Mi6: Rakyat Perlu Digerakkan Berswadaya Dalam Pilkada

oleh -10 views
Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto SH

MATARAM, SR (22/10/2017)

Momentum Pilkada serentak 2018 haruslah dimaknai sebagai pesta politik rakyat untuk memilih calon pemimpin daerahnya dengan baik. Untuk itu rakyat juga harus didorong untuk berswadaya secara kolektif dan bergotong royong membantu calon pemimpin daerah yang dipandang memiliki kepedulian dan keberpihakan kepada nasib rakyat. Demikian dikatakan Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto SH dalam siaran pers terkait Pilkada serentak 2018, Minggu (22/10).

Menurut Didu, panggilan akrab Direktur Mi6 ini, mendorong keswadayaan warga untuk berpartisipasi dalam menyemarakkan Pilkada serentak ini penting, agar rakyat memiliki ikatan emosional dengan calon pemimpin daerah yang memiliki track record yang baik. “Dengan membangkitkan budaya bergotong royong dalam membiayai kampanye calon pilihannya, setidaknya meringankan beban cost politik dari para calon,” ujarnya.

Didu tidak menampik jika upaya mendorong keswadayaan dari rakyat membiayai konstestasi Pilkada bukanlah hal yang mudah. “Mindset rakyat sudah dibiasakan bahwa ajang politik dijadikan arena transaksional dukungan. Untuk itu transaksional suara harus ditiadakan agar calon pemimpin daerah tidak terbebani secara finansional,” ujarnya.

Salah satu upaya menghapus money politik, lanjut Didu, dengan cara memperbanyak pendidikan pemilih atau civic education. “Perlu waktu, tapi harus dimulai disertai reward dan punishment agar ada effect jera,” ungkap Didu.

Mi6 mengamati ada fenomena menarik di Lombok Timur (Lotim). Di Desa Tongton Suit misalnya, sudah ada gotong royong dari warga desa untuk membantu sosialisasi Paket SukMa. Mereka beranggapan ini bentuk penerimaan warga desa atas tampilnya Sukiman Azmi dalam Pilkada Lotim. “Kami berswadaya mencetak stiker SukMa dengan cara urunan,” ujar Muhksin dari Dewan Masyarakat Sehat Lotim.

Baca Juga  PDIP Belum Pasti Dukung Husni Jibril

Sementara untuk Pilgub NTB, Mi6 melihat semua Cagub dan Cawagub dipastikan akan mendorong semangat keswadayaan pada loyalis konstituennya. Selain karena luasnya wilayah, karena calon yang tampil memiliki latarbelakang dengan kekhasan fanatisme pendukungnya.

Saat Mi6 bertemu dengan Cagub Suhaili FT misalnya, dia mengatakan bahwa semua alat peraga kampanyenya disumbang dan dibuatkan oleh para loyalis vottersnya. “Saya tidak memiliki kekayaan yang besar, APK itu sumbangan semua,” kata Suhaili yang juga Alumni Ponpes Yatofa NU.

Selain itu saat paket Ahyar Mori deklarasi di Lotim beberapa waktu lalu terlihat bagaimana rakyat berduyun duyun memenuhi arena acara. “Ini salah satu bukti kongkret adanya kolektivitas keswadayaan rakyat yang terorganisir dengan baik,” sambung Didu.

Terakhir kata Direktur Mi6, jika Siti Rohmi jadi diusung Demokrat tampil dalam ajang Pilgub NTB, maka jamaah NW tentu tidak akan tinggal diam. Jamaah NW pasti akan bahu membahu bergotong royong memenangkan Siti Rohmi seperti sepuluh tahun lalu memenangkan Paket TGB dan Badrul Munir. “Begitulah hukum kausalitasnya, jika memiliki loyalis yang kuat dan militan,” pungkasnya. (*)

dukacita dukacita bankntb