Wabup Sebut Pengembangan Pariwisata KSB dan Bali Berbeda

oleh -5 views
Wakil Bupati KSB, Fud Syaifuddin ST

KERJASAMA SAMAWAREA DENGAN HUMASPRO KABUPATEN SUMBAWA BARAT

SUMBAWA BARAT, SR (24/10/2017)

Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat bingung dalam pengembangan pariwisatanya yang  mayoritas penduduknya muslim yang tentunya linier dengan adat istiadatnya. Sedangkan di Bali masyarakatnya mayoritas non muslim sehingga tidak heran budaya mereka dengan keberadaan turis tidak terganggu. Hal ini diungkapkan Wakil Bupati Sumbawa Barat Fud Syaifuddin ST di acara pembukaan Focus Group Discusion (FGD) tentang Pariwisata, Senin (23/10) kemarin.

Menurut Wabup, perkembangan pariwisata KSB tidak bisa disamakan dengan pesatnya pariwisata Bali. Pariwisata di Bali sangat didukung oleh agama dan budayanya. Sementara di KSB akan bertentangan dengan agama dan budaya masyarakat setempat. Sebab setiap wisatawan asing pasti banyak berbusana mini ala pantai di daerahnya. Pasti mereka mencari kafe tempat menjual minuman keras, karena itu budayanya. Sementara di KSB tengah gencar-gencarnya meningkatkan iman dan taqwa masyarakatnya. Dengan pengembangan pariwisata mengikuti budaya turis asing itu, pasti akan ditentang masyarakat KSB yang dikenal religious ini.

Jika berbicara obyek wisata di KSB, Fud—sapaan akrab Wakil Bupati KSB, sangat banyak dan potensial, serta tidak kalah dari daerah lain termasuk Bali. Seperti obyek wisata Kertasari, Lalar atau Jelenga dan lainnya dengan menyuguhkan panorama dan hamparan alam yang indah.

Karena itu melalui FGD ini perlu ada pemikiran dan upaya bersama untuk membangun pariwisata di KSB. “Kami harapkan dari FGD ini ada masukan yang baik untuk pemerintah daerah agar pimpinan daerah dapat memformulasikan aturan yang sangat tepat, dan tidak menjadi keputusan yang salah,” pintanya.

Baca Juga  Dipenjara di Malaysia, 14 TKW Asal Sumbawa Dipulangkan

Wabup juga mengajak peserta FGD bersama membangun KSB dengan melakukan peran dan fungsi masing-masing secara maksimal. Untuk mendukung pariwisata, pihaknya sudah memetakan mana yang menjadi ranah pemerintah kabupaten, kecamatan, desa, dan masyarakat itu sendiri. “Jadi dengan bergotong royong semua terasa lebih mudah,” tandasnya. (HEN/SR)

dukacita dukacita bankntb