB akan tetap dihargai dan dihormati. Demikian dikatakan Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto SH melalui siaran pers yang disampaikan ke media ini, Jumat (27/10) kemarin.

Apa yang dilakukan PDIP lanjut Didu—sapaan Direktur Mi6 ini, tidak bisa dikatakan “kekalahan” politik tapi lebih tepat sebagai upaya untuk memastikan standing politik moncong putih dalam dinamika politik pilkada yang cepat dan dinamis. “PDIP ingin memberikan pelajaran etik dan moral politik yang baik ke publik tentang makna take and give dalam pengertian yang sesungguhnya,” ujar Didu.

Didu mereview perjalanan politik sebelumnya bahwa PDIP sudah membuat call politik yang tinggi terhadap Ali–Selly yang ditetapkan dalam forum Rakerda partai. Ini artinya secara politik, PDIP memberikan kehormatan dan legalitas terhadap paket tersebut. “Pasti sudah ada komunikasi politik sebelumnya, sehingga PDIP NTB mengumumkan Paket Ali-Selly di forum Rakerda. Ini call politik yang tinggi,” ujarnya sembari menambahkan ini tidak pernah terjadi di era pilkada sebelumnya PDIP mengumumkan paket calon yang didukungnya di forum Rakerda.

Paska penetapan paket Ali-Selly ini justru terkesan opini yang berkembang Cagub Ali BD melakukan buying time. Statement politiknya di media terkesan tidak tegas dan multi tafsir. “Padahal PDIP inginnya Ali BD on the track dengan Selly sebagaimana komitmen awal,” sambungnya menganalisis.

Baca Juga  PKK NTB Perangi Narkoba dan Laksanakan Bedah Rumah Warga Miskin

Sementara itu sebagai bentuk komitmen dan kesungguhan, PDIP melalui kader menggalang dukungan dan mensosialisasikan paket Ali-Selly di basis massa dengan sepenuh hati dan berdedikasi. “Tapi ini juga tidak membuat Ali segera mendeklirkan diri berpasangan Selly,” tambah Didu.

Belakangan muncul baliho-baliho Ali dengan cawagub lain. Bahkan di medsos muncul paket Ali-Sakti. Selain itu spekulasi berkembang bahwa Ali BD tidak memakai jalur partai tapi perseorangan. Dengan maraknya aneka ragam branding Ali BD dan cawagub lain dan statement politik Ali BD yang mengambang, secara psikologis politik tentu PDIP menganggap tidak elok dan kurang taktis. “Jadi wajar PDIP exite lebih awal dan menarik dukungannya,” tandas Didu.

Di sisi lain, Didu melihat bisa jadi dengan maraknya Cawagub lain ingin berpasangan dengan Ali BD dikarenakan ada daya tarik yang kuat pada diri Amaq Asrul ini. “Mungkin ini salah beban psikologis dari Ali BD yang tidak enak menolak atas semua niat Cawagub lain yang ingin disandingkan dengannya,” jelas Didu berargumentasi.

Terakhir Didu menggarisbawahi bahwa setidaknya PDIP NTB sudah memberikan perspektif politik kepada publik. Bahwa dalam politik itu komitmen di awal harus paralel dengan komitmen di akhir. “Kesatuan sikap dan bahasa penting untuk memastikan kerja-kerja politik di basis terukur dan punya target yang berkepastian,” pungkasnya. (*)

dukacita dukacita bankntb