Mahasiswa UTS Diwisuda Perdana, Menristek Dikti Jadi Saksi

oleh -50 views

Doktor Zul: Kami Tidak Ingin Alumni UTS Jadi Penganggur

SUMBAWA BESAR, SR (27/10/2017)

Sebanyak 148 mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) yang berasal dari 6 fakultas diwisuda, Jumat (27/10) sore tadi. Para mahasiswa yang didampingi orang tuanya ini merupakan mahasiswa Angkatan I. Rasa haru, bangga dan bahagia mewarnai suasana di GOR UTS—yang dijadikan pusat kegiatan yang digelar perdana ini. Wisuda tersebut mnenjadi istimewa karena disaksikan langsung Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristek Dikti) RI, Prof. Dr. M Natsir beserta jajarannya. Hadir juga Bupati Sumbawa, HM Husni Djibril B.Sc, Pendiri UTS Dr. H. Zulkieflimansyah, Ketua Yayasan Dea Mas, Ny. Niken Zulkieflimansyah, Direktur Science Techno Park (STP) Dr. Arif Budi Witarto, Kapolres Sumbawa, AKBP Yusuf Sutejo SIK MT, sejumlah Kepala SKPD dan tokoh masyarakat.

Rektor UTS, Dr. Andy Tirta mengawali sambutannya mengatakan, Wisuda Perdana ini adalah momen paling penting dan berharga untuk keluarga besar UTS. Momen ini juga sangat membahagiakan tidak hanya dirasakan para wisudawan tapi juga orang tuanya yang mengerahkan seluruh energi, semangat dan usaha untuk memotivasi dan menyelesaikan pendidikan anak-anaknya. Banyak suka duka dihadapi para wisudawan selama perjalanan dalam menyelesaikan studi di bangku kuliah. Dan wisuda ini menjadi puncak perjalanan tersebut sekaligus bukti bahwa mereka mampu melewati itu semua. Namun demikian para wisudawan ini tetap menjadi bagian dari UTS. Maju mundurnya Kampus Elang tersebut menjadi tanggung jawab bersama. “Mari kita lebih kuat lagi membangun peradaban ini. Ingatlah visi kita berusaha sekuat tenaga menjadikan UTS sebagai rumah pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan untuk tumbuh utuh sebagai seorang manusia yang memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk semesta alam,” tandasnya.

Hal senada dikatakan Pendiri UTS, Dr. H. Zulkieflimansyah SE., M.Sc, bahwa wisuda perdana adalah hari yang sempurna bagi para wisudawan UTS. Wisuda yang dilakukan hari ini juga untuk orang-orang istimewa. Sebelumnya UTS datang dengan konsep berbeda dan di awal berdirinya direncanakan hanya 10 orang mahasiswa direkrut untuk satu program studi, tentunya orang terbaik dan pilihan. Sebab nama UTS tidak akan harum dan tidak menjadi besar jika calon mahasiswa yang direkrut pertamakali ini adalah orang biasa-biasa. Ini artinya mereka yang lolos menjadi mahasiswa UTS telah melewati seleksi yang luar biasa. “Jadi yang kita wisuda hari ini merupakan orang terbaik, dan orang terpilih, yang akan berkonstribusi besar buat NTB, dan Indonesia yang kita cintai ini,” imbuhnya.

Baca Juga  20 Guru Jadi Kepsek, 4 Kepsek Jadi Guru Biasa

Selain itu hal ini berangkat dari kesadaran bahwa IPM (human development indeks) NTB paling rendah di Indonesia. Ini terjadi bukan karena standar hidup rendah, tapi karena mayoritas lulusan terbaik di NTB melanjutkan studi di Pulau Jawa. Sebagian besar dari mereka tidak kembali dan menetap di negeri rantau. Satu-satunya cara mengatasi persoalan ini adalah bagaimana menghadirkan lembaga pendidikan tinggi yang bagus yang bukan hanya membanggakan putra-putri Sumbawa untuk tetap kuliah di daerah sendiri, tapi juga bagaimana mahasiswa dari seluruh Indonesia datang menimba ilmu di UTS.

Di bagian lain, Doktor Zul—sapaan akrabnya, menyatakan tidak ingin mahasiswa UTS yang diwisuda hari ini menjadi penganggur di masa mendatang. UTS ke depan sangat tergantung pada wisuda yang pertama ini. “UTS tidak akan punya gengsi di masyarakat jika lulusan pertamanya ini menjadi penganggur, bawa map kemana-mana dan merengek minta pekerjaan. Kami ingin wisudawan pertama ini jadi contoh kongkrit. Jika tidak bisa memperoleh pekerjaan, ciptakan pekerjaan itu buat orang lain. Intinya setiap ada keinginan pasti akan ada jalan,” ujarnya. Bagi yang ingin bekerja, sambung Doktor Zul, langkah pertama membidik perusahaan besar di luar daerah. Kemudian membuat target 5 tahun bekerja di perusahaan besar, harus berencana membuat perusahaan sendiri. Bagi yang ingin menjadi dosen, lulusan UTS harus melanjutkan study. Namun Doktor Zul tidak ingin lulusan pertama tersebut sekolah di dalam negeri, melainkan di luar negeri. “Jadi maju tidaknya UTS bukan ditentukan oleh dosen-dosennya, tapi bagaimana hebatnya alumni berkiprah di pentas nasional dan dunia di masa akan datang. Saya bayangkan, 5 tahun ke depan anda kembali ke sini sebagai doktor-doktor baru atau sebagai pengusaha kaya raya yang bisa menyulap kota kita ini menjadi begitu indah, atau menjadi rumah pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan untuk tumbuh utuh sebagai manusia dan bermanfaat bagi sesama,” tandasnya.

Baca Juga  Berpakaian Adat Sumbawa, Menristek Jadi Inspektur Upacara di UTS

Dr. Arif Budi Witarto—pelaku sejarah yang juga Rektor UTS sebelumnya, menuturkan, empat tahun yang lalu kawasan Bukit Olat Maras merupakan ladang penggembalaan ternak, dan lahan kering yang tidak produktif, namun memiliki potensi yang luar biasa. Dari tempat inilah muncul keinginan kuat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dengan membangun sebuah lembaga pendidikan tinggi yang kini dinamakan UTS. Sebab ilmu pengetahuan itu intinya SDM bukan fasilitas dan gedung yang mewah. Karena itu UTS didirikan harus memiliki perbedaan dari yang lain agar orang tertarik datang dan menimba ilmu. Dikatakan Doktor Arif—sapaan ilmuwan dunia jebolan Jepang ini, sejak dipercaya menjadi Dekan Bioteknologi yang kemudian diangkat menjadi Rektor UTS menggantikan Doktor Zul, yang pertama dilakukannya adalah membangun kepercayaan diri mahasiswa. Dari percaya diri inilah muncul motivasi untuk berprestasi. Berbagai prestasi tidak hanya nasional tapi juga internasional diraih termasuk prestasi prestisius iGEM—kompetisi biologi dunia yang digelar di Amerika Serikat dan berhasil membawa pulang 4 penghargaan. Selain itu menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga dari dalam dan luar negeri. Hasilnya 14 dosen UTS mendapat beasiswa melanjutkan study di Jepang dan belahan Eropa. Sebab dosen yang hebat akan melahirkan mahasiswa yang hebat pula. “Sekarang estafet ini saya serahkan kepada Bapak Dr Andy Tirta. Ibarat sepeda yang sudah berjalan tinggal dikayuh agar berlari kencang. Tidak untuk menjadi the number one, tapi jadilah the only one,” demikian Doktor Arif. (JEN/SR)

dukacita dukacita bankntb